Bagaimana Cara Mengapresiasi Karya?

Karya seni itu hasil dari otak kanan. Ia tidak bicara benar-salah. Ia tidak menyajikan keakuratan data. Ia bisa sangat multitafsir. Maka bukan detail-detailnya yang harus dipentingkan, namun bagaimana kita mengambil sikap terhadap keseluruhan karya tersebut.

Saat kita mencerna sebuah Fitna dengan emosi, maka emosilah yang kita dapatkan. Saat kita menanamkan kebencian kepada Wilder Geert, mengolok-oloknya tanpa puas, maka kebencian dan olokan pulalah yang datang dari film itu. Bayangkan, saat ada jutaan orang ingin membenci Fitna, ratusan pemuka agama ingin mengecamnya, maka kebencian itu akan terus menguat dan menguat, tanpa ada yang bisa membantahnya.

Sebaliknya jika kita berpikir positif terhadapnya, mencoba mengambil hikmahnya, maka hikmah itu sendirilah yang akan kita terima. Saat kita membuka diri terhadap kritik, maka kritik membangunlah yang kita dapat. Saat kita berhasil meredam amarah, senyumlah yang akan kita tuai.

Bukan begitu? Atau saya salah?

Iklan

9 Responses to “Bagaimana Cara Mengapresiasi Karya?”


  1. 1 Nazieb 9 April, 2008 pukul 1:29 pm

    Waaa!!! ada kata-kata F*tna disini!!
    Pak Menteri!! Blokir blog ini segera!!

  2. 3 Gm. 9 April, 2008 pukul 6:10 pm

    Susah mas, kalau sudah fanatik.

  3. 4 Hoek Soegirang 9 April, 2008 pukul 7:15 pm

    itu dia, karena saia fun baru sadar, bahwa ternyata blogger itu adalah masyarakadh endonesa juga……
    if you know what i mean, my man…
    mhuauahuhauhauhauahua

  4. 5 kesatria sughani 18 Maret, 2010 pukul 9:55 am

    sasaran apresiasi adalah menunjukkan keindahan dan kebaikan suatu karya melalui sebuah pengamatan yang serius. kalau tujuan kita mengapresiasi adalah untuk menjadikan batu koral sebagai mutiara, ya yang begitu tidaklah benar. kalau menjadikan mutiara sebagai batu koral, itu juga tidak benar.

    namanya penilaian, terkadang memang hanya meninjau satu aspek dan melupakan aspek lainnya. jikalau hal itu terjadi, maka kita akan salah dalam menilai karya.

    kalau ada orang yang bilang fitna itu jahat, kejam, dan menghina, maka, memang betul, kata penulis artikel, kalau karya itu akan memiliki nilai-nilai begitu. jikalau sudah begitu, kita tinggal menunggu orang yang paling bijak untuk bicara.

    hakikatnya, setiap karya punya dampak negatif dan dampak positif. semakin banyak dampak positifnya, maka akan semakin tinggi nilai keindahannya. andaikata dampak negatif suatu karya yang kecil lalu dibesar-besarkan juga akan membuat karya kehilangan hakikatnya. saat seperti itu, yang dinilai bukan lagi karyanya, tetapi yang dikritik adalah penilainya.

  5. 6 Wandy 9 Agustus, 2010 pukul 11:29 am

    Pengertian mengapresiasi sama mengapresiasi sastra apa ya? mksh

  6. 7 krisanthi 2 Agustus, 2016 pukul 7:59 pm

    Dalam ” hari – hari “


  1. 1 Mari Dinginkan Si Jendral « Hariadhi Lacak balik pada 10 April, 2008 pukul 11:40 pm
  2. 2 Beginilah Cara Kami Membungkammu, Jendral! « Hariadhi Lacak balik pada 11 April, 2008 pukul 1:08 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: