Menggugat Cara Pikir

Saya bukan ahli agama, tapi salah satu kerancuan besar dalam agama Islam pola pikir pemeluk Islam yang saya temukan adalah ini:

Perkara X besar mudharat daripada manfaatnya, karena itu kalian tidak boleh melakukan hal tersebut.

Masalahnya manfaat dan mudharat sama saja seperti mengangkat ukuran bagus-jelek. Ia adalah nilai yang tidak bisa diukur, sebab setiap orang punya meterannya sendiri-sendiri yang sangat subjektif.

Contoh saja bagi orang kaya uang 5000 rupiah tidak banyak bermanfaat . Bagi orang miskin yang belum makan 5 hari, 5000 rupiah banyak sekali manfaatnya untuk menyambung hidup. Maka bagi orang kaya tak banyak manfaatnya mencuri 5000 rupiah dibanding tertangkap polisi. Sementara bagi si miskin, biarlah tertangkap polisi daripada mati kelaparan besok hari. Maka berdasarkan ukuran mudharat versus manfaat di atas, buat si kaya mencuri itu perkara haram, buat si miskin itu perkara halal.

Bingung, kan?

Usul saya, manfaat dan mudharat dijadikan ukuran masing-masing orang saja. Hentikan mendebat sesuatu berdasarkan hitung-hitungan manfaat dan mudharat, apalagi memaksa orang lain untuk mengikutinya. Sebab kita tak pernah paham apa yang jadi mudharat buat orang lain, dan apa yang bermanfaat baginya.

Singkatnya, biarlah masalah iman keluar dari persoalan matematika.

Iklan

11 Responses to “Menggugat Cara Pikir”


  1. 1 Rindu 7 April, 2008 pukul 9:33 am

    Sekali lagi, urusan ikhlas, uruasan agama bukan untuk diperdebatkan manusia karena akal kita tak akan sampai kesana…

  2. 2 fa 7 April, 2008 pukul 11:10 am

    kalau aku diberi tahu begini: apapun, jika itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya, maka sebaiknya tidak dilakukan.

    jadi yg selama ini aku tahu, tuntunan di atas itu memang sangat jauh dari urusan matematika, jd mungkin kurang tepat jika disebut kerancuan dalam agama islam 😀 (krn mungkin kerancuan itu ditimbulkan oleh org yg menyampaikan pesan, bukan pada isi pesan itu. dg kata lain mungkin yg membuat kerancuan adalah sebagian org2 islam, tapi bukan agama islam itu sendiri).

    eh, akhir2 ini aku jarang komen di sini yah, cuman ngikutin dr google-reader aja 😀

  3. 3 erander 7 April, 2008 pukul 12:40 pm

    Boleh jadi maksudnya yang memang ditujukan kepada diri kita masing-masing. Tapi kemudian menjadi bias, merembet ke wilayah pribadi orang lain. Sama hal-nya, ketika kita tidak suka sesuatu, maka kita berusaha mempengaruhi orang lain dengan sudut pandang kita. Karena — menurut kita — sudut pandang kita dapat diterima oleh orang banyak.

    Kita sering lupa, bahwa Tuhan berfirman : “.. sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujuraat [49] ayat 13 )

    Jadi .. biarlah semua dengan perbedaan. Soal kita akan memilih ingin mulia disisi Allah atau tidak, ya kembali kepada ketaqwaan kita masing-masing. Bukan tentang pergaulan kita. Untuk sementara begitu Har.

  4. 4 addiehf 7 April, 2008 pukul 1:37 pm

    saya Menggugat Cara Pikir Mas Har, karena Agama Islam tak sedikitpun mempunyai Kesalahan apalagi Kerancuan, karena Agama Islam adalah Agama yang paling SEMPURNA

  5. 5 mufti 7 April, 2008 pukul 2:13 pm

    Kalo menurut(dan setahu) saya, manfaat dan mudharat itu bukan hanya ukuran untuk diri sendiri di dunia, tapi juga untuk orang lain dan bagaimana di akhirat kelak. Kalau urusan curi-mencuri uang kan yang diambil tetap rugi, dan pengambilnya juga akan dapat balasan, entah di dunia atau akhirat. Kita harus ingat, kita ini hidup di dunia yang diciptakan tuhan(karena itu kita beragama) dan kita punya kewajiban untuk mematuhi aturan-Nya.

    Begitu menurut saya. 😀

  6. 6 hariadhi 7 April, 2008 pukul 8:34 pm

    @addiehf
    Monggo… gugatan diterima.
    @mufti
    Hmmm.. mungkin contoh yang lebih konkrit lagi saja, ya? Buat pencuri, tindakan mencuri bukanlah sebuah mudharat, karena dia sudah terbiasa mencuri. Begitu pula orang yang psikopat, ia tak menganggap nyawa orang lain sesuatu yang perlu-perlu amat dilindungi. Kalau mau diuraikan contohnya akan lebh banyak lagi.

    @bang erander
    Nah!

    @mba fa
    Nda pa pa… :mrgreen: Saya juga belakangan jarang blogwalking. Maaf juga yah :mrgreen: Makasih buat keripiknya.

    @Rindu
    Sudut pandang lain, berdebat tentang agama kemungkinan besar tidak membawa kita ke mana-mana. Makasih.

  7. 7 Hoek Soegirang 7 April, 2008 pukul 8:41 pm

    eh, kekna analogi ‘si miskin mencuri 5000’ ndak cocok deh. soale mencuri khan lebih gede buruknya……
    ya tafi kalo soal 5000 itu sendiri sih, ada benulnya juga. CMIIW!

  8. 8 Landy 8 April, 2008 pukul 7:19 am

    Orang yang beragama adalah orang yang tunduk patuh terhadap peraturan agama yang dianut, agama apabila di letakan di akal maka akan cenderung diakal-akali , kalau di letakan di mulut maka cenderung akan menjadi bahan perdepatan, lantas dimanakah kita meletakan agama, tidak lain dan tidak bukan kita harus meletakannya di hati sehingga kita akan menjalankan agama dengan kehati-hatian. semoga Allah swt memberikan kepahaman untuk perkara ini kepada kita semua.

  9. 9 Mr. Fortynine 8 April, 2008 pukul 8:55 am

    Dari beberapa komentar yang masuk. Saya liat ada beberapa komentar yang hampir mirip dgn yang masuk ke blog saya dgn topik agama dan logika. Intinya,merasa bahwasanya ajaran agamanya adalah yang paling benar dan tidak bisa d ganggu gugat.

    Padahal,jikalalau mengaku beragama apalagi ngaku beriman,seharusnya bisa bijak menyikapi perbedaan tanpa memvonis salah.

    Misalnya:ketika muslimah eropa dan amerika mgkn lbh memilih untk tidak berjubah,jgn anggap mereka ingkar. Justru dgn berpakaian ala lokal tapi tetap sopan,mereka sdh menghormati dan menyesuaikan diri dgn keadaan. Bukan memaksakan berdandan ala padang pasir yang akan membuat mereka nampak aneh d lingkungannya.

    Counter attacknya: itulah cobaan untuk yg ingin berislam secr sempurna. Pdhl cobaan sesungguhnya adalah ketika kita pribadi bersikap. Bijak kah sikap kita?toleransi kah kita? Sebagaimana toleransi Rasul pada yang bukan muslim.

    *sekian ocehan tidak jelas hari ini*

  10. 10 alghazali 8 April, 2008 pukul 10:04 am

    saya mahu antara anda yang bijaksana menerangkan teori komedi dalam film. mungkin andara sdra yang pakar dalam bidang teori boleh membincangkan tentang pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri, asal-usul, praktikaliti film komedi indonesia dan dunia hari ini kepada manusia untuk berfikir dan berhibir. tentu ada yang bijaksanakan. tentu ada yang mahu berkongsi ilmukan.

  11. 11 hariadhi 8 April, 2008 pukul 10:08 am

    Ahli komedi dan film? Saya cuma mahasiswa desain grafis, Mas. :mrgreen: Nda ngerti apa-apa soal film.

    Film komedi Indonesia? Nambah tugas meriset lagi nih, hehe. Tapi menarik juga. Kalau sempat (dan punya ilmunya), yah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

%d blogger menyukai ini: