Poster Boikot Hidayatullah.com

hidayatullah

Secara pribadi saya tidak memiliki dendam terhadap Hidayatullah. Saat kecil majalah ini selalu menghias ruang tamu saya. Dasarnya maniak baca, majalah-majalah itu saya lahap sampai hapal isinya.

Kelebihan Hidayatullah (waktu itu) dibanding majalah-majalah lain yang juga Islami, menurut saya, adalah kemampuannya membahas masalah-masalah agama dengan cerdas dan terpelajar. Beda dengan saudaranya yang hobi mengkafirkan sana-sini dan meneriakkan jihad ke mana-mana. Entah kalau sekarang manajemennya beda sehingga pendekatan redaksionalnya pun jadi berbeda, saya tidak tahu.

Kapan pun hubungan Israel dan Palestina memanas, saya tahu masyarakat kita akan dengan gagah berani mendukung yang satunya. Maka bermunculanlah berbagai poster mulai dari yang memfasilitasi sumbangan kemanusiaan, ajakan berjihad, hingga yang bermaksud memboikot produk-produk Israel (padahal saya yakin mereka sendiri tidak berusaha mencari tahu apakah produk itu benar-benar dimiliki perusahaan Yahudi atau tidak).

Atas nama kebebasan berpendapat, saya tidak berniat melarang atau mengkritik orang-orang itu menyuarakan aspirasinya. Bagaimanapun kebebasan berbicara dan mengajak orang lain untuk sepaham sudah dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Jadi walaupun saya paling benci perang atas alasan apapun, saya tidak berhak menuntut mereka diam, karena itu berarti sayalah yang melanggar hukum. Saya bisa dipenjara karena itu.

Yang membuat saya tersentak kaget adalah upaya sukarela oleh Hidayatullah memfasilitasi poster boikot produk Israel. Anda bisa lihat sendiri ke situs resmi Hidayatullah.com. Di bannernya dengan ada tombol berbunyi “Download Boikot Israel”. Dan saat diklik memang keluar sebuah poster dengan format pdf dengan maksud disebarkan kepada semua orang dan diprint sendiri-sendiri.

Secara estetis menurut saya poster itu tidak ada masalah. Pilihan warna, tipografi, fotografinya termasuk kategori “sah-sah saja”. Saya juga tidak hendak menyatakan diri lebih pintar mendesain daripada desainernya Hidayatullah. Saya hanya hendak membahas poster ini dari sisi etika dan hukum, walaupun saya sadar harusnya orang-orang dari kalangan hukumlah yang lebih tahu masalah ini.

Poster itu berisi foto seorang anak (palestina?) yang sedang menangis. Di sisi kanannya ada foto peluru, lalu di tengahnya ada tulisan “Setiap rupiah yang anda belanjakan untuk membeli produk AS dan Israel ini sama dengan sebutir peluru yang akan merobek tubuh saudara anda di Palestina”. Di bawahnya tercantum logo-logo produk yang entah apa maksudnya, tapi seorang anak TK pun akan tahu bahwa kita diajak untuk “memusuhi” produk tersebut.

Poster seperti itu wajar dan sering sekali dibuat orang-orang. Selama ini memang tidak pernah ada konsekuensi hukum. Menurut saya ada dua alasan untuk itu. Pertama karena pembuatnya biasanya tidak diketahui dan menyebar begitu saja atas partisipasi masyarakat. Yang kedua karena hanya menjadi bagian dari aspirasi beberapa orang atau kelompok pribadi, tanpa ada motif komersial. Maka kalau kita membuat poster seperti ini lalu dipamerkan di ruang privat, misalnya pameran seni, Nestle jelas-jelas tidak akan bisa menuntut. Seperti itulah kebebasan berpendapat.

Nah masalahnya menjadi runyam karena dua hal pula. Pertama Hidayatullah.com dengan terang-terangan mencantumkan logonya sendiri di sana. Pencantuman logo bisa diartikan bahwa Hidayatullahlah yang memiliki aspirasi itu dan membuat posternya. Dan yang kedua Hidayatullah.com sendiri yang memfasilitasi download poster itu. Dengan kata lain, Hidayatullah.com dengan sukarela menyebarkannya, gratis pula!

Kenapa runyam? Pertama kita tidak bisa memposisikan Hidayatullah.com seperti mahasiswa yang membuat poster untuk organisasi kampusnya. Saya yakin Hidayatullah.com dikelola oleh perusahaan resmi dengan badan hukum dan status hukum yang jelas. Dengan kata lain setiap tindakan yang dilakukan oleh manajemennya yang dianggap melawan hukum bisa dituntut oleh badan hukum lain baik secara pidana ataupun perdata.

Yang kedua Hidayatullah adalah majalah yang melakukan sistem jual dan beli, tidak dibagikan gratis. Di websitenya tercantum pula iklan-iklan yang suka tidak suka akan mendatangkan keuntungan secara finansial. Maka Hidayatullah tidak bisa berdalih sebagai layanan publik. Ia berstatus komersial karena ada kepentingan ekonomi yang terlibat di dalamnya.

Maka saat Hidayatullah memajang logo dan merk produk lain, bahkan tanpa pesan boikot, ia bisa dituntut jika tidak meminta izin terlebih dahulu. Maka tentu akan ada pertanyaan “Sudahkah mereka meminta izin kepada Nestle, Coca Cola, Starbucks, Carrefour, IBM, Sara Lee, dan lain-lainnya sebelum mencantumkan logonya secara serampangan?”. Nah apalagi jika sudah disisipi pesan “JANGAN BELI PRODUK INI”. Saya tidak terbayang jika seluruh manajemen perusahaan tersebut memperkarakan hal ini ke pengadilan. Kira-kira berapa jauh konsekuensi yang harus ditanggung redaksi dan manajemen Hidayatullah?

Saya tidak berbicara main-main. Sejak reformasi bergulir, kita sudah mempunyai Undang-Undang bagus tentang perlindungan hak cipta, merk, dan rahasia industri. Jika ditilik dari Undang-Undang Hak Cipta saja, hal ini sudah bisa dikenakan tuntutan hukum. Kita tahu bahwa logo pun adalah karya seni yang diciptakan seorang desainer. Untuk kepentingan komersial, hak cipta atas logo ini dipindahkan kepada perusahaan produsen yang yang memakai logo tersebut. Belum lagi masalah merk yang merupakan hak eksklusif perusahaan yang sudah mendaftarkannya.

Dari sisi etis, kita bisa melihat kejanggalan. Salah satu produk yang diimbau untuk diboikot adalah CNN, News of The World, Time, National Geographic Channel, yang jelas-jelas adalah sesama perusahaan media dan berhubungan dengan pemberitaan. Dengan mengeluarkan poster ini, Hidayatullah sudah terbelit konflik kepentingan dengan upaya menjatuhkan saingan-saingannya di industri media melalui kampanye negatif. Ini sama saja buruknya dengan kampanye PDIP yang menggembar-gemborkan keburukan pemerintahan SBY.

Hidayatullah tidak bisa berkelit dengan status “gratis” poster ini. Gratis jelas tidak sama dengan “upaya sosial mencerdaskan masyarakat”. Kenapa? Lagi-lagi karena Hidayatullah.com dengan pedenya mencantumkan logo mereka di bagian atas poster. Dengan beredarnya poster ini, Hidayatullah mendapatkan keuntungan promosi secara Cuma-Cuma yang memiliki potensi menaikkan penjualan. Itu saja sudah berdampak komersial.

Sekali lagi, atas nama kebebasan berpendapat, sebenarnya Hidayatullah sah-sah saja menyerukan kampanye boikot produk Israel. Bahkan kalaupun memang tujuan terselubungnya adalah menjatuhkan produk pesaing, itu juga hal wajar dalam industri media. Hanya saja yang dimunculkan adalah desain “tidak pintar” yang secara frontal menyerang produk-produk tersebut. Dengan perumpamaan gamblang, ada pembunuh yang dengan santai menusuk perut korbannya, membiarkan darah berceceran, dan dengan santainya bilang “Gilee.. gw baru aja bunuh orang lho”. Dalam keadaan seperti itu jelas si pembunuh tidak bisa protes kalau polisi memenjarakan dirinya, apalagi membawa-bawa teori konspirasi Yahudi kalau nanti diajukan ke meja hijau oleh Sara Lee.

howard

Solusi desain itu ada banyak, termasuk untuk  urusan kampanye negatif. Misalnya saja contoh kampanye politik anti John Howard ini. Tidak menyinggung perasaan dan tidak pula melanggar hukum.  Jadi kalaupun memang Hidayatullah memposisikan diri sebagai media pemberani dan lantang menyerukan jihad terhadap Israel, harusnya ada cara lebih cantik untuk menyerukan boikot terhadap produk Israel, bukannya main potong tempel merk dan logo milik orang lain.

Kalau cukup cermat, kita bisa lihat bahwa situs ini dengan berani membuat pernyataan “copyright © Hidayatullah.com. All right reserved”. Pernyataan ini bukan pajangan belaka. Ia bisa dimaknai sebagai pernyataan “Ya.. kamilah yang memegang hak cipta untuk semua hal yang ada di dalam website ini. Kalau ada yang melanggar hak cipta orang lain, kami bersedia dituntut!”

Sayang sekali kita abai terhadap masalah-masalah seperti ini.

* Cuplikan poster di atas adalah screenshot terhadap poster yang sedang berusaha disebarluaskan oleh Hidayatullah.com. Saya hanya hendak memberi informasi tentang apa yang sedang terjadi dengan gambar kecil dan resolusi rendah. Harusnya ini tidak merugikan siapapun. Silakan download versi aslinya di hidayatullah.com.

* Poster anti Howard di atas saya ambil sebagai screenshot dari http://forum-politisi.org. Tujuannya hanya sebagai informasi dan seharusnya tidak merugikan siapa-siapa karena resolusinya sangat rendah. Isi artikelnya juga menarik.

Iklan

5 Responses to “Poster Boikot Hidayatullah.com”


  1. 1 Jafar Soddik 16 Februari, 2009 pukul 5:26 pm

    Udah lama ga berkunjung ke websitenya dan ternyata tampilan Hidayatullah.com sekarang sudah berubah.

    Apa yang anda ‘opinikan’ memang benar, terkadang niat baik yang ingin kita lakukan tapi cara yang dipakai tidak cerdas sehingga bukan hasil yang optimal yang akan didapatkan tapi malah kita sendiri yang akan terjebak dalam ‘ruwetnya’ dunia hukum.

    Kalau sekedar himbauan ada baiknya mungkin Hidayatullah lebih hati-hati dalam menterjemahkan himbauannya tersebut sehingga tidak membuat masalah baru ke depannya.

    Mudah-mudahan tidak cuma Hidayatullah saja yang harus lebih cerdas tapi umat Muslim keseluruhan, agar kita tidak mudah terjebak dalam ‘permainan politik’.

  2. 2 haekal 26 Februari, 2009 pukul 1:05 pm

    ass.wr.wb.segala puji tas kehadirat Allah SWT .
    sebelumnya saya mohon maaf, apabila perkataan saya lancang. kalau bisa gambar posternya yang lebih menarik lagi. terima kasih atas tanggapannya.
    was.wr.wb.

  3. 3 sumayyah 13 Agustus, 2009 pukul 2:30 pm

    salam…
    kueren abis buat posternya…. sy berharap hidayatullah bisa mencetak lebih banyak lagi dan membagikannya ke semua instansi: baik sekolah atau pemerintah, tidak hanya terbatas pada masjid. terimakasih.
    wasalam…

  4. 4 abiehakim 8 Maret, 2011 pukul 11:57 pm

    Ya nanti masyarakat akan tahu kok, bahwa keganasan israel jauh lebih berbahaya daripada “poster jualan” hidayatullah. memerangi israel memang bukan pake peluru atau diplomasi, tapi boikot tu produk yg akan disumbangkan ke israel

  5. 5 Mursito Zain 12 Juli, 2014 pukul 11:12 am

    Ayo berlebaran tanpa Fanta/Cocacola/Sprite ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d blogger menyukai ini: