Beginilah Cara Kami Membungkammu, Jendral!

Peringatan: Tulisan ini hanya sebuah karya fiksi. Entah berhubungan dengan kejadian di dunia nyata atau tidak, saya tidak tahu. Apabila merasa tersinggung atau terheran-heran dengan post ini, bacalah segera tulisan ini. Jika ada kesamaan nama dengan dunia nyata, itu hanya kebenaran belaka.

Jendral, kami tahu kau lebih pintar dari kami semua. Kau menguasai banyak data rahasia tentang negeri ini. Kau menguasai cara mempengaruhi opini publik. Kau tahu cara memanfaatkan teknologi yang katanya bisa diakses orang banyak. Kau tahu semua kebusukan yang kami lakukan, sampai ke detil-detilnya.

Sementara kami tak tahu apa-apa. Kami tak tahu kalau harga leptop tak harus 20 juta. Kami tak tahu kalau posisi foto tak menunjukkan tingkat kehormatan. Kami tak tahu cara membuat laporan hasil studi banding kepada masyarakat. Kami tak tahu kalau rekaman mesum kami di ponsel dengan mudah bisa tersebar.

Kau lebih pintar dari kami semua Jendral, kuakui itu.

Tapi satu hal, Jendral. Kau tak punya kekuasaan untuk membuat hukum. Kamilah yang memonopolinya. Maka dengan otak-otak kami yang melompong ini, kami bisa membatasi bacotmu.

Kau akan kalah, Jendral!

Mengapa tidak? Grup musik sok kritis itu saja bisa kami laporkan ke Polisi hanya karena mereka berani menggunakan tiga kata terlarang: “ujung-ujungnya duit”. Alasannya mencemarkan nama baik lembaga kami. Lalu apa susahnya dengan dirimu?

Kalau kau bisa lolos dari jerat itu, maka kami akan memasang jerat kedua. Akan kami cari sedikit saja pemikiran kritis tentang agama di blogmu. Akan kami copy dan perlihatkan tulisanmu kepada para pemuka agama. Kami hasut mereka agar terbakar amarah dan mengeluarkan fatwanya. Kami akan usahakan segala cara supaya tulisanmu dicap sebagai menyinggung masalah SARA.

Maka kau akan berakhir dengan vonis 6 tahun penjara, Jendral! Bangkrut dengan denda 1 Milyar.

Lalu siapa yang akan membela dirimu? Tidak ada! Karena kami punya kuasa untuk menekan orang yang memiliki hak menyensor informasi di internet. Kami yakinkan bahwa semua berita tentangmu menyebar keresahan masyarakat. Kami akan blokir blogmu agar tidak ada yang membaca. Kau bukan lagi siapa-siapa. Tak ada secuil informasi tentangmu.

Maka kau akan berakhir dalam sunyi, sementara kami berakhir dalam pesta meriah, merayakan kekuasaan. Kritikmu akan dianggap sepi. Datamu divonis tak valid. Kaulah pesakitannya, bukan kami.

Darah itu merah, Jendral!

Iklan

29 Responses to “Beginilah Cara Kami Membungkammu, Jendral!”


  1. 1 Kopral Geddoe 10 April, 2008 pukul 8:13 am

    Darah itu merah, Jendral!™

    *jadi inget film barbar jaman orba*

  2. 2 satya sembiring 10 April, 2008 pukul 8:58 am

    hehehe gak ngerti, tulisanya kurang lengkap kali ya…
    kok maknanya hanya setengah2

  3. 3 emyou 10 April, 2008 pukul 9:30 am

    bingung. jadi jendralnya ikut ngeblog?? hehehe…

  4. 4 erander 10 April, 2008 pukul 9:51 am

    *buka-buka UU Subversive* 👿

  5. 5 pangonjat 10 April, 2008 pukul 10:06 am

    uh…uhh…uhhh… binun
    apa, siapa, bagaimana. bilamana, dimana

  6. 6 hariadhi 10 April, 2008 pukul 10:14 am

    Kutipan UU ITE:

    Pasal 27 (1):
    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
    Moralitasnya siapa, Pak? Saya, anda, dia, mereka?

    Pasal 27 (2):

    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
    Awas kapan-kapan bapak ngomong blog saya jelek, bisa saya tuntut ke pengadilan!

    Pasal 28 (2):
    Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
    Artinya saya ga boleh mengkritisi ustadz, horeee!!!

    Pasal 38 (2):
    Masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan teknologi Informasi yang berakibat merugikan masyarakat, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang‐undangan.
    Masyarakat, who? Lebih masuk akal ayat pertama.

    Pasal 40 (2):
    Pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang‐undangan.
    Ketertiban umum seperti apa?

    Tentu saja masih banyak sisa pasal-pasal yang positif, intip aja ke http://www.uuite.com

  7. 7 drjt 10 April, 2008 pukul 11:27 am

    welehweleh™…. bisabisa langsung bablas ke penjara ini. hehe….

    (^_^)v

    “Apa kata dunia?”

  8. 8 BaNi MusTajaB 10 April, 2008 pukul 11:49 am

    Oooo jadi yang dimaksud ‘kami’ itu DPR, ya? berarti cerita tentang (anggota) DPR yang lagi kesal ama Jenderal? he..he… pusiiiing deh.

  9. 9 trijokobs 10 April, 2008 pukul 11:50 am

    lha apa ntar gk kebanyakan tuh penjara..

  10. 10 ahmad irfan 10 April, 2008 pukul 11:56 am

    pufhhhhh………..
    jendral……….kapan belajar islam ?!

  11. 11 Abeeayang™ 10 April, 2008 pukul 12:33 pm

    semogah mereka tersentil dengan tulisan inih…. 😛

  12. 12 hilda alexander 10 April, 2008 pukul 1:34 pm

    Tidak ada hubungannya dengan UU ITE kan?
    🙂

    *nyampah euy*

  13. 13 winsolu 10 April, 2008 pukul 1:46 pm

    jendral yg malang tapi memang harus dibuat malang…!
    😀

  14. 14 ŝoliter 10 April, 2008 pukul 2:09 pm

    “kamu ngancem saya?!”
    _jendralyanginkutngeblog
    😀

  15. 15 rezco 10 April, 2008 pukul 3:16 pm

    jenderal kancil musti deh!

    😀

  16. 16 Rindu 10 April, 2008 pukul 3:52 pm

    Har… tulisan kamu makin berani mati, SEREM ah. Dah jangan ikut2an marah, ntar dimusuhin kaya dikampus loh.

  17. 17 norie 10 April, 2008 pukul 4:32 pm

    Yah elah… segitunya ente.
    Tulisan ente ini penuh nuansa ‘seakan-akan’.
    seakan-akan ente pernah berkunjung ke penjara saja. (penjara itu tidak seseram yang ente bayangkan kok, cuma bau pesingnya aja yang gw ga tahan.)
    seakan-akan ente pernah bayar denda gede di muka pengadilan.(paling banter ente ‘damai’ dengan polisi yang mau nilang ente)
    seakan pernah di bredel di jaman orba. (jaman dah brubah coy, demokrasi dan ham dan berkembang cukup pesat di negeri ini, ga bakal balik ke jaman orba kok)
    seakan-akan pemerintah penuh dengan orang picik yang mencari kesempatan untuk menyingkirkan ente. (tenang kok masih banyak orang punya nurani di negeri ini.)
    hilangkan keresahan yang seakan-akan itu. ^^

    P.s. kalau si jendral nanti ditahan hubungi gw aja. (hehehe… gw sih cuma bisa doa’in doang 😀 )

  18. 18 rz24 10 April, 2008 pukul 5:16 pm

    Saya kurang mengerti… ^_^’

  19. 19 missglasses 10 April, 2008 pukul 6:22 pm

    nah loh, trus yang jadi jendralnya siapa??

  20. 20 rocco90 10 April, 2008 pukul 7:31 pm

    suit…suit…

    Jenderal Kancil,,,
    huhuhu

    “si kancil anak nakal, suka curi-curi ketimun,
    ayo lekas diburu jangan diberi ampun”

    http://www.rocco90.wordpress.com

  21. 21 Xaliber von Reginhild 10 April, 2008 pukul 8:36 pm

    Darah itu merah, Jendral!

    Sama kayak Kopral Geddoe, jadi ingat film PKI-nya Orde Baru. 😛

    Sementara kami tak tahu apa-apa. Kami tak tahu kalau harga leptop tak harus 20 juta. Kami tak tahu kalau posisi foto tak menunjukkan tingkat kehormatan. Kami tak tahu cara membuat laporan hasil studi banding kepada masyarakat. Kami tak tahu kalau rekaman mesum kami di ponsel dengan mudah bisa tersebar.

    Kita juga tak tahu bahwa ruangan ber-AC yang dingin tak bisa mendinginkan kepala Presiden yang marah. :mrgreen:

  22. 24 angscript 10 April, 2008 pukul 9:01 pm

    Ada ambiguitasnya jadi tulisannya menarik. Saatnya tolak bungkam!!! Masih ada kata yang bisa menjadi senjata…haaa

  23. 25 hariadhi 10 April, 2008 pukul 11:00 pm

    @semua
    Fiksi bos, fiksi…. tolong baca peringatan kembali 😛

    Interpretasi terserah yang baca. Kayanya gw ga nyinggung-nyinggung kata D_R deh di tulisan ini. (dari mana asal tiga huruf itu? hmmm…)

  24. 27 Hoek Soegirang 11 April, 2008 pukul 2:05 am

    Mhuahuahuahua!!! saia ndak isa kalo ndak komentar!!! tulisannya lezadh sangadh!!! gahhh!!! harus masuk del.icio.us!!!

    makin lama, del.icio.us saia ko difenuhi tulisanmu segh? ughh….

  25. 28 CY 11 April, 2008 pukul 9:41 am

    Mari kita kopdar rame2 dibalik terali Jendral !! Ahahahaha… 😆


  1. 1 Mari Dinginkan Si Jendral « Hariadhi Lacak balik pada 10 April, 2008 pukul 11:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: