Confession of A Greatest Dad

Har, kami tahu kamu anak yang cerdas. Dari kecil kamu terlihat hebat menganalisa masalah. Tanpa harus diajari tiba-tiba kamu bisa membaca di umur empat tahun. Kamu belajar Fisika jatah anak SMP di kelas 4 SD. Kamu bahkan bisa dengan tepat meramal kapan kurs Rupiah naik dan turun.

Kesalahan kami adalah gagal membina karaktermu. Kami menyangka sikap diammu adalah hal baik. Kamu terlihat seperti anak penurut yang patuh dengan peraturan. Kamu terlihat pintar, karena itu kami tidak menyangka sekolahmu akan bermasalah. Kamu selalu berhasil meraih peringkat satu atau dua setiap tahun, membuat kami berkonsentrasi dengan nilai kakakmu yang lebih sering bermasalah.

Kami tidak tahu sikap diammu adalah ciri ketidakpercayaan diri. Kamu sulit menemukan orang yang bisa bergaul dan bertukar pikiran. Kami tidak tahu kamu jarang sekali cocok dengan orang sebayamu. Kami tidak tahu kamu tertekan dengan kepintaranmu sendiri.

Kami tidak menyangka masa SMAmu adalah puncak sebuah gunung es. Kamu mulai membolos, kamu malas mengerjakan PR, kami tidak menyangka nilai matematikamu akan merah, kami tidak tahu kalau kamu terancam tidak bisa masuk IPA, kami tidak tahu kalau kamu gila game.

Kami bersalah karena saat itu semua terjadi, kami menimpakan semua kesalahan kepada dirimu. Kami menceramahimu agar lebih rajin belajar. Kami memarahimu karena absenmu banyak. Kami mempermalukan dirimu di depan saudaramu yang lain.

Kami tidak ingat bahwa sejak kecil kami jarang mendengar keluhanmu. Saat kamu malas mandi, kami mengacungkan ikat pinggang. Saat kamu malas salat, kami membentak. Saat kamu terlihat jarang melakukan sesuatu dengan dedikasi, kami mengomeli. Apa boleh buat, kami hanya generasi tua yang merasa kalau anak hebat itu cirinya adalah patuh kepada perintah orangtua. Kami hanya tahu kriteria disiplin untuk membedakan anak baik dan anak nakal.

Kesalahan kami adalah memaksakan kamu kos di luar kota tanpa pengawasan. Kamu gagap dengan pergaulan. Kamu tidak bisa membedakan sendiri mana yang baik buat dirimu dan mana yang tidak. Kami bahkan tidak ada saat pertama kali kamu patah hati. Yang kami tahu hanyalah bahwa nilai kelulusanmu di SMP cukup baik untuk dimasukkan ke SMU paling hebat seIndonesia. Karena itu kami mendorong-dorongmu ke sana supaya mudah masuk kuliah di PTN favorit.

Sekarang saat kami menyadari, semua sudah terlambat. Umurmu sudah 23 tahun. Tidak ada lagi kesempatan untuk membantu membentuk karaktermu. Kamu sudah jatuh berkali-kali oleh sifatmu sendiri. Semua orang menudingmu sebagai anak yang gagal. Semua orang menuding kami sebagai orangtua yang gagal. Kami minta maaf untuk itu.

Karena itu sekarang kami mempersilakan untuk membentuk dirimu sendiri hendak jadi seperti apa. Perbuatlah apa yang kamu suka. Carilah kesalahan sebanyak-banyaknya. Pelajarilah kehidupan dengan caramu sendiri. Bentuklah karakter yang kuat dengan cara yang kamu inginkan.

Yang kami bisa lakukan sekarang hanya memberi dukungan. Kalau kamu gagal untuk keseratus kalinya, pulanglah ke rumah, tidak akan ada yang mengusir.

Iklan

6 Responses to “Confession of A Greatest Dad”


  1. 1 hariadhi 4 Mei, 2009 pukul 4:44 pm

    i have the best dad in the world.

    EVER!

  2. 2 Cindy 4 Mei, 2009 pukul 7:26 pm

    EVER? So,now? Gw jg prnh brmslh ma nyokap,but I’m proud of your dad.. Coz bliau sdar akn ksalahannya. Ttp smangat ya..!kan ada Emi. Chayooo!! Go Go Go!!

  3. 3 hawe69 4 Mei, 2009 pukul 8:54 pm

    … jadi inget cerita diri sendiri…
    Har..kamu anak no.2 yah, middle child?
    *sok tau.com*

  4. 4 hariadhi 6 Mei, 2009 pukul 10:24 pm

    Anak bontot. Justru itu sering didominasi sampai dulu ga tau apa yang gw mau.

    Tapi sekarang sedang belajar berjuang dari 0 lagi. Menyenangkan, kok. 🙂

  5. 5 M. Nur 11 Mei, 2009 pukul 11:13 am

    Setiap berita yang cukup mengejutkan pasti akan ditanggapi orang… jangan salahkan orang lain atas kejadian ini dan jangan salahkan masa lalu. hydroxilic acid bukan air, tetapi suatu senyawa asam yang bisa ditambahkan ke dalam air.
    Semoga tidak berulang

    Salam,
    M. Nur

  6. 6 hariadhi 11 Mei, 2009 pukul 11:19 am

    bukan asam yang ditambahin ke air juga…

    Tapi air itu bisa dibilang asam atau bisa juga dibilang basa. Tergantung sudut pandang kita aja.. Karena sejatinya penanda asam dan basa sama-sama ada di air (H+ dan OH-). Kalau mau dinilai asam, namanya akan jadi hydroxylic acid.

    Yah.. walaupun hydroxylic acid itu juga sebenarnya nama yang salah kaprah sih…

    Makasih buat komentarnya, mas. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: