Karya Seni dan Kepercayaan Diri Bangsa

*halah, judulnya sok pakar™ banget….

Semalam saya terlibat percakapan ala warung kopi dengan cewek tengil satu ini. Kita mengeluhkan bagaimana orang Indonesia itu secara mental sebenarnya hobi dan senang sekali dijajah bangsa lain.

Saya jadi ingat satu ilustrasi tentang keadaan seperti ini dalam sebuah pameran. Anggaplah dua seniman, Pak X dan Mr. Y sedang buka pameran di Galeri Nasional. Pak X itu pelukis wong ndeso asli Indonesia, sedangkan Mr. Y bule pegang kuas. Secara kualitas sebenarnya mereka sama.

Kemudian datang seorang kaya baru. Ya, seorang kaya baru, yang ga punya taste apa-apa soal seni, cuma kebanyakan duit aja buat beli. Kemudian dia masuk dan bertemu kedua seniman.

Keluarlah quote-quote seperti ini saat bertemu Pak X.

Hm… Pak X sepertinya masih banyak kekurangannya. Belajar ngelukis kapan, Pak?

Waduh, Pak. Ini seharusnya dilukis begini-begini. Kan ada aturannya.

Wah.. lain kali bapak harus perbaiki bagian sini, sini, sini, dan sini. Nanti saya beli versi remakenya saja. Yang ini kurang bagus.

Bapak niruin gayanya maestro mana?

Ini harga lukisannya ga bisa kurang, Pak? Dua ratus ribu aja yah?

Sementara saat ngobrol dengan pelukis Mr. Y sang ekspatriat, omongannya berubah 180 derajat seperti ini

Oh.. this picture is very beautiful. Masterpiece!

I think you’re not realism type of painter. Very expressive. I love the stroke!

Perfect! So original!

You are really an expert, indeed.

US$ 1000? No no no…! It is worth more than that. What would you say if I pay you twice for this?

Begitulah, untuk menghargai karya seniman dalam negeri saja kita emoh. Ndak bisa percaya dengan kemampuan mereka bisa ngelebihi seniman luar. Merasa seniman dalam negeri itu masih bego, perlu diatur-atur cara berkaryanya. Dibayar murah pula!

Sementara saat menghadapi seniman luar negeri kita selalu terkagum-kagum. Dipuja-puja lebih daripada dewa. Berani beli karya mereka berapa saja. Yang salah-salah malah dianggap ekspresif. Bebas mau ngapain aja. Dibayar mahal pula!

Lah.. serius lho. Seni itu cerminan kehidupan bangsa kita sebenarnya. Menghargai karya seni dalam negeri aja kita males, apalagi menghargai produksi anak bangsa yang lainnya? Apalagi desain? Apalagi kerajinan? Apalagi masakan? Apalagi mobil? Apalagi film? Apalagi iklan? Apalagi pesawat? Apalagi komputer? Apalagi software? Apalagi sains? Apalagi, apalagi, apalagi…?

*suara saya pun lenyap ditelan badai kerendahdirian bangsa ini

Iklan

3 Responses to “Karya Seni dan Kepercayaan Diri Bangsa”


  1. 1 Effendi 21 Februari, 2008 pukul 6:41 pm

    Gue jadi inget sama (alm) Affandi. Beliau kalau ditanya atau dibahsa mengenai aliran/gaya apa yang dipakai, pasti ditanya balik: “Aliran apa itu?” 😆

    *fans Affandi sejati, juga programmer effendi dot com* 😆

  2. 2 Effendi 21 Februari, 2008 pukul 6:43 pm

    Owkeyyy… Balik bahas luar dalam negerinyah. :mrgreen:

    Ya, orang udah termakan label. Kalo dari dalam pasti mutunya biasa aja, standar. Dan dari luar pasti dikerjain ama yang pro. 😛

    Label ituh loh… :mrgreen:

  3. 3 a. niappa 22 Februari, 2008 pukul 2:14 pm

    Begitulah, dahulu hingga sekarang. Padahal Indonesia sudah punya banyak desainer muda yang kualitasnya patut dibanggakan. Sebagai bentuk persetujuan lebih nyata dari posting Anda, silakan mambaca posting saya beberapa waktu lalu tentang harga rancang grafis.
    (promo terselubung? :-D).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: