Obamaisme

Hari ini di Rakyat Merdeka saya membaca berita tentang kefasihan Obama berbahasa Indonesia. Dia bisa menjawab pertanyaan ramah-tamah Charles Silver. Spontan seluruh surat kabar pun ribut membicarakan rencana kunjungan Obama ke Menteng Dalam, tampat dia pernah dibesarkan dulu.

Sebenarnya jika kita jeli, ada suatu pertanyaan menarik mengenai rencana ini. Bukan apakah nanti dia akan menyalami saya saat berkunjung ke sini, karena bagaimanapun kampus saya ada di dekat Menteng. Atau apakah nanti dia mau repot-repot memperhatikan kosan saya yang sampai sekarang masih saja berantakan.

Tapi ini sebuah pertanyaan autokritik buat kita semua.

Saya begitu ingin bertanya kepada koran-koran yang begitu bersemangat memberitakan “Gilaa… Obama Mau Datang ke Sini, Euuuy!”. Padahal baru beberapa minggu lalu mereka sibuk mengecam tindakan Amerika yang mendiamkan Israel saat mereka mengagresi Palestina. Atau bagaimana kita sibuk menyajikan data memburuknya perekonomian Amerika akibat skandal keuangan. Atau bagaimana buruknya penghargaan HAM dalam berbagai operasi militer Amerika melawan terorisme.

Tapi untuk kali ini lebih baik tidak menyalahkan media. Karena mereka mau tidak mau menyajikan berita yang akan laris untuk dijadikan headline. Halaman depan sebuah koran hanyalah cermin kepribadian bangsa kita sendiri dalam menentukan, berita seperti apa yang akan laku dijual, dan seperti apa yang tidak.

Maka mari bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa kita begitu mencintai Obama?”

Menurut saya ini pertanyaan yang logis saja untuk dilontarkan. Karena sangat lucu dengan adanya figur seorang Obama, tiba-tiba saja dalam sehari kita sudah menjadi sekutu dan saudara dekatnya Amerika. Padahal baru kemarin kita mencaci-maki mereka dengan ideologi kapitalisme dan kedekatannya dengan Israel. Beberapa hari lalu masih saja ada rakyat kita yang tersinggung kalau Pancasila dikait-kaitkan dengan liberalisme.

Dan sekarang tiba-tiba saja Amerika terdengar seperti kampung halaman kita sendiri.

Padahal apakah seorang Obama saja cukup untuk mengubah peta perpolitikan dunia? Terlalu naif. Bangsa kita sepertinya tidak pernah belajar bahwa figur kepahlawanan tidak pernah cukup memperbaiki situasi, entah itu masalah daerah, negara, atau bahkan internasional.

Kita sudah melewati empat kepemimpinan kharismatis dan populis, Sukarno, Suharto, Megawati, SBY, di samping 2 kepimpinan lain yang tidak kalah populer. Cobalah tanya, apa yang kurang dari pribadi mereka? Bahkan sebuah partai bersih macam PKS pun berani menyebut Suharto sebagai tokoh bangsa.

Tapi pernahkah kita bertanya, “Dengan ketokohan yang hebat seperti itu, kenapa bangsa kita masih saja terpuruk?”

Mari kembali lagi kepada cerita mengenai Amerika. Kita begitu melupakan bahwa Amerika tidak dijalankan begitu saja oleh seorang Obama, seperti Khadafi atau Fidel Castro menjalankan negaranya. Di balik Obama masih banyak lagi figur-figur lain yang mungkin kalah terkenal, atau tidak pernah menghabiskan waktu kecilnya di daerah Menteng. Tapi yang jelas mereka bisa punya lebih banyak kendali atas CIA, World Bank, PBB, atau IMF. Dari merekalah sebuah sistem besar seperti Amerika bisa berjalan.

Apalah artinya seorang Obama.

Semangat dan retorika Obama mungkin menggetarkan hati semua orang. Seperti juga kepahlawanan Megawati menggetarkan jutaan nasionalis, atau senyum Suharto bisa membuat kecut jutaan PNS yang siap memilih partainya.

Tapi mari tidak terkecoh dengan sebuah figur. Sikap Amerika terhadap negara lain tidak ditentukan oleh pidatonya Obama saja, tapi juga anggota legislatifnya, senat-senatnya, anggota Partai Demokrat, pengusaha-pengusaha besar yang punya kepentingan dengan Amerika, hingga (konon katanya) para Yahudi yang mengendalikan pemerintahan secara diam-diam. Amerika adalah sebuah sistem, seperti juga Indonesia adalah sebuah sistem.

Maka buat saudara-saudara saya yang memilih pada Pemilu 2009 nanti, saya ingin mengajukan pertanyaan. Apakah kita memilih hanya karena perjuangan gigih Megawati, kegantengan Prabowo, betapa simpatiknya Meutia Hatta, bersihnya Hidayat Nur Wahid, kharismatiknya Sri Sultan, ramahnya SBY, atau ngocolnyaYusuf Kalla?

Apakah kita hendak berpura-pura lupa siapa saja orang di belakang mereka? Seperti apa motif pribadinya untuk  mendukung salah satu calon? Apa yang membuat mereka rela jor-joran membiayai kampanye partai? Apa ideologi yang mereka usung?

Atau memang kita memang paling tidak cocok dengan ideologi macam-macam. Kita tidak rela pemilik modal berkuasa dengan sistem kapitalisme, kita tidak rela hidup sama rata-sama rasa ala sosialisme. Kita bahkan tidak cocok dengan ideologi Pancasila yang rumit itu. Kita sebenarnya lebih cocok dengan ideologi ketokohan. Mana yang terlihat nggantengi, mana yang pidatonya terdengar meledak-ledak dan setelan jasnya keren, maka itulah yang kita pilih.

Obamaisme?

2 Responses to “Obamaisme”


  1. 1 ahmad 28 Januari, 2009 pukul 11:50 pm

    ahh.. saya tidak suka obama. sangat yahudi, artinya sama saja dengan si bush, cuma beda kelir doang

  2. 2 Xaliber von Reginhild 30 Januari, 2009 pukul 3:18 am

    Ahah, figur memang salah satu hal yang paling efektif yang bisa ‘menipu’ publik.😛 Jadi, yah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: