Jangan-Jangan Kita Butuh Helikopter Kepresidenan!

Ini bukan sindiran. Hanya sebuah pertanyaan logis saya saat menyaksikan betapa banyak sekali hari-hari kita dalam setahun yang diganggu oleh begitu nyamannya Presiden menikmati jalanan umum.

Umum, ya.. UMUM. Sebuah kata yang berarti semua orang tanpa harus melihat kasta, pangkat, dan jabatan bisa menggunakannya. Satu-satunya pengecualian atas kebebasan itu adalah aturan yang disepakati bersama (dalam hal ini rambu-rambu) dan orang yang memastikan kesepakatan itu dijalankan dengan disiplin (dalam hal ini polisi).

Presiden tidak termasuk profesi yang berwenang mengatur lalu lintas atawa mengejar jambret bermotor. Dan saya pikir sampai sekarang belum ada satu Presiden pun yang berani berpeluh melakukan tugas itu. Maka saya pikir sebenarnya tidak ada kepentingan untuk mendahulukan jalannya mobil sebuah, eh, seorang Presiden dibanding kepentingan masyarakat banyak. Karena kontribusi terbesar dalam membangun jalan umum adalah pajak masyarakat, bukan pajak Presiden.

Tapi kan Presiden itu seorang Kepala Negara yang perlu dihormati?

Lalu kenapa? Memangnya kewibawaan seorang Presiden akan luntur kalau dia turut menikmati penderitaan rakyatnya dalam mengantri sebuah kemacetan? Lah lah.. ini toh musim Pemilu. Semakin sering seorang Presiden merelakan dirinya terjebak macet, semakin tinggilah simpati rakyat kepadanya.

Tapi tugas seorang Presiden kan sangat penting bagi kelangsungan negara?

Lho, kalau alasannya seperti itu kan sudah pernah ada usulan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari kota sumpek Jakarta ini? Toh kita sudah pernah memiliki sejarah pemindahan ibukota ke Yogyakarta dan Bukittinggi. Lalu apa susahnya sekarang? Toh sama-sama urgent dan demi kepentingan kelancaran tugas negara.

Tapi.. tapi.. tapi..?

Kalau memang mustahil memindahkan ibukota negara, lalu kenapa kita tidak usahakan saja sebuah helikopter Kepresidenan? Di Jakarta saya pikir sudah sangat banyak gedung tinggi yang bisa disulap jadi Helipad. Dengan demikian Presiden bisa berkunjung ke manapun dia suka tanpa harus mengganggu kepentingan umum. Kemacetan sejam saja di daerah Thamrin atau Sudirman bisa menyebabkan kerugian milyaran Rupiah lho!

1 Response to “Jangan-Jangan Kita Butuh Helikopter Kepresidenan!”



  1. 1 Pak Presiden, Berhenti Mengunjungi Daerah Saya, Dong? « Hariadhi Lacak balik pada 28 Maret, 2009 pukul 2:15 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: