Emphasis

Salah satu hal yang sering lalai diperhatikan dalam berkomunikasi dengan gambar adalah emphasis.

Apa itu emphasis, Har?

Emphasis adalah penekanan kepada area terkecil yang bisa dikenal pembaca. Emphasis berarti menghilangkan detail-detail yang walaupun bernilai informasi penting, tapi tidak akan diproses bagian visual dari otak kita. Yang diberi penekanan adalah bagian paling unik yang mampu diingat pembaca dalam sekejap.

Pusing nih, Har. Kok ngejelimet?

Begini, saya kasih saja contohnya. Misalnya kita dikasih soal seperti ini:

Buatlah sebuah gambar mobil!

Maka kebanyakan dari kita akan mengumpulkan detail-detail sebuah mobil seperti bodi, ban, lampu, supir, dan kacanya.

emphasis1.jpg

Lalu dikumpul dalam satu gambar utuh seperti ini:

emphasis2.jpg

Salahkah? Tidak.. detailnya cukup lengkap untuk disebut mobil. Singkatnya: benar, itu 100% mobil!

Tapi dalam bahasa gambar, yang kita kejar bukanlah masalah benar-salah. Bukan pula masalah detail-detail terkecil. Yang kita kejar adalah bagaimana gambar itu terlihat istimewa hingga bisa diingat sebagai mobil.

Contohnya gimana, Har?

Begini.. seandainya saya potong bagian tertentu dari mobil itu, seperti ini…

emphasis3a.jpg

…atau seperti ini…

emphasis3b.jpg

atau seperti ini….

emphasis4.jpg

…tidak ada yang bisa membantah kalau tiap gambar itu adalah mobil, kan?

Nah, inilah dasar emphasis. Kita bisa bercerita dengan mengambil hanya esensi dari sebuah benda.

Misalnya…. roda itu memang bagian penting dari sebuah mobil. Benar, logikanya adalah tidak mungkin mobil bisa jalan tanpa roda. Tapi seperti dalam contoh nomor dua, tanpa diperlihatkan roda pun kita sudah ngeh kalau itu mobil, kenapa tidak? Lah yang perlu diinformasikan kan cuma sebuah mobil, bukannya mobil yang harus bisa jalan. Bener, toh?

Lho, bukannya gambar itu semakin detail semakin bagus, Har?

Benar…. Itu syarat gambar yang bagus. Tapi kalau mau memakai gambar itu dalam komunikasi, kita juga harus memperhatikan hal ini:

  1. Dalam ruang gambar yang sempit, katakanlah 2 cm x 2 cm, percuma saja menampilkan gambar lengkap. Mata tidak akan setajam itu untuk memperhatikannya.
  2. Bagian visual dari pikiran kita hanya sanggup berkonsentrasi beberapa detik. Sementara gambar detail menuntut konsentrasi yang lama.
  3. Memori jangka panjang menghilangkan bagian detail. Kalau pun detail bisa diingat, akan cepat pula hilang.
  4. Otak manusia tidak bodoh. Kita punya kemampuan melengkapi bagian yang hilang dari gambar.
  5. Kita cenderung mengolah keseluruhan kesan daripada memelototi detail satu per satu. Lihat kembali bahasan saya mengenai gestalt.
  6. Untuk alasan yang agak sepele namun penting: gambar yang diperhatikan emphasisnya akan kelihatan jauh lebih artistik, daripada gambar lengkap namun terlihat datar, tak bernyawa.

Ho…begitu, ya?

Sudah mulai merasa “Aha….”? Sip!

Kalau sudah dihayati (bukan sekedar dihapal atau dimengerti saja lho), emphasis ini bisa bekerja dalam banyak hal. Bisa dalam lukisan, desain, foto, logo, hingga komik. Sampeyan bisa saja menerapkannya untuk ngeblog. Jadi pembaca bisa dengan cepat mengerti maksud gambar sampeyan, tidak perlu ngalor-ngidul menjelaskan.

Nah.. sekarang saya mau kasih kuis kecil dalam masalah Emphasis:

Mana yang lebih memperlihatkan beda Jakarta dan Shanghai? Dua foto ini:

kevin-aurelljakartaidwikipeedia.jpg
shanghai12userdenis_barthel.jpg

Atau dua foto ini?

shanghaiminxang11commonsfanghong.jpg
monasnlwikipediauserflyingbird.jpg

Jawaban dikumpul sebelum UAS. Bobot nilai 10%, yang tidak mengumpulkan dapat nilai T. Hehehehe.

*credit

1. Gambar Jakarta pandangan udara adalah buatan Kevin Aurell dari Wikipedia Bahasa Indonesia. Karya ini berhak cipta tapi dibebaskan un tuk menyebarkannya kepada siapa saja.

2. Gambar Shanghai pandangan udara adalah buatan Denis Barthel dari Wikimedia Commons. Karya ini di bawah lisensi Creative Commons share alike 1.0

3. Gambar perkampungan Shanghai dibuat Fanghong dari Wikimedia Commons. Karya ini dilisensi di bawah Creative Commons with attribution share alike + GFDL

4. Gambar Monas dibuat oleh Flyingbird dari Wikimedia Commons. Karya ini dilisensi di bawah Creative Commons with attribution share alike + GFDL

Iklan

7 Responses to “Emphasis”


  1. 1 Mardies 23 Februari, 2008 pukul 1:00 am

    Njlimet sekali Mas hariadhi ini. Dikiranya Mardies nggak mudeng, apa? 😀

    Soal foto, kayaknya keempatnya itu Jakarta semua deh. Foto pertama kelihatan ada gedung BNI ngintip. Foto kedua nggak mungkin di China. Kalau di China, lagit pun ditulisi “Made in China.” Di foto ketiga, itu pasti Pecinann di pinggir Banjir Kanal. Di foto keempat, anak kecil juga tau.

    Gimana? Mardies sudah nyicil 10 persen kan?

  2. 2 hariadhi 23 Februari, 2008 pukul 12:05 pm

    Nah, itu bukti mata manusia ga mampu mengolah semua detail satu per satu. Kita ngga ngejudge sebuah gambar dari tulisan-tulisan atau detailnya. Yang kedua itu beneran foto Shanghai, lho. Yang ketiga Pecinan di Banjir Kanal? buekekekekekek.. no comment dah.

    Itulah inti komunikasi visual, Mas. Dengn gambar, anak kecil sekalipun harus kita buat mengerti (jangan anggap anak kecil itu bodoh, lho. Secara visual mereka lebih pintar daripada kita, cuma belum bisa baca aja)

    Ga menyimak dari awal yah, penjelasannya? You dapat nilai D, mengulang tahun depan 😆

    hehehe becanda…

  3. 3 Nazieb 19 Maret, 2008 pukul 9:32 am

    Weh, ternyata begitu…

    Hmm… benar juga yah kalo dipikir-pikir..

    🙄

  4. 4 johanes 22 April, 2008 pukul 2:58 pm

    menurut saya foto 1 dan 2 tidak memvisualisasikan Shanghai atau Jakarta. Keduanya tidak bisa “berbicara” tentang jakartakah atau Shanghaikah… bahasa mas Har- kurang emphasis.
    Namun foto ke-4, seperti kasus mobil diatas, kita langsung bisa tau kalo itu adalah Jakarta, karena mengemphasis Monas, bagian tertentu saja dari Jakarta (bukan Jakarta secara menyeluruh seperti gambar 1). Demikian juga pada gambar 3, kita langsung mengidentikkan gambar ini dengan pecinan, dimana emphasisnya terletak pada lampion warna merah.. bagaimana? dapat A kah?

  5. 5 Hariadhi 23 April, 2008 pukul 9:10 am

    yak, si bos dapat cumi laude. Lulus terpuji, hik hik hik.

    (becanda lagi)

  6. 6 Sevlinda Rizky Maulydiana 15 Oktober, 2008 pukul 2:22 pm

    wah,,
    dari yang saya lihat, ternyata memang berbeda antara jakarta dan shanghai.
    itu semua dapat saya lihat dari latarnya yang berbeda.
    menurut saya itu bisa dilihat sesuai dengan maksud dari emphasis

  7. 7 ayu 7 September, 2009 pukul 7:56 am

    bagus benget…………… aku jadi negrti sekarang, apa itu emphasis,, tapi kurang lengkaop juga sich!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: