Bumi Magenta?

bumimagenta2
Saat brief disampaikan oleh panitia Caraka, saya dan Wolfgang langsung berdiskusi. Yang kami pikirkan adalah bagaimana membuat sebuah solusi yang bukan saja sebuah printad, tapi komplit dengan perancangan brand dan online campaign. We tried to create a good insight.

Why Magenta?

Simpel, karena warna hijau membuat kita terus-terusan berada di posisi nyaman. Dengan mengkomunikasikan Bumi Hijau, kami berdua berpikir tidak akan ada gunanya menyuruh orang menganut filosofi greening. Kenapa? Karena bumi sudah hijau, ngapain dihijaukan lagi?

So, mulailah keisengan saya dan Wolfgang. Awalnya kita mau bikin pesan simpel saja, “NO GREEN!”. Tapi itu sama saja menyerang Caraka itu sendiri. Jadi kita buat lebih halus. Bagaimana cara menyampaikan “No green!”? Gampang, balikkan saja warnanya jadi “YES RED!”. Thus.. Keluarlah ide “Har.. gimana kalau kita buat Kampanye Merah?”.

Ga seru.. kata saya. Masih terlalu sederhana dan tembak langsung. Maka otak desainer grafis saya berjalan. Warna hijau itu dibentuk oleh tinta Cyan dan Yellow. Jadi selama ada pesan kampanye ramah lingkungan dan recycle, ribuan poster dan printad dibuat dengan memakai dua tinta itu. Sementara tinta magenta dibiarkan tidak terpakai. Jika anda pemakai printer yang single catridge, maka mencetak poster itu berarti anda berpartisipasi membuang-buang tinta magenta secara sukarela. Merah tidak bisa digunakan karena masih pakai tinta Yellow. Masuk akal kan?

Dan kenyataan lucu yang saya dapat, foto bumi yang diinvert warnanya tepat memperlihatkan warna magenta. Kalau ga percaya boleh coba sendiri 😉

There goes, Bumi Magenta. Bumi yang akan bikin anda tidak nyaman. Bumi yang tidak hijau. Bumi yang tidak sesuai dengan bayangan kita semua. Bumi kita sudah magenta, karena itu perlu kita hijaukan. Lalu coba-coba cari di internet, sudah ada yang pake istilah ini belum? Belum! Good, we create a unique brand.

Soal ecofont? Yes, itu kontroversi dalam penerapan green design. Kalau kita asal comot dan pakai begitu saja dalam design, hati-hati, kita malah akan semakin memboroskan resource. Sebaliknya, kalau dipikir dengan cermat kita bisa pakai itu untuk alasan menghemat tinta.

Itulah yang kita maksud dengan “Aduh.. ratusan orang menulis surat cinta padaku. Tapi kenapa surat-surat itu malah menyakiti aku?”

So we are not attacking Caraka, bukan pula kita menyerang kampanye ramah lingkungan, bukan pula kita ingin menyinggung perasaan peserta lain. Kita hanya ingin bilang “Kawan.. hati-hati dengan apa yang kita baca mengenai apa yang ramah lingkungan dan apa yang tidak. Tidak semuanya yang ditulis dalam Bahasa Inggris dan diskusi di Internet itu benar. Itu kembali kepada kehati-hatian kita dalam mendesain sesuatu. Banyak hal yang lebih sederhana dalam mendesain justru akan mengurangi efek nyampah. So START RECYCLING YOUR MIND.”

Jadi ke mana arah Kampanye Bumi Magenta sebenarnya?

Simpel, kami ingin membuat orang terus berdebat mengenai green design, a.k.a. sustainable design. Kelemahan teori sustainable design yang saat ini berkembang di Indonesia adalah karena ia diterima sebagai pakem. Banyak hal yang sebenarnya salah kaprah dibiarkan dan diulang-ulang dalam sebuah kampanye cinta lingkungan.

Jadi kita menciptakan brand Bumi Magenta yang tidak sempurna. Kita bikin copywriting yang tidak sempurna, dan penerapan sustainable design yang tidak sempurna. Kenapa? Supaya orang bisa mendebatkan apa yang salah dari printad ini.

Sesaat sebelum mengumpulkan, Wolfgang punya ide baru “Har.. gimana kalau gw bikin radio script seperti ini ‘Membalikkan kata sampah tidak akan bikin sampah berkurang'”.

Yes.. itu tepat menghancurkan kampanye Bumi Magenta sendiri. Saya ketawa. Ya sudah, tidak ada yang salah dari itu. Radioscript Wolfgang mengalahkan Bumi Magenta. Membalikkan Bumi Hijau jadi Bumi Magenta tidak akan bikin sampah jadi berkurang. Jadi radioscript Wolfgang adalah kritik terhadap Bumi Magenta sendiri, walaupun sebenarnya tujuannya sama. Dan kenyataannya radioscript Wolfgang maju jadi finalis.

Tapi saya ga keberatan. Karena itulah inti dari kampanye Bumi Magenta. Kita harus memancing orang untuk saling kritik dan saling bikin karya yang lebih efisien. Dan di ujung-ujungnya orang akan mulai berpikir “Ooooh… walaupun kita bikin apapun lebih efisien, tetap saja hasil sampahnya ada. Lalu gimana dong?”

There goes sustainable design. Kita bikin sampah jadi kampanye, dan ujung-ujungnya hasil kampanye itu sendiri didaurulang bersama-sama. If you are looking for what a real green campaign is, cobalah lihat kampanye Reuse Renewsnya Jakarta Post, WWF, dan Hakuhodo. Itulah yang paling smart yang saat ini saya lihat.

Tapi hati-hati, bukan dengan ikut-ikutan bikin kampanye seperti itu lalu tiba-tiba anda ikutan green. No no. Sustainable design adalah philosophy, bukan solusi. Dari buku yang saya baca, perusahaan harus identifikasi dulu apa yang sebenarnya merupakan waste banyak sekali dari produknya. Lalu pikir, gimana cara ngolah waste itu beramai-ramai dalam sebuah kampanye yang juga efisien energi dan sampah. Then you create gold by being green.

Seperti kata Wolfgang dulu, “Sesuatu kalau dilihat dengan niat negatif, maka hasilnya juga negatif”. Apa yang kita sampaikan itu sebenarnya message positif. Kita ga pakai kata-kata kasar. Kita sudah usahakan semaksimal mungkin agar tidak ada yang tersindir. Tidak pula kita merendahkan peserta lain. Yes.. kita pakai kalimat Bumi Magenta yang melankolis. It’s a bit negative. Tapi itu ga dilarang dalam etika periklanan, kan?

Soal hasilnya orang yang baca malah marah, lah pertanyakan saja ke diri sendiri “Kenapa juga saya harus marah?”

Iklan

0 Responses to “Bumi Magenta?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: