Archive for the 'seni' Category

Travian !

klik untuk mendaftar!

klik untuk mendaftar!

Awalnya saya tidak mengerti mengapa begitu banyak iklan Travian yang mampir ke friendster saya (mungkin anda juga sering lihat?).

Gambarnya menarik, sih. Tapi saya belum punya waktu untuk mencoba. Lagipula saya pikir ini browser-game, jadi pasti membosankan seperti dulu saya main Kurusetra atau Utopia. Game seperti ini yang membekas di kepala saya cuma neopet, karena grafiknya lucu-lucu.

Lanjutkan membaca ‘Travian !’

Kelas Super

Hari ini di Sindo saya baca sekarang katanya sedang trend kelas super, suatu kelas berisi siswa yang dianggap memiliki inteligensia lebih dan menyenangi matematika dan sains. Untuk masuk kelas ini katanya pakai syarat IQ 150 lebih segala, wuih!

Senang? Entah mau bilang apa. Jelas ini bagus untuk anak-anak yang memang sudah maniak sains. Tapi yang bikin saya kecewa adalah kelas ini sepertinya lebih bicara ke masalah superior-superioran. Seolah dunia ini hanya bicara masalah sains dan matematika. Siapapun yang bisa menguasai sains pasti bisa menguasai dunia, masa depan terjamin, hidup kaya raya. Duh!

Jadi apakah anak dengan IQ tinggi tapi tak suka sains akan dianggap anak buangan? Tidak perlu diberi fasilitas?

Lanjutkan membaca ‘Kelas Super’

SSR Barat: Era Bizantium

Lagi usil ngumpulin link ke artikel yang membahas sejarah seni rupa barat. Eranya saya pilih Bizantine aliasi Bizantium. Jangan kaget kalau beberapa arsitekturnya mirip sama mesjid.

Enjoy! \:D/

Lanjutkan membaca ‘SSR Barat: Era Bizantium’

Pameran Printemps Francais

CCF lagi-lagi mengadakan Printemps Francais. Malam ini, tanggal 30 April, saya mengikuti pembukaan pameran seni rupanya di Gallery Nasional, di depan stasiun Gambir. Yang istimewa dari pameran kali ini bukan hanya memperlihatkan karya dari Indonesia, tapi juga banyak karya masa lalu dari Perancis yang katanya dulu disumbangkan ke Indonesia tapi sudah 16 tahun tidak dipamerkan (buset….males atau apa, tuh?) Contohnya Hartung, Arp, Vasarely, Delaunay, Soulages, Kadinsky, dan banyaaaak lagi.

Jadi kalau kebelet ingin mempelajari sejarah seni rupa Eropa (terutama Perancis) di masa lalu, inilah tempatnya. Ga perlu khawatir ketinggalan, pamerannya masih dibuka sampai tanggal 13 Mei.

Ngomong-ngomong karya dari seniman Indonesianya juga bagus-bagus kok. Tambahan lagi, makanan yang disajikan waktu acara pembukaan enak-enak, hehehehe. Rugi yang tadi ga datang. 😉

Seni Rupa Indonesia: Mooi Indie sampai Persagi

Sedang ada tugas kuliah mengkliping artikel-artikel tentang sejarah seni rupa indonesia di era kolonialisme, mulai dari masa mooi indie sampai PERSAGI. Nanti saya tambahin satu per satu linknya.

1. Raden Saleh

Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan

2. Mooi Indie

Lanjutkan membaca ‘Seni Rupa Indonesia: Mooi Indie sampai Persagi’

Originalitas

Apa arti sebuah originalitas? Apa emang kalau bikin karya harus seratus persen asli?

Engga, tapi kan lu harus bisa punya ciri sendiri juga. Entah subjek yang beda, teknik yang beda, cerita yang beda, atau warna yang beda

Lah tapi warnanya saja sudah beda kan? Syahnagra cenderung putih bak di kayangan… Yang ini cenderung lebih muram.

Tapi dari segi pesan ada ga sih yang beda?

Pesan ya suka-suka si pelukisnya, dong? Tugas elu lah sebagai penikmat untuk mengapresiasi dan menemukan pesannya.

Bukankah lebih bagus kalau dia mengembangkan kekuatannya sendiri? Coba lihat drawing ini, terstruktur dengan baik. Serba jelas, dengan perhitungan yang matang.

Lanjutkan membaca ‘Originalitas’

Mari Dinginkan Si Jendral

Ada yang kegerahan membaca post Jendral-Jendralan saya kemarin? Oke, waktunya klarifikasi.

Di luar alasan mengkritik Undang-Undang ITE yang rada kebablasan dalam membatasi kebebasan pengguna internet, saya memiliki misi utama menjelaskan cara mengapresiasi karya seni. Sepertinya hal ini sudah saya lakukan di post lain, tapi akan lebih menarik kalau “digoreng” sedikit. Buktinya sukses, 25 komentar dan 225 pageview dalam sehari masuk ke topik tersebut. Post itu mengundang perhatian.

Wokeh, inti utama mengapresiasi karya seni adalah ia tak bisa dijudge secepat mata memandang atau telinga mendengar. Sebab seringkali seorang seniman menyembunyikan orang yang ingin dia bicarakan (subjek), apa yang sedang terjadi (predikat), dan korban dari sebuah peristiwa (objek). Jangan heran, dalam sejarah sudah banyak seniman masuk penjara atau mengorbankan nyawanya hanya demi sebuah karya.

Lanjutkan membaca ‘Mari Dinginkan Si Jendral’


Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Agustus 2017
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031