Dunia dengan Indonesia di Dalamnya

Seseorang bertanya seperti ini di Yahoo Answer:

Apa pendapatmu jika pada satu saat indonesia jadi pemimpin peradaban dunia?

Saya jawab seperti ini:

Not in a million years.

Bangsa kita punya sifat paranoid (senang mengarang-ngarang cerita konspirasi), penggemar fallacy (menjawab pertanyaan-pertanyan dengan logika sembarangan), destruktif (menganggap pembangunan itu sama dengan penghancuran peninggalan lama), penghayal (petantang-petenteng menghujat negara besar tanpa melihat nasib diri sendiri), cengeng (rakyatnya menganggap kemakmuran sejati itu berarti subsidi di semua sektor), dan picik (menganggap seluruh kebudayaan adalah miliknya seorang yang tidak boleh dibagi dengan bangsa lain).

7 Responses to “Dunia dengan Indonesia di Dalamnya”


  1. 1 mamas86 26 Januari, 2009 pukul 7:36 pm

    Kira-kira jawaban yang ditulis nih juga menjawab dengan sembarangan ga ya…❓
    Wah saya ga tau jawabnya kalau ditanya tentang negara…

  2. 2 setanmipaselatan 26 Januari, 2009 pukul 11:58 pm

    kalo saya sih bakal menjawab “saya senang”. karena hal itu terjadi jika dan hanya jika segala hal yang ada di jawaban sampeyan itu sudah hilang😀

  3. 3 Lemon S. Sile 27 Januari, 2009 pukul 12:28 am

    Saya akan jawab, “Saya sudah bukan WNI lagi saat itu”.

    Tapi memang secara sinis Indonesia memang seperti itu. Yang paling memberatkan adalah mengenai subsidi itu. Bagaimana bisa subsidi pemerintah dikatakan kemakmuran rakyat? Yah, memang pemerintah dapat uang dari rakyat juga. Tetapi bukankah kemakmuran rakyat itu kalau rakyat bisa berdiri sendiri?

    …ah, lupa saya. ini kan fallacy.

  4. 4 ahmad 28 Januari, 2009 pukul 11:48 pm

    kondisi masyarakat kita memang seperti itu, memang tidak membanggakan, tapi jangan di dramatisir dong.
    saam kenal.
    peace😀

  5. 5 joesatch yang legendaris 29 Januari, 2009 pukul 10:15 pm

    @ ahmad

    kalo memang iya kenyataannya seperti itu, wew, berarti ya bukan dramatisasi lagi, dunk, namanya. dramatisasi kan untuk menjelaskan sesuatu dengan dilebih2kan:mrgreen:

  6. 6 Jafar Soddik 1 Februari, 2009 pukul 9:32 am

    Pertanyaan seperti itu muncul dari pengharapan yang besar bahwa suatu saat nanti bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Dan berharap seperti itu tentu sah-sah saja karena harapan adalah doa.

    Namun harapan hanya akan menjadi harapan manakala kita tidak pernah mau merubah nasib kita sendiri yang dimulai dari sekarang ini🙂.

    Wassalam

  7. 7 Rian Xavier 2 Februari, 2009 pukul 11:51 am

    Seperti itulah kenyataan yang ada sekarang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: