Tak Ada Krisis untuk Konsumtivisme

Baru baca ini di Kompas Jumat. Ternyata fenomena Crocs bisa jadi blownya media juga. 🙂

Pakar pemasaran dan pengajar Pascasarjana Fakultas ekonomi Universitas Inonesia, Rhenald Kasali, mengatakan, yag terjadi sebenarnya adalah proses downshifting. Karena krisis, orang menahan untuk berbelanja, atau bahkan mengurangi konsumsi.

“Dari yang tadinya makan senilai Rp 100.000, sekarang makan yang Rp 30.000. Di Carrefour, mereka mulai mengurangi belanja durable goods, seperti elektronik. Terus di daerah kota, restoran mulai naik, tetapi di daerah segitiga emas turun. Ini karena downshifting tadi,” kata dia.

Akibat menahan atau mengurangi konsumsi, mereka memiliki surplus dana. “Mereka bingung mau dikeluarkan atau tidak. Sampai suatu ketika ada yang menggoda. Dan kebetulan yang menggoda itu adalah sale Crocs itu. Konsumen enggak merasa barang itu overvalued karena dibungkus embel-embel ‘diskon’ atau sale, dan menjualnya seperti diobral,” kata Rhenald menambahkan.

Melonjaknya pembelian barang impor dan barang di ritel kelas menengah atas, seperti Matahari dan MAP, kemungkinan juga karena fenomena downshifting ini. “Orang yang biasa membeli barang di luar negeri sekarang mulai membeli barang berkualitas dan impor di dalam negeri. Mereka tidak perlu mengeluarkan uang ke Singapura atau Eropa untuk mengejar barang bermerk yang juga ada di Indonesia,” kata Roy Mendey.

Survey konsumen BI menyebutkan, sebagian besar responden mulai mengurangi konsumsi barang sekunder dan lebih memprioritaskan pada kebutuhan primer. Namun, keinginan untuk mengurangi konsumsi ini kadang kalah oleh strategi pemasaran yang terus menggoda selera konsumtif masyarakat.

Di kampus kita diajarkan bahwa konsumerisme (atau konsumtivisme di dalam artikel ini) bukanlah musuh ekonomi. Sebaliknya tingkat konsumsi yang cukup tinggi telah menyelamatkan kita dari krisis lebih dalam.

Kenapa? Karena adanya pajak konsumsi dan populasi warga negara kita yang besar. Semakin besar tingkat konsumsi, semakin cepat uang berputar. Semakin cepat uang berputar, semakin banyak pajak yang bisa ditarik oleh negara. Karena itu kita tetap bisa survive sampai sekarang walaupun ekspor migas sudah anjlok.

Menurut saya lagi, konsumerisme dan downshifting justru peluang bagi orang-orang kreatif untuk menghasilkan produk yang tepat bagi masyarakat kalangan menengah hingga atas yang senang mengkonsumsi. Mumpung mereka sedang tertarik melongok pasar dalam negeri dan mumpung mereka sedang tidak terlalu banyak uang untuk beli barang impor.

Berita ini tidak perlu ditakuti, apalagi dikecam. Konsumsi adalah naluri utama semua manusia. Apakah tingkat konsumsi yang tidak pernah turun menjadi berita bagus atau buruk, tinggal kita saja untuk pintar-pintar mengakalinya.

Iklan

0 Responses to “Tak Ada Krisis untuk Konsumtivisme”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d blogger menyukai ini: