Mari Dinginkan Si Jendral

Ada yang kegerahan membaca post Jendral-Jendralan saya kemarin? Oke, waktunya klarifikasi.

Di luar alasan mengkritik Undang-Undang ITE yang rada kebablasan dalam membatasi kebebasan pengguna internet, saya memiliki misi utama menjelaskan cara mengapresiasi karya seni. Sepertinya hal ini sudah saya lakukan di post lain, tapi akan lebih menarik kalau “digoreng” sedikit. Buktinya sukses, 25 komentar dan 225 pageview dalam sehari masuk ke topik tersebut. Post itu mengundang perhatian.

Wokeh, inti utama mengapresiasi karya seni adalah ia tak bisa dijudge secepat mata memandang atau telinga mendengar. Sebab seringkali seorang seniman menyembunyikan orang yang ingin dia bicarakan (subjek), apa yang sedang terjadi (predikat), dan korban dari sebuah peristiwa (objek). Jangan heran, dalam sejarah sudah banyak seniman masuk penjara atau mengorbankan nyawanya hanya demi sebuah karya.

Mengapa? Simpel, karena yang namanya kreativitas akan selalu dibatasi oleh norma masyarakat. Seniman bekerja di wilayah batasan norma ini. Maka yang dibutuhkan oleh seniman sebenarnya bukan kebebasan tanpa syarat, tapi peraturan yang jelas penafsirannya (tidak multitafsir). Jadi pasal-pasal karet adalah musuh utama saat seniman bekerja.

Singkatnya seniman harus selalu tahu siapa yang namanya tidak boleh disentil, dan apa yang tidak boleh dibicarakan. Tapi itu semua bukan untuk dipatuhi, tapi ia dituntut mengakalinya. Sehingga menurut saya karya seorang seniman adalah penyaluran suara masyarakat yang terbungkam.

Tapi kalau pengandaiannya mumet, gimana bisa menafsirkannya, Har?

Gampang! Perhatikan saja latar belakang si pembuat karya. Di masa apa dia lahir, kejadian besar apa yang ada saat sebuah karya dibuat, hingga seperti apa karya-karya seniman itu sebelumnya. Maka dengan demikian sampeyan akan bisa menemukan pola tutur si seniman. Entah caranya realistis, metafora, atau pun penuh eufimisme.

Tapi harap diingat, seniman saja bekerja dengan subjektif, apalagi hasil apresiasi kita? Kita tidak bisa menganggap hasil apresiasi kita 100% benar, apalagi memaksakannya kepada orang lain. Interpretasi adalah milik pribadi, tidak bisa dipersalahkan kepada orang lain, apalagi kepada si seniman. Pro dan kontra adalah wajar, yang penting jangan gontok-gontokan karenanya (karena kalau sudah demikian, senimannyalah yang akan sedih. Pesannya jadi tak sampai.)

Sooo.. seniman itu tidak bekerja asal jadi, kan?

Iklan

2 Responses to “Mari Dinginkan Si Jendral”


  1. 1 drjt 11 April, 2008 pukul 9:59 am

    yuk, mari….

    (^_^)v

  2. 2 wawu ndombleh 27 Desember, 2008 pukul 11:49 am

    KLINIK DESAIN alternatif
    gue disener frilen, bisa gambar ket en tridi, tarip dibawah harga pasar, cocok buat peminat berkantong tipis en pas-pasan hehehe… rancang bangun tempat ibadah maksimal 50% tarip normal (20rb/m2)
    kalo berminat hubungi sohirindisainer@gmail.com atawa klik http://picasaweb.google.com/sohirindisainer


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: