Ardie Siswanto

Ardie Siswanto adalah fenomena di mailing list Creative Circle Indonesia. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba ia muncul mengagetkan orang banyak. Saya ingat waktu itu baru seminggu bergabung dengan CCI. Saat orang berusaha menuliskan hal-hal keren yang bisa menarik hati calon employer, ia melakukan hal sebaliknya.

Isu pertama yang diangkat oleh Ardie Siswanto adalah buruknya sistem pembinaan di dunia kreatif. Seorang fresh graduate yang baru saja meng-icip-i persaingan di dunia ini sudah langsung dibebani dengan target-target yang sama rata dengan, katakanlah, desainer berpengalaman kerja 4 tahunan. Padahal ibarat bayi, seorang fresh graduate baru saja belajar merangkak, tapi lalu dipaksa untuk adu maraton dengan anak SD. Sementara perusahaan (atau mungkin manajer) tidak mau tahu dengan kekurangan si anak baru. Tidak perform dalam tiga bulan, berarti dipersilakan keluar.

Jelas fresh graduate tidak akan pernah punya tempat di industri kreatif, kecuali fresh graduate yang pintar menyenangkan hati creative director, tentunya.

Saya ingat berkali-kali orang menanyakan siapa Ardie Siswanto sebenarnya. Dengan jujur saya bilang “saya tidak tahu”. Memang saya secara intensif berhubungan dengannya melalui YiM. Tapi identitas aslinya tetap misterius. Ia menolak jika saya bertanya seperti apa karya yang pernah dia buat. Ia tidak mau memberi clue di perusahaan apa dia sedang bekerja. Bahkan ia tidak mau memberitahu apa tema yang dia angkat untuk Tugas Karya Akhirnya.

Yang saya tahu Ardie Siswanto adalah orang yang cerdas. Walaupun punya kebiasaan buruk trolling dan membeberkan kisah pribadinya secara blak-blakan, ia cukup pintar untuk tahu bahwa ia tidak harus menggunakan nama asli dalam mengangkat isu kontroversial. Saat puluhan Art Director dan Creative Director mengancam akan memblacklist nama Ardie Siswanto dan menghancurkan karirnya di industri kreatif, seorang Ardie Siswanto tertawa terbahak-bahak.

Bagaimana tidak? Mereka tidak akan pernah menerima surat lamaran dan CV dengan identitas Ardie Siswanto. Ardie Siswanto adalah sebuah identitas palsu yang sengaja dipakai untuk memaki-maki manajer-manajer yang berlindung di balik meja kekuasaannya. Ardie Siswanto ngakak karena memiliki kesempatan menyebut mereka dengan sebutan “kentut” sementara yang dihina malah tidak bisa melakukan apa-apa selain balik mengecam watak si pelaku.

Itulah yang membuat saya terpana. Walaupun saya sudah berkali-kali bilang “Gw ga suka cara lo” kepada yang bersangkutan, tapi saya kagum kepada kejeniusannya mengolah isu. Cobalah tanyakan soal Ardie Siswanto kepada seluruh penghuni mailing list, pasti mereka ingat. Ardie Siswanto adalah brand yang diciptakan dengan pemikiran hebat. Ia mampu menancap ke ingatan orang banyak. Semua orang penasaran dengan dua kata ini: Ardie Siswanto. Kita harus akui itu.

Beberapa orang menulis Ardie Siswanto sebagai seorang psikopat. Beberapa orang bahkan menganalisa dia punya kecenderungan menciptakan pribadi yang berubah-ubah. Saya mungkin bisa setuju itu. Tapi psikopat dalam gejala yang ringan (Silakan cari tahu definisi psikopat di Wikipedia). Ia mungkin seorang psikopat yang senang mempermainkan emosi orang. Ia mungkin psikopat yang IQnya tinggi. Ia mungkin seorang psikopat yang moody. Ia psikopat yang memiliki sikap careless, tidak bertanggung jawab dengan kehebohan yang dia ciptakan.

Tapi saya tidak percaya dia seorang psikopat yang membunuh atau mengancam orang layaknya di film-film Hollywood. Tidak pula ia berkepribadian ganda. Ardie Siswanto hanyalah tipe orang dengan kecenderungan nyentrik. Ia tahu persis reaksi orang terhadap tulisannya. Ia tahu akan memancing kemarahan para Art Director dan Creative Director, karena itu ia malah mengirim email provokatif itu.

Hingga suatu saat saya memiliki firasat bahwa orang akan mulai mencurigai saya sebagai tokoh yang menciptakan Ardie Siswanto. Wajar saja karena dalam beberapa kali kesempatan saya berusaha mendukung ide yang dia lontarkan. Saya bahkan bisa memahami preferensi seksualnya yang cenderung ke homoseksual, sementara yang lain sibuk meneriaki dia sebagai Banci Taman Lawang.

Tidak, Ardie Siswanto bukanlah Hariadhi. Hariadhi bukanlah Ardie Siswanto.

Walaupun dilihat dari gaya menulis hampir sama, saya tidak akan segila itu dalam memblow ide. Saya memang memiliki pengalaman ngetroll dan flamming di berbagai forum internet selama tiga tahun. Tapi itu hanyalah bagian dari masa lalu. Saya tidak akan melakukannya lagi. Saya tidak akan merusak citra diri saya sendiri dengan perbuatan aneh macam itu. Saya membawa bendera Hariadhi, seorang calon desainer dengan seribu ide dan optimisme, bukan bendera Ardie Siswanto, seorang fresh graduate dengan seribu pemikiran kritis dan kecerdasan tingkat tinggi.

Saya bahkan belum lulus kuliah lho, mana bisa saya cerita soal pengalaman sebagai Fresh Graduate?

Kalau ditanya alibi… Saya dengan yakin bilang Wolfgang Andros bisa memberi kesaksian saya bukanlah Ardie Siswanto. Kemarin malam kami bertiga mengadakan conference di Yahoo Messanger, dilanjutkan pula keesokan harinya. Tidak mungkin kami chatting bertiga seandainya Ardie Siswanto adalah karakter rekaan saya. Wolfgang bisa memberi kesaksian untuk itu.

Alibi juga bisa ditanyakan kepada pacar saya. Dia adalah anggota pasif CCI. Dia tahu persis saya tidak pernah menulis apapun selain ide-ide yang saya lontarkan kepada forum. That’s it. Saya tidak merasa perlu memancing kehebohan orang banyak. Saya tidak pernah menceritakan kekesalan saya terhadap art director atau creative director. Saya hanyalah salah satu dari sekian banyak anggota milis yang ingin menarik perhatian employer dengan IDE saya, bukan dengan kehebohan.

Alibi juga bisa ditanyakan kepada moderator Om Daniel Rembeth. Waktu terjadi error yahoogroups yang membuat status saya di mailing list menjadi “banned”, saya tetap dengan komitmen untuk tidak membuat multiple account. Saya tidak senang mengakali sistem. Saya tidak senang menipu orang. Kalau diban ya sudah, diban saja. Buat saya peraturan tidak dibuat untuk dilanggar, apalagi diakali. Sementara Ardie Siswanto sudah punya 2 account berbeda di mailing list.

Kunci semua alibi adalah Ikhwan Aryandi. Copywriter lulusan UI inilah yang memberitahu saya account Ardie Siswanto di Yahoo Messanger. Tidak mungkin saya nanya kalau itu account saya sendiri, toh?

Omong-omong buat yang masih penasaran siapa sebenarnya Ardie Siswanto, cobalah melongok blog ciptaannya di wordpress. Jangan heran kalau judulnya “I HATE ARDIE SISWANTO”. Itulah brand yang ingin dia ciptakan sendiri.

Ardie Siswanto memang diciptakan sebagai karakter “Public Enemy No. 1”. >:)

Iklan

4 Responses to “Ardie Siswanto”


  1. 1 hariadhi 4 Mei, 2009 pukul 1:08 pm

    Tolong dong berhenti nanya sama saya… “Ardie Siswanto itu sapa yah?”

    😀

  2. 2 hawe69 4 Mei, 2009 pukul 9:00 pm

    gak bisa di track dari IP computernya ?
    *pertanyaan orang bego dan polos* 😀

  3. 3 I Was Able to Lose Thirty Póunds in Under a Month 6 Mei, 2009 pukul 8:21 am

    Hi, cool post. I have been thinking about this issue,so thanks for sharing. I’ll certainly be coming back to your site. Keep up the good posts

  4. 4 hariadhi 6 Mei, 2009 pukul 9:39 am

    @hwe69

    bisa aja, tapi itu ga akan membuktikan apa-apa. Secara.. Orang Endonesah kan demennnya teori konspirasi. Makin dibuktiin kalau gw bukan Ardie Siswanto malah mereka makin curiga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: