Negatif Pertama

Seorang teman tengil melapor kalau dia baru saja mencoba pengalaman pertamanya dengan kamera SLR. Tentu setelah saya panas-panasi agar ia punya keberanian belajar dengan film saja, tidak bermahal-mahal dengan digital. Salut untuk yang satu ini, karena tak banyak yang punya kenekatan sama. Rata-rata orang terlalu takut bikin foto jelek, ingin langsung bagus. Maka mereka berpikir Digital-SLR lah satu-satunya pemecahan.

Saya sendiri dulu dipanas-panasi teman dan dosen saya untuk pakai film saja kalau mau belajar (Teman saya ini fotografer profesional, jadi sarannya memang tidak untuk diragukan. Dosen saya? Apalagi…).

Buat apa cape-cape pake Film, Har? Kan modalnya mahal! Repot lagi!

Pikiran sama pernah terlintas di kepala saya. Apalagi setelah ngiler ngeliat teman saya pakai D100nya. Apalagi foto-foto saya tak kunjung bagus. Tapi setelah lama memotret saya baru sadar kalau itu semua salah.

Mengapa? Karena dengan memakai film, kita dibiasakan untuk tidak manja. Setiap momen tak pernah terulang dua kali, maka dengan kamera film kita diajari untuk selalu siaga memencet kapan pun dibutuhkan dan istirahat kalau memang tak ada yang bagus. Tak ada istilah pengaturan otomatis, tak ada autofokus, tak ada tombol hapus. Semua serba terbatas, semua tergantung insting.

Dan seperti juga kesialan yang menimpa teman tengil saya itu, saya diajari bahwa cahaya adalah dewi sembahan dalam fotografi. Maka sembahlah dia dengan baik, tidak ada ruang untuk berceroboh diri dengannya. Sekali kita membuat sang dewi tersinggung, alamak tak akan ada foto bagus singgah ke film kita.

Tapi kan kalau salah ga bisa dihapus, Har?

Apa definisi belajar? Berpindah dari bodoh ke pintar, kan? Jadi kalau udah bisa membuat foto sempurna di kesempatan pertama, artinya ya sampeyan udah pintar, ndak perlu lagi belajar fotografi. Syuh, syuh… jangan dibaca lagi artikel ini.

Seriously, kesalahan di negatif pertama adalah sebuah cambuk yang tidak akan pernah kita lupakan. Kesalahan tidak pandang bulu, amatir ataupun profesional bisa melakukannya. Ia adalah hal wajar, sewajar seorang Nachtway membuat foto jelek. Kesalahan itulah yang akan membuat kita makin pintar. Maka jangan dihapus, biar kita tak pernah lupa.

Dapat pesannya?

Omong-omong gimana hasil negatif pertama lu, Har?

33 lembar foto gelap total, hehehehehe.

Iklan

6 Responses to “Negatif Pertama”


  1. 1 hariadhi 10 April, 2008 pukul 11:51 pm

    Selamat berjuang kepada yang baru saja mencetak negatif pertama! 😉

  2. 2 gurlinterrupted 10 April, 2008 pukul 11:59 pm

    waaa.. saya merasa tersanjung nih membaca posting ini hwahaha..

    yah, mayanlah.. walau yang jadi cuma 16 & sisanya negatif2 blur ga jelas, tapi ada kepuasan dan rasa penasaran yang tak tertahankan utk berusaha kembali hoho.. hidup SLR film! 😆

  3. 3 Philip 11 April, 2008 pukul 3:03 am

    Ternyata sama 😀
    Waktu pertama belajar (pake SLR Yashica tahun 90-an) juga rol pertama saya lebih banyak ancurnya daripada jadinya :))

    Baru agak membaik setelah mengorbankan uang jajan 6 bulan :))

  4. 4 gama 14 April, 2008 pukul 10:34 pm

    sekedar berbagi pengalaman. pertama aku belajar jeprat-jepret pake film BW, dan karena dgn BW kita bisa belajar dari zona Hitam ke Putih. BW is fine art.

  5. 5 iniangkasa 17 Juni, 2008 pukul 6:24 pm

    punya saya gagal semua tuh hihihi

  6. 6 susiloharjo 21 Juni, 2008 pukul 2:00 pm

    Kalau sudah ada yang digital buat apa pake film 😀 ngacir, lagian kemampuan melihat itu lebih penting dari gear jadi gear bukanlah yang menghasilkan foto bagus tapi kita yang harus diasah kejeliannya, hidup fotografer itu baru betul, kalau saya sih lebih memilih digital karena kita kan belajar menghasikan sesuatu yang bagus bukan belajar ngabisin duit buat cetak foto hanya untuk melihat foto yang ngga jadi karena gelap 😀 ngacir lagi. Peace ampun om salam dari seorang newbie 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: