Negeri Kemunafikan

Sobatku, negeri ini begitu penuh dengan kemunafikan, apalagi yang berhubungan dengan BBM. Mau kuceritakan kisahnya?

Sekitar pertengahan tahun lalu, harga minyak dunia meroket. Adalah hal yang logis jika harga minyak di Negara ini ikut naik, karena bensin yang harum itu tidak keluar begitu saja dari perut bumi.

Supaya bisa dipakai, minyak ini harus diolah dulu, sampai jadi bermacam-macam jenis minyak konsumsi, dengan komposisi yang berbeda-beda, bukan semuanya bensin. Karena itulah lebih ekonomis jika minyak ini dijual ke luar negeri, baru kemudian hasil penjualannya dipakai untuk membeli bensin, diesel, dan minyak tanah murni. Supaya stok kita tidak berlimpah dengan ter, aspal, lilin, dan oli saja.

Tapi para politikus yang gelap mata dengan kekuasaan memanipulasi proses ini supaya terlihat bahwa pemerintah sekarang ini begitu bodoh menjual minyak lalu membelinya kembali dengan harga mahal. Angka-angka dibuat dengan daftar yang begitu meyakinkan orang banyak bahwa minyak itu dijual murah lalu dibeli kembali dengan harga mahal. Demi kepentingan politis, dibuatlah seolah-olah produksi minyak itu tidak perlu biaya eksplorasi, produksi, transportasi. Semua mengucur begitu saja dari perut bumi dan kita menadahnya dengan rantang.

Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa eksplorasi minyak bumi itu setengah berjudi. Memang ada campur tangan geologis dan geofisikawan dalam usaha menentukan lapangan minyak. Tapi tetap saja kita tidak tahu seratus persen seperti apa isi tanah yang kita injak. Entah isinya minyak bumi atau sekedar minyak jerawat yang keluar dari bintil-bintil komedo, kita hanya bisa tahu setelah bor eksplorasi ditancapkan ke tanah. Dan proses itu butuh investasi besar. Seringkali jauh lebih besar daripada sekedar hitung-hitungan biaya pompa untuk menaikkan minyak bumi ke permukaan tanah.

Sebentar sobatku, ceritaku masih panjang.

Selain politikus, yang akan sangat kebakaran jenggot dengan kenaikan harga minyak adalah para penyelundup dan pengusaha. Tidak usah munafik, salah satu hal yang membuat banyak pengusaha kita cepat kaya adalah subsidi tidak langsung oleh para penyelundup minyak. Di jalanan daerah, mudah sekali kita temukan mobil tangki BBM bersubsidi yang disuruh menepi dan “pipis”. Pipis di sini maksudnya adalah isinya dikeluarkan sedikit demi sedikit, dikumpulkan, lalu dijual kembali dengan harga yang lebih mahal, tapi masih di bawah harga BBM industri.

Jadi jangan heran walaupun di atas kertas para konglomerat itu harus membeli BBM dengan harga non subsidi, yang mereka dapat sebenarnya BBM bersubsidi. Dan selisih harga yang sangat besar itu mereka bisa mendapatkan keuntungan berlipat ganda dan jelas tidak bisa dipajaki untuk kepentingan rakyat. Ya mana bisa dipajaki, karena tidak mungkin mereka membuat laporan keuangan tentang pembelian BBM non subsidi abal-abal yang sudah meroketkan pendapatan mereka.

Maka jelas mereka menentang kenaikan harga BBM. Sebab pengusaha kita kehilangan margin keuntungan jika selisih harga BBM industri dengan BBM konsumsi jadi tidak besar lagi. Sementara para penyelundup kehilangan mata pencaharian mereka karena tidak ada untung lagi dengan “pipis” di jalan.

Demikianlah kemunafikan bangsa kita, menjual retorika penderitaan rakyat demi kepentingan pemilik modal.

Selesai begitu saja? Belum. Munafik itu tidak selesai satu atau dua perbuatan. Mari kulanjutkan kisahnya.

Mari bercerita soal Organda. Perkumpulan pengusaha transportasi ini berpijak kepada kepentingan rakyat sebagai konsumen, supir sebagai operator, dan pengusaha sebagai pemilik modal. Itu di atas kertas. Dan mereka tampaknya begitu memperlihatkan kepahlawanan yang di atas kertas itu.

Tersebutlah Mei 2008, anggota Organda beramai-ramai menolak kenaikan tarif. Alasannya sederhana, mereka begitu memperhatikan kepentingan rakyat kecil yang katanya sudah banyak menderita akibat kenaikan harga pangan. Tidak perlu dibebani lagi dengan kenaikan tariff transportasi. Sebagai kompensasinya, mereka minta supaya pajak dikurangi, harga suku cadang dikurangi (mungkin maksudnya disubsidi), dan proses pendaftaran kendaraaan umum dibuat mudah.

Pernyataan sikap seperti itu jelas akan membuat haru biru rakyat kita. Betapa pengusaha transportasi kita mau berkorban membuang potensi bertambahnya keuntungan dengan menolak kenaikan tariff. Pernyataan yang sangat heroik.

Tapi siapakah yang akan menganggap itu sebagai pernyataan heroik? Siapa yang akan menangis terharu? Justru orang-orang yang tidak pernah naik kendaraan umum!

Mari kuceritakan kisah tiga malam sebelum kenaikan tariff BBM. Banyak supir sudah seenaknya menaikkan tariff dengan alasan BBM sudah naik. Tarif resmi masih 2000, tapi di jalanan sebenarnya sudah 2500. Dan siapa lagi yang bisa membuat supir nekat menaikkan tariff sepihak, kalau tidak pengusaha (pemilik modal sendiri) yang menaikkan target setoran?

Mau lihat sisi munafik sebenarnya? Lihat lagi tiga paragraf di atas. Pengusaha meminta pajak diturunkan dan harga suku cadang dikurangi. Sementara di jalanan diam-diam mereka juga sudah mendapat keuntungan lebih dengan mendahului kenaikan harga BBM. Lihatlah bahwa mereka sebenarnya menari-nari dengan naiknya harga BBM.

Aku tidak mengada-ada, sobatku. Sekarang lihatlah sikap mereka saat harga BBM turun. Adakah hati mereka tergerak untuk menurunkan tarif? Bahkan setelah DPRD merapatkannya? Sedikut pun tidak, sobatku. Sedikit pun tidak.

Sekali lagi, retorika “demi kepentingan rakyat kecil” sudah dijual demi kepentingan para pemilik modal.

Sobatku, aku masih memiliki kisah dengan seorang supir taksi.

Di dalam pikiranku, merekalah orang-orang yang terkena imbas terbesar kenaikan minyak bumi. Bagaimana tidak? Taksi bukanlah angkutan bersubsidi. Di sana murni persaingan bisnis yang menghitung keuntungan dan kerugian. Maka heranlah aku saat mereka tetap saja “narik”, sementara ribuan orang yang mengaku-aku masyarakat transportasi meminta harga BBM turun dengan cara apapun.

“Ga ikutan demo, Pak?”, suaraku.

“Walah.. ngapain mas? Toh nanti juga tarif taksi naik. Manajemen kita ga begitu bodoh membiarkan supir-supirnya menderita. Semua udah ada hitungannya kok.”

“Lho.. berarti perusahaannya merugi dong?”

“Ga juga. Justru ini kesempatan kita untuk perang tarif. Selagi perusahaan taksi lain sibuk naikin tarif dan nyuruh pegawainya ikutan demo, kita ada di jalan dengan tarif tetap. Jelas pelanggan akan lari ke kita semua”

Sebuah jawaban dari seorang supir taksi yang membuatku terperangah. Tak kusangka kalimatnya begitu mengena dan analitis. Jawaban dari orang sekelas supir taksi. Merekalah sebenarnya para rakyat kecil yang disuarakan oleh politikus itu.

Sobatku, sekarang harga minyak dunia sudah terjun bebas. Maka terjun bebas pulalah harga minyak nasional kita. Ups tidak.. pemerintah kita sudah lebih pintar untuk tidak menurunkan BBM tiba-tiba.

Lho.. bukannya lebih bagus kalau harga BBM diturunkan sekaligus supaya rakyat kecil bisa merasakan dampak langsungnya?

Iya, lagi-lagi itu hanya berlaku di atas kertas dan sudah dimanipulasi dengan menjual kata “demi rakyat kecil”.

Mari berpikir logis. Spekulan BBM hidup dengan adanya kenaikan dan penurunan harga yang signifikan dan begitu tiba-tiba. Kenapa? Supaya resiko berspekulasi (misalnya tertangkap) bisa ditutupi oleh keuntungan berspekulasi.

Maka yang membuat kaya para spekulan bukan hanya kenaikan mendadak Harga BBM, tapi juga penurunan mendadak. Penurunan mendadak memberi kesempatan para spekulan untuk membeli kembali stok BBM untuk ditumpuk dan dijual saat harga sudah naik lagi.

Keputusan pemerintah untuk sedikit demi sedikit saja menurunkan harga BBM jelas membuat mereka kebakaran jenggot. Kenapa tidak sekalian saja banyak supaya kami lekas kaya?

Sekarang kuberi satu cerita lain, cerita perang Timur Tengah Palestina dan Israel. Hamas dan pemerintah Israel saling memprovokasi dan akhirnya saling gempur. Ribuan rakyat Palestina dan Israel mati. Oh tidak, mari kita manipulasi saja beritanya supaya ribuan rakyat Palestina saja yang mati.

Maka efeknya mudah ditebak. Ribuan orang turun ke jalan, menyemangati Palestina supaya terus berjuang melawan Israel. Semua orang lupa satu hal yang simple namun sangat berpengaruh kepada nasib rakyat kita.

PERANG PALESTINA ISRAEL BISA MEROKETKAN KEMBALI HARGA MINYAK.

Ah peduli apa? Yang penting solidaritas antar muslim. Peduli amat muslim di sini banyak yang mati gara-gara kelaparan karena kenaikan harga minyak akan diikuti kenaikan harga pangan. Masa bodo! Yang penting kita semua peduli dengan nasib muslim Palestina! Mari kita berjihad untuk membantu perlawanan rakyat Palestina. Perang yang panjang dan tidak berkesudahan itu asik lho! 17 bidadari akan menanti para syuhadawan di surga!

Maka tertawalah kembali para spekulan. Karena baru satu minggu saja perang itu sudah menaikkan harga BBM sebesar $5. Coba bayangkan kalau perang itu bisa berlanjut hingga berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun. Wow!

Masuk akal tidak kalau di balik tumpukan mayat rakyat tak berdosa di Palestina dan Israel ada sesosok bayangan hitam sedang menari-nari?

Ah.. mari kita beralih kepada cerita kemunafikan lainnya.

Tersebutlah para politikus yang mengaku-aku oposisi. Mereka ini partai yang dulunya memerintah namun akhirnya kalah dan terpaksa menyerahkan kepada pemerintahan sekarang. Betapa gigih mereka membela kepentingan rakyat. Setiap kali harga minyak naik, mereka protes karena satu hal saja, “kami kan oposisi. Jadi apapun yang dilakukan oleh pemerintah harus kami nyatakan sebagai kesalahan. Karena kami adalah oposan sejati. Jangan lupa tambahkan kalimat kami membela rakyat kecil, ya….”

Sekarang BBM diturunkan, dengan serempak mereka bernyanyi merdu “Ah.. itu langkah populis pemerintah karena sebentar lagi Pemilu, itu kebohongan public!’

Mereka lupa, atau pura-pura lupa, pada masa mereka memerintah, yang mereka lakukan setali tiga uang. Di akhir pemerintahan tiba-tiba saja tidak ada angin, tidak ada badai, harga BBM mereka turunkan. Sama saja, penurunannya tidak signifikan, tapi lalu diklaim sebagai sebuah prestasi besar pemerintahan masa itu.

Maka sobatku, mari kita berbahagia hidup di sebuah negeri kemunafikan. Negeri di mana kata-kata “demi kepentingan rakyat kecil” dijual untuk kepentingan politikus dan pemilik modal. Negeri di mana pengusaha tidak bisa berpikir kreatif untuk mencari potensi keuntungan, karena yang mereka pikirkan bagaimana memanipulasi peraturan agar member mereka duit Cuma-Cuma tanpa harus bersusah payah. Negeri di mana politikus bisa menjilati ludahnya sendiri, mengkritisi orang lain karena melakukan tindakan serupa yang pernah mereka lakukan di masa lalu.

Sobatku, kita hidup di negeri yang menjual penderitaan rakyat kecil, bukannya optimisme. Negeri di mana berita buruk dan pesmisme adalah komoditi yang begitu laku dijual. Inilah negeri para pecundang, negeri orang-orang munafik.

Sobatku, tidak sadarkah kau? Orang-orang yang sibuk berpidato di depan kamera itu sehari-harinya berbelanja di mal mewah, liburan ke luar negeri, membeli jas bermerk. Lalu pada waktunya mereka disorot kamera, mereka buru-buru mengganti jasnya dengan kaos compang-camping…

Pernahkah kau berpikir seberapa banyak sebenarnya dampak kenaikan BBM kepada kehidupan mereka, jika tabungan mereka sebenarnya hitungan Trilyunan?

Sobatku, jangan salahkan kalau nasionalisme sudah lama kucoret dari kamusku. Karena saat aku cinta negaraku dengan sungguh-sungguh, yang terjadi adalah para pecundang itu memeras semua cintaku demi kepentingan pribadi mereka.

Sobatku, kalau kau ingin hidup bahagia di negeri ini, maka jangan turuti langkahku. Hiduplah seperti para pecundang itu hidup. Suarakanlah kepentingan rakyat kecil untuk menutupi agenda pribadimu. Retorikakanlah di blog, forum, dan media lain bahwa kenaikan BBM akan menyengsarakan rakyat, niscaya hits ke blogmu akan naik pesat.  Analisalah bahwa pemerintah menurunkan harga BBM demi kepentingan politis sesaat, maka sahabat-sahabatmu akan bertambah.

Sobatku, selamat menikmati hidup indah di negeri kemunafikan.

Tembusan untuk para sobatku:

Harga Minyak Dunia Turun

Jimbo

Reminiscence

Catatan Tentang Militansi

Tentang Israel, Yahudi, Zionis, dan Palestina

Ardifa

2 Responses to “Negeri Kemunafikan”


  1. 1 Lemon S. Sile 20 Januari, 2009 pukul 6:06 pm

    Kritik sedikit:
    Saya agak kurang sreg sama gay penyampaian begini.😐
    (no offense)

    Indonesia memang seperti itu. Memperbaikinya ada yang punya solusi? Saya jelas tak punya.
    Kondisi di atas bukan lai kemunafikan, cuma kegilaan. Lingkaran setan.

  2. 2 sekolahseks 21 Januari, 2009 pukul 10:52 pm

    blog ini isinya macem-macem yach..
    lumayan bisa buat tambah informasi temani sarapan pagi.

    informatif dan menarik. Saya akan menyimpan link blog ini..
    terima kasih
    update terus bos !

    http://sekolahseks.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: