Segitu Dangkalnyakah Desain Indonesia?

Tadi main-main ke Grmd. Seperti biasa saya main ke pojok favorit, Design. Biasanya di sini banyak referensi desain grafis dan seni dari luar negeri. Tapi ternyata bagian itu sudah lenyap, diganti arsitektur dan interior. Buku grafis tinggal segelintir. 😦

Awalnya saya berpikir mungkin sudah digabung dengan buku populer dan komputer grafis, maka saya segera naik ke atas. Tapi ternyata yang saya temukan ratusan buku yang nyaris sama saja! Jurus Cepat Belajar Adobe Photoshop, 24 Jam Belajar 3StudioMax, Pintar Instant dengan Corel, Jurus Singkat belajar HTML. Waduh pusing, kok sekarang yang namanya desain grafis kaya beginian semua? Satu-satunya yang bisa menarik saya cuma “Komunikasi dalam Desain Komunikasi Visual”, itupun isinya lebih manajemen secara robotic, ga memfasilitasi pekerjaan kreatif.

Jadi segitu sajakah dunia desain grafis di Indonesia? Sekedar bisa komputer? Ndak perlu yang lain?

Lalu ke mana perginya Referensi budaya? Pengolahan Konsep? Ide? Tipografi? Inovasi? Sejarah? Tinta? Perundangan? Packaging? Layout? Color? Material? Manajemen Produksi? Ilustrasi? Studio Photograph? Audio Visual?

Hah!?!?!? Makhluk dari planet mana itu?

===========

Tulisan ini sekedar luapan kesedihan. Tidak ada hubungannya dengan toko buku tertentu. Gejala hampir sama saya temui di toko buku lain.

Iklan

6 Responses to “Segitu Dangkalnyakah Desain Indonesia?”


  1. 1 gama 27 Maret, 2008 pukul 3:23 am

    Yok, nulis tentang itu. “desain grafis”. salam kenal

  2. 2 Nazieb 27 Maret, 2008 pukul 10:19 am

    Itu tandanya orang Indonesia sudah pada pinter, ndak perlu baca buku lagi 😆

  3. 3 HARUHI-ism 27 Maret, 2008 pukul 5:46 pm

    Yang penting itu praktis, cepet! Mental Indonesia suka yang praktis!

    *siul2*

  4. 4 penggung 28 Maret, 2008 pukul 7:04 pm

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. cintamemang indah
    Kami Mohon Doa Restu
    Untuk Suksesnya Program
    Pembrantasan Pornografi
    Di Internet

  5. 5 Ericbdg 17 April, 2008 pukul 9:06 am

    Salam kenal, saya lulusan desain grafis juga, memang kondisi sekarang begitu kok. Menyebalkan. Dan saya paling sakit hati ketika disamakan dengan desain grafis di percetakan biasa. Jadi saat dimintai desain logo, dan klien kaget dengan penawaran harga yang, katakanlah 1,5 juta (lengkap dengan company profile dll, amplop plus logo dsb), mereka malah bilang “ah biasa desain grafis yang di percetakan bisa dapet lima ribu rupiah tuh untuk bikin logo”.

  6. 6 g_amank 22 Mei, 2008 pukul 12:41 pm

    paktor pemicunya adalah kurangnya penghargaan thdp karya grafis & refrensi yang kurang memadai,, makanya wajar aj klo grafis di indonesia melempem..
    PR besar bagi kita yang sadar,, kira2 langkah kongkritnya bagai mana???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: