Kubur, Kafan

Teman saya membuat tulisan mengenai pentingnya menguburkan mayat manusia apa adanya, tanpa harus diberi peti mati, dikremasi, atau dibalsem. Saya tidak terlalu tertarik mengenai rasionalisasi agama, tapi alasan menguburkan dengan kain kafan itu cukup menarik.

Saya tidak bisa memaparkannya sehebat caranya menulis dan bagaimanapun saya juga bukan ahli di bidang itu jika dibandingkan dengan dia yang memang lulusan teknik lingkungan. Tapi intinya begini saja, Proses mengafani dan menguburkan membiarkan siklus alam terjadi secara alami, dalam hal ini penguraian oleh makhluk kecil dan bakteri-bakteri lain.

Keinginan untuk membuat orang yang kita sayangi tetap ada di dekat kita, alias membenci kematian dan perpisahan, membuat kita ingin tubuh mereka utuh apa adanya hingga bertahun-tahun. Karena itu timbullah ide untuk menyuntikkan formalin, melindungi dengan papan tebal, atau bahkan membalsem. Cara ini jelas terlihat lebih beradab daripada sekedar mengonggokkan mayat dalam sebuah lubang lalu menutupnya lagi dengan tanah.

Tapi tahukah kita? Energi yang keluar dari penguraian mayat akan terperangkap di dalam peti mati, bukannya kembali ke siklus alami. Atau dalam kasus pembalseman atau pengawetan, bakteri malah tidak mampu membantu penguraian sama sekali. Akibatnya energi yang masih ada di dalam manusia terperangkap begitu saja. Kremasi hampir setali tiga uang. Dengan membakar mayat, berarti banyak sekali unsur hara yang rusak dan menjadi abu dan gas beracun.

Mungkin akan terdengar sepele jika kita hanya membayangkan hanya satu orang yang diawetkan. Tapi bagaimana jika kita menghitung keseluruhan angka kematian di dunia ini? Mungkin sudah milyaran kali lipat kita mengganggu siklus alami tersebut.

Ujung-ujungnya saya membayangkan, tentu tulisan itu akan lebih make sense jika kita bisa memperkirakan berapa besar energi yang terperangkan di dalam tubuh manusia sesaat setelah kita mati. Lalu coba dibandingkan dengan berapa banyak energi yang terbuang sia-sia jika kita berkeras melakukan praktek pengawetan, peti mati, atau bahkan kremasi.

Silakan baca tulisan aslinya di sini. Dia benar-benar excellent writer.

Iklan

0 Responses to “Kubur, Kafan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d blogger menyukai ini: