Diskriminasi Psikologis

Banyak dari kita memperjuangkan persamaan hak (equality). Mulai dari persamaan warna kulit, persamaan gender, dan yang baru-baru ini heboh adalah perang melawan diskriminasi berat badan.

Diskriminasi terjadi di mana-mana dengan berbagai cara dan metoda.

Tanpa kita sadari, perusahaan juga sering mendiskriminasi calon karyawan berdasarkan keluhan psikologis tertentu. Coba perhatikan, sebenarnya untuk apa ada psikotes? Untuk mengukur kecerdasan? IQ? daya nalar? Tidak masuk akal, mana mungkin ada perusahaan yang isinya Einstein semua.

Bicara gangguan psikologis, salah satunya adalah scyzophrenia. Ini sebenarnya bukan gangguan yang jelek-jelek amat. Film Hollywoodlah yang membuat citra seolah seorang scyzo punya kepribadian 100 buah, dengan 100 tingkah berbeda, dan bisa membunuh 100 orang tanpa sadar.

Multiple Personality Disorder (Kepribadan Terbelah) bukanlah Scyzophrenia.

Scyzophrenia hanyalah gangguan penginderaan. Penderitanya biasanya behalusinasi melihat bayangan tertentu, mendengar bisikan tertentu, sering merasa cemas, bicara tidak teratur, dan merasa orang banyak memusuhi dirinya. Dalam keadaan berat memang akan mengganggu orang lain. Tapi dalam keadaan ringan dia tetap bisa berprestasi dan punya kinerja baik.

Bicara soal diskriminasi lagi, gara-gara pencitraan yang salah dari Film Hollywood, perusahaan merasa perlu menyingkirkan orang-orang dengan keluhan psikologis tertentu seperti scyzophrenia, bipolar disorder, psikopat, dan yang lainnya. Kenapa? Karena orang-orang seperti ini dianggap bisa mencelakai karyawan lain dan merusak suasana kerja.

Masalahnya kita lupa, tidak pernah ada manusia sempurna. Semua orang punya keluhan psikologisnya sendiri-sendiri. Yang membuat perusaahaan jadi parno hanya apakah gangguan psikologis seperti itu sudah difilmkan atau belum.

Orang senang belanja itu dianggap wajar. Padahal tahukah kita? Sophaholic itu bisa membuat orang terpancing untuk korupsi dan terjebak hutang. Orang senang dandan dianggap wajar. Padahal tahukah kita? Terlalu banyak memperhatikan penampilan bisa mengarahkan kita kepada keluhan Body Dismorphic Disorder. Itu bisa mengarahkan kepada tindakan bunuh diri.

Keluhan psikologis adalah hal yang wajar dialami semua orang. Sama wajarnya seperti kita menderita sakit flu, demam, atau pilek. Tidak ada satupun manusia yang keadaan psikologinya sempurna. Ada yang pemarah, suka ketawa, careless, berantakan, penggosip, dan lain-lain. Justru itulah yang membuat kita menjadi kelompok yang beragam dan memiliki keistimewaan masing-masing.

Saya ingin bertanya kepada HRD sekalian, masihkah kecenderungan psikologis dipakai sebagai barometer menerima karyawan?

0 Responses to “Diskriminasi Psikologis”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d blogger menyukai ini: