Cuci Tangan

Saya lihat di koran ini berita tentang Anak SD gantung diri. Seperti biasanya masalahnya adalah keadaan ekonomi, tak bayar uang sekolah lalu merasa hidupnya tak berguna, dan bunuh diri. Lengkap pula bahasan bagaimana rakyat kecil terhimpit ekonominya karena kebijakan pemerintah yang begini begitu.

Lagi, saya merasa speechless dengan media. Analisa yang benar-benar aneh. Karena setahu saya keuangan keluarga bukanlah tanggung jawab seorang anak. Kok bisa-bisanya yang stress malah anaknya, bukan bapaknya. Oke.. saya sendiri pun pernah merasa rendah diri karena tidak terlahir di lingkungan kaya. Ejek-mengejek masalah ekonomi keluarga itu biasa. Lah, kaya miskin itu sudah pasti terjadi di negara manapun, kok.

Tapi kalau sampai dibawa bunuh diri?

Saya melihat bahwa kejahatan -eh, dalam hal ini musibah- terjadi bukan hanya karena ada kesempatan dan keinginan, tapi karena otak kita telah diberi alternatif seperti itu. Coba kita tanya, kok bisa pikiran anak-anak yang masih kosong bisa mendapat ide untuk menghabisi nyawanya sendiri?

Mengapa kita enggan menarik akar masalah ini semua? Perhatikanlah bagaimana media-media munafik itu menyajikan berita-berita kriminal tiap hari, di jam makan siang yang dengan mudah bisa diakses anak-anak. Generasi muda kita tumbuh dengan membiasakan diri terhadap darah dan kesadisan. Percaya tidak kalau berita kriminal bisa dibeli lebih murah daripada beli gorengan?

Lihatlah sinetron-sinetron melankolis menyajikan penderitaan si miskin dan penindasan oleh si kaya. Lihatlah bagaimana judul berita hari ini “Si Fulan ditusuk karena berhutang, Darahnya ngalir-ngalir, Kepalanya PECAH, MATI!!!!” atau “Dukun AS ketahuan cabul, LEHERNYA PATAH GANTUNG DIRI”. Kematian dipajang di jalanan, kematian bisa ditemukan kapan saja kita mau dengan tinta merah. Tidakkah itu mengerikan?

Buat orang dewasa yang menonton mungkin tidak masalah, kita bisa memfilter dengan pikiran yang lebih matang. Bahkan bagi sebagian orang bisa jadi hiburan. Tapi buat anak-anak? Ini tidak jauh-jauh dari pencucian otak. Setiap beberapa jam sekali kata MATI masuk ke otak mereka. Mati adalah solusi.

Mari tidak menjadi munafik. Sehabis menjual berita kriminal demi segepok uang dari pembaca, lalu sibuk menuding pemerintah sebagai sumber semua masalah. Seolah kemiskinan adalah biang kerok. Semua masalah disimpelkan gara-gara anggaran pendidikan masih jauh dari 20%. Cuci tangan, eh?

Saya pun tidak ingin munafik. Ini bukan masalah moral, kita bahas saja dengan logika yang baik. Maka saya menawarkan solusi. Kalau memang berita-berita kriminal sedemikian pentingnya, mengapa tidak digeser saja jam tayangnya menjadi jam-jam yang hanya bisa diakses orang dewasa? Mungkin jam 11 malam? Koran-koran yang menyajikan berita sadis dimasukkan kategori barang dewasa. Tidak boleh dipajang di depan umum dan untuk membelinya perlu KTP. Masuk akal, bukan?

Aduh…. saya lupa, kapitalisme media berkuasa di negeri ini. Siapa sih yang bisa mengatur-atur mereka?

Iklan

3 Responses to “Cuci Tangan”


  1. 1 Rindu 19 Mei, 2008 pukul 1:16 pm

    Miris emang baca berita kaya gitu … TAKUT lebih tepatnya.

  2. 2 Rindu 19 Mei, 2008 pukul 1:17 pm

    Har, jangan lupa cuci tangan sebelum makan yah… biar sehat.

  3. 3 Nazieb 19 Mei, 2008 pukul 6:00 pm

    Ah, itu kan kebebasan pers..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

%d blogger menyukai ini: