Originalitas

Apa arti sebuah originalitas? Apa emang kalau bikin karya harus seratus persen asli?

Engga, tapi kan lu harus bisa punya ciri sendiri juga. Entah subjek yang beda, teknik yang beda, cerita yang beda, atau warna yang beda

Lah tapi warnanya saja sudah beda kan? Syahnagra cenderung putih bak di kayangan… Yang ini cenderung lebih muram.

Tapi dari segi pesan ada ga sih yang beda?

Pesan ya suka-suka si pelukisnya, dong? Tugas elu lah sebagai penikmat untuk mengapresiasi dan menemukan pesannya.

Bukankah lebih bagus kalau dia mengembangkan kekuatannya sendiri? Coba lihat drawing ini, terstruktur dengan baik. Serba jelas, dengan perhitungan yang matang.

Tapi kemiripan bukanlah segalanya dalam seni rupa, kan? Apa salahnya dia bereksplorasi dengan cara lain? Apa salahnya dia terinspirasi pelukis lain? Apa salahnya dia memiliki teman dan berbagi ide, teknik yang sama? Toh teknik itu universal, bukan eksklusif milik pelukis tertentu.

Hmm.. tapi di umurnya yang segini?

So? Elu pun baru belajar desain di umur yang udah ga berondong lagi. Apakah lu sudah jadi expert? Belum kan?

Jadi apa yang bisa kita simpulkan? Seorang seniman yang masih mencari jati diri?

Terlalu dini kesimpulan itu. Elu baru ngeliat satu sisi tembok pameran. Coba lihat dinding lain, betapa kuatnya goresan-goresan itu, betapa beraninya ia bermain dengan warna.

Jadi?

Jadi kalau mau sok-sokan jadi kritikus, elu harus ikuti dia. Cari tahu kapan lagi pameran dia berikutnya. Pelajari perkembangan cara melukisnya. Masih seperti ini apa akan jauh berkembang? Ataukah lain kali dia punya pesan menarik untuk disampaikan?

*Sebuah apresiasi asal bunyi setelah dua kali main-main ke Pameran Winarti Handayani – Odyssey. Maaf kalau ga terstruktur, mbak. Semoga ga tersinggung. Hehehhee.

Iklan

3 Responses to “Originalitas”


  1. 1 Lingga T 13 Oktober, 2009 pukul 2:44 am

    salam kenal, hariadi..
    gw baca tulisan lu ttg originalitas ketika gw lagi cari makna tertentu ttg originalitas..dan gw rasa gw pgn nyautin..
    mm..bagi lu originalitas yg dimaksud itu adalah apa yg muncul dari karya.begitu?originalitas dari perspektif ide??
    gw sendiri menemukan kesulitan dalam deskripsi originalitas..mungkin dalam hal ini gw ga beroposisi dgn pendapat lu.cuman gw menangkap bahwa sebenarnya nilai originalitas itu adalah sebuah instrumen eksternal dari sebuah karya,sehingga menurut gw pada suatu titik originalitas itu tidak lagi ditentukan oleh si pengkarya,tapi oleh si apresian.
    lain halnya dengan originalitas dari kadar seninya sendiri..maksud gw,sebuah karya yg sudah jadi itu tidak pernah lepas dari sesuatu yg berjudul “artificial”.yg berarti sesuatu yg buatan itu bisa juga dikatakan mengambil konsep dari sesuatu yg telah ada sebelumnya.
    misalkan kita lihat sebuah karya foto.secara estetis karya tsb mengandung makna yg mendalam bagi seorang apresian,menggunakan pengambilan angle yg baik dan tidak biasa,kejadian yg direkamnya pun sesuatu yg jarang terlihat sehari2.tapi lantas apakah itu bisa dikatakan original?karena bagi gw,pada suatu hal dalam sebuah karya,karya tersebut pun mengambil keberadaan dari sesuatu yg nyata yaitu “kejadian” itu sendiri.foto tersebut sebagai sebuah rekaman dari kejadiannya adalah bentuk “non-original”.tapi secara estetis bisa dikatakan seni karena mungkin pada satu hal lainnya ia memunculkan makna bagi apresian..
    gimana menurut lu?apa karya seni itu memang mengandung nilai originalitas yg inheren?

  2. 2 diandra astari 7 Desember, 2009 pukul 2:37 am

    hmm.. menarik. aku juga ‘nemu’ tulisan kamu waktu lagi nyari ‘apa itu originalitas’. aku setuju sama semuanya-ttg apa itu originalitas- tapi kita juga mesti ingat bahwa tidak ada yang benar2 original di dunia ini, kalau tidak salah Seno Gumira Aji darma pernah bilang “tidak ada sesuatupun yang original di dunia ini, barangkali yang benar-benar orisinil adalah Nabi Adam manusia pertama di dunia, setelah itu yang ada hanya sederet peniruan dan pengembangan dari yang sudah ada” setuju? aku sih setuju banget. lihat saja aku nulis ini saja pake kata-kata orang lain. jadi kita atau pun orang yang menamai dirinya seniman jangan terlalu pusing dan repot untuk menemukan jati dirinya dengan berlandaskan asas originalitas dalam berkarya. apa yang dikerjakan oleh para seniman itu lebih merujuk pada kreativitas dan mm.. improvisasi. terinspirasi lebih tepatnya. tapi juga harus diwaspasai bahwa inspirasi juga dapat mematikan kreativitas karena kita jadi terpaku dengan yang itu-itu saja. padahal di luar sana ada begitu banyak pilihan. so…

  3. 3 septafiansyah 25 Agustus, 2010 pukul 10:33 pm

    numpang ctrl+c ya ….mau kusimpan d blog…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: