MUI dan Negara

Iseng mencari informasi soal golput di internet, saya tertawa terbahak-bahak membaca komentar seperti ini di salah satu forum:

Kenapa MUI berfatwa ?

Kemungkinan pertama, mental umat islam memang payah. Daya kritisnya demikian rendah sehingga untuk merokok saja perlu tanya ke ulama. Kalau baca situs-situs islam, indikasi ini ada benarnya. Saya sering geli melihat pertanyaan-pertanyaan umat yang ditujukan ke ustad. Suami minta oral seks, suami tertelan susu istrinya waktu foreplay, boleh tidaknya melihat kelamin istri, boleh tidaknya memperbesar alat vital, dll semua ditanyakan ke ustad. Sepertinya Cuma ustad yang pintar dan benar sedangkan umat dungu-dungu seperti keledai. Padahal yang pakai istilah domba vs gembala itu umat kristen, lha kok malah orang kristen sendiri ndak begitu.

Kemungkinan kedua, MUI yang ke-geer-an, merasa umat memerlukan tuntutan ulama untuk memutuskan segala sesuatu yang sudah diatur hukum negara atau bersifat common sense. Untuk membuktikan apakah dugaan ini benar, kita lihat saja, apakah fatwa MUI itu ada dampaknya. Apakah umat islam jadi ketakutan kalau golput, apakah konsumsi rokok menurun drastis, apakah sanggar-sanggar yoga jadi sepi, apakah valentine yang tinggal beberapa hari lagi Cuma dirayakan oleh kafir-kafir.

Saya ndak tahu yang mana di antara kedua kemungkinan itu yang benar. Makanya saya berharap supaya MUI berfatwa sebanyak mungkin. Kalau bisa, berfatwalah minimal tiga kali sehari. Fatwakan semua mulai yang besar sampai yang kecil. Jangan Cuma soal golput, tapi juga soal buang sampah sembarangan, menyerobot antrian di supermarket, makan pakai tangan kanan, boleh tidaknya wanita naik ojek, parkir sembarangan, suara knalpot motor yang berisik, dsb. Fatwakan saja semua supaya islam sebagai rahmatan lil alamin itu bukan Cuma jargon tapi benar-benar ada wujudnya.

Kalau MUI sudah berfatwa 3 kali sehari dan ternyata ndak ada perubahannya, lebih baik MUI bubar saja. Buat apa menghabis-habiskan uang negara kalau fatwanya ndak diikuti ?. Mending uangnya buat subsidi srimulat supaya bisa tampil tiap minggu di gedung JCC.

Bagaimana kalau fatwa-fatwa itu efektif ? Ternyata setelah fatwa diberikan sungai-sungai jadi bersih, lalu lintas rapi, ndak ada copet di tanah abang, orang bisa ngantri seperti di singapur. Kalau begitu, bubarkan saja pemerintahnya.

Iklan

0 Responses to “MUI dan Negara”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d blogger menyukai ini: