Intelektualitas Saya Atau Anda?

“Soal cover TEMPO bukan soal hukum, tapi soal rendahnya “decorum publicum”
(bhs Latin untuk ‘tata-krama publik’). Karena tata-krama publik adalah
cerminan selera kultural, rendahnya tata-krama publik adalah ungkapan selera
kultural yang rendah. Dan karena selera kultural adalah cerminan mutu
intelektualitas, maka rendahnya tata-krama publik cover TEMPO adalah
cerminan rendahnya intelektualitas TEMPO. Lugasnya cover itu adalah soal
kebodohan dan rendahnya intelektualitas TEMPO, bukan soal hukum. Tentu saja
kebodohan tidak bisa diperkarakan secara hukum. Tetapi untuk media yang mau
menjaga intelektualitas, kebodohan tentu lebih memalukan daripada kasus
hukum.”

(dari milis JIL, dikutip dari sini)

Hanuh.. yang nulis beginian sudah pernah lihat berapa versi dari The Last Supper sih? Satu? Dua? Atau jangan-jangan taunya The Last Supper malah dari novelnya Dan Brown?

The Last Supper itu banyak, Bos!! Bukan pula Da Vinci yang menemukan. Bahkan yang parodiin The Last Supper itu bukan hanya Tempo. Yang mengganti kepala Yesus dengan orang lain itu bukan cuma kerjaan Tempo. Yang membuat gambar provokatif lukisan The Last Supper itu bukan cuma Tempo. The Last Supper itu tema lukisan generik yang sudah banyak diutak-utik oleh seniman sejak zaman dulu! Lah kalau sekarang publik latah-latahan soal lukisan The Last Supper versi Tempo siapakah yang sebenarnya kekurangan intelektualitas?

Saya heran, selama ini mereka sibuk ngomongin memperbaharui cara pikir umat beragama. Tapi hanya satu gambar di majalah tiba-tiba pemikiran mereka balik ke zaman batu! (Sampeyan tuh menyembah Tuhan atau Lukisan sih?)

Iklan

3 Responses to “Intelektualitas Saya Atau Anda?”


  1. 1 Nazieb 28 Maret, 2008 pukul 9:19 am

    Bukannya agama itu sendiri juga sebuah parodi?

  2. 2 aku 28 Maret, 2008 pukul 8:03 pm

    The Last Supper itu banyak, Bos!! Bukan pula Da Vinci yang menemukan.
    “The Last Supper” itu bukan benda, bos! Event! Dan Event bukan ditemukan. Tapi dilakukan atau pernah terjadi. Nah, kalau soal Lukisan2 The Last Supper, itu hanya imajinasi pelukis mengenai penggambaran peristiwa “The Last Supper” yang dilakukan Yesus bersama murid2Nya. Namun anda sudah benar soal banyaknya versi lukisan The Last Supper.

    Lah kalau sekarang publik latah-latahan soal lukisan The Last Supper versi Tempo siapakah yang sebenarnya kekurangan intelektualitas?
    Dengan mengganti kepala Yesus dengan benda (kepala) yg tidak semestinya, itu penghinaan namanya. Apalagi kalau sifat yang punya kepala sangat tidak cocok dengan yang punya kepala asli. kalau kepala soeharto diganti dengan – maaf – babi, itu baru cocok! Soale sama2 rakus. Kalau niat tempo mau mengejek soeharto, ya mbok jangan bawa2 Yesus donk!
    Coba dulu pas jaman pak harto, berani nggak tempo bikin yang gituan? Majalah ini terlambat puber. Nggak ada gunanya lagi bikin yang gituan sekarang ini.

    Nah, yang jadi pertanyaan, anda juga mau ikut2an mengganti kepala Yesus? Hal buruk kok ditiru. Itu ketololan publik namanya.

    Saya heran, selama ini mereka sibuk ngomongin memperbaharui cara pikir umat beragama. Tapi hanya satu gambar di majalah tiba-tiba pemikiran mereka balik ke zaman batu! (Sampeyan tuh menyembah Tuhan atau Lukisan sih?)
    Maling teriak maling. Kuman diseberang lautan tampak, Gajah dipelupuk mata tidak tampak. Coba anda telaah dulu apa yang dilakukan muslim setelah “Nabi” kesayangan mereka “diutak-atik” di Denmark.

    Umat Kristiani itu menyembah Tuhan. Lukisan itu termasuk simbolik. Dari dulu sampai sekarang, yang namanya umat beragama (maupun aliran kepercayaan) tidak pernah lepas dari urusan simbol2. Untuk membantu lebih fokus pada Sesembahan mereka. Jadi, jangan anda samakan Simbol dengan ilah atau tuhan. [coba anda baca buku Anand Krisna masalah simbolisme agama ini].

    Versi _Lukisan_ “The Last Supper”
    http://en.wikipedia.org/wiki/The_last_supper
    http://en.wikipedia.org/wiki/The_Last_Supper_(Leonardo)

    Regards.

  3. 3 hariadhi 28 Maret, 2008 pukul 9:25 pm

    Ikut-ikutan? Atau pada dasarnya memang tak ada aturan (legally dan morally) yang melarang orang memodifikasi The Last Supper?

    Lah.. lagi-lagi simbolisasi yang dipermasalahkan… Membaca karya seni rupa itu harus cerdas, bos. Ndak sesederhana menerjemahkan soal matematika.

    Tertarik ga untuk baca tulisan gw yang ini? https://hariadhi.wordpress.com/2007/10/29/sedikit-tentang-simbol/

    Versi-versi lebih lengkap The Last Supper, silakan lihat ini:
    http://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Last_Supper

    *Sekali lagi gw tegasin, Mas, gw orang yang sehari-harinya bekerja dengan gambar. Mau ada lukisan Muhammad kek, lukisan Yesus kek, mau ada lukisan Tuhan kek, mau lukisan hantu belau kek, gw ga mau iman gw terpengaruh hal begituan.

    I lay my faith on god, not painting


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: