Belajar dari Kasus Nia Ramadhani

Hihihihi.. saya pikir untuk masalah ini kita semua bisa dapat pelajaran banyak soal maraknya konten pornografi di Internet. Lah ya jelas lah.. sesuatu yang sebenarnya ga ada porno-pornonya karena kegoblokan kita sendiri akhirnya malah jadi produk “panas”.

Jadi apa yang salah?

1. Kita harusnya tahu bahwa foto potret diedarkan harus dengan izin orang yang muncul dalam potret. Dalam hal ini siapapun yang menyebarkan foto Nia tanpa izin yang bersangkutan bisa dituntut dengan UU Hak Cipta No 19, 2002, pasal 20:

Pemegang hak cipta atas potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:

a. Tanpa izin orang yang dipotret;

b. Tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret, atau;

c. Untuk kepentingan orang yang dipotret

apabila pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan wajar dari orang yang akan dipotret, atau salah seorang warisnya… (blah blah, silakan baca sendiri).

Apakah media, blog, dan infotainment boleh menampilkannya demi berita? Pasal 22 menyatakan kekecualian hanya ada untuk keamanan umum dan pengadilan pidana untuk menyebarkan foto orang lain tanpa izin yang bersangkutan.

Jadi infotainment, blog, dan media berita itu apaan? Sarana peradilan? Polisi?

2. Kolam renang bukan sarana pertunjukan umum! Hanya di acara pertunjukan umum sampeyan diperbolehkan mengambil foto orang sembarangan. Itupun dengan syarat tidak ada keberatan dari orang yang difoto. Pasal 21:

Tidak dianggap pelanggaran hak cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorang pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum, walaupun bersifat komersial. Kecuali dinyatakan lain oleh orang berkepentingan.

3. Infotainment bukan wilayah riset! Aneh kalau isi gosip dianggap penelitian ilmiah dan pendidikan. Pasal 15:

Dengan syarat sumbernya harus disebutkan dan dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta:

a. Penggunaan ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dengan tidak merugikan kepentingan wajar dari pencipta.

(dan seterusnya…)

Jadi sejak kapan ada LIPI (Lembaga Infotainment Pendidikan Indonesia)?

4. Infotainment memberi informasi yang dangkal tentang sesuatu dengan cakupan pendengar sangat luas. Orang malah akan lebih tertarik mencari foto bugil Nia Ramadhani setelah mendengar beritanya. Sementara internet hanya akan memberi informasi kalau orang tersebut aktif mencari. Jadi siapa yang salah sebenarnya? internet atau infotainment?

Saya pikir Hak Cipta itu kalau diterapin maksimal sudah cukup untuk mengerem konten-konten porno dari Internet. Lah sekarang yang bodoh sebenarnya malah kita yang ga mau memanfaatkan Undang-Undang tersebut. Sibuk bikin aturan baru di sana-sini. Memaksakan moralitas kita ke orang lain.

Padahal kalau mau Nia bisa saja menuntut semua pihak yang ikut menyebarkan foto itu (termasuk infotainment, situs berita, dan blogger, saya pikir. Mereka kan ga punya izin? Lah yang motret aja haknya dibatasi, apalagi yang sekedar comot-comot?). Jadi lain kali mereka akan pikir ulang kalau mau bikin berita heboh soal foto selebriti.

Lah kalau hobinya bikin aturan yang malah akan mempersulit orang lain gimana bisa bangsa ini maju? Make yang sudah ada aja masih tergagap-gagap.

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Peringatan

Ini hanya sebuah apresiasi setelah membaca sekilas buku Undang-Undang Hak Atas Kekayaan Intelektual, terbitan Indonesia Legal Center Publishing. Saya bukan ahli hukum. Ada kemungkinan saya salah interpretasi atau salah ketik. Jadi tolong jangan memakai tulisan ini untuk sumber berita atau penelitian. Silakan merujuk kepada naskah Undang-Undang sebenarnya untuk sumber lebih otentik.

Iklan

6 Responses to “Belajar dari Kasus Nia Ramadhani”


  1. 1 Rindu 27 Maret, 2008 pukul 3:20 pm

    Jadi sebaiknya situ-situs kaya gini ditutup yah? biar gak ada yg mikir jorok gitu ….

  2. 2 hariadhi 27 Maret, 2008 pukul 11:00 pm

    kesadaran sendiri saja. Sama kaya tanda dilarang parkir. Kalau ndak ada razia polisi bukan berarti boleh dilanggar, kan?

    Jadi kalau sudah tahu situsnya melanggar hukum tolong tutup aja tanpa harus disensor-sensor. Repot kalau cuma demi kepentingan seorang pemilik situs, malah banyak yang jadi korban salah sensor.

  3. 3 rifa 11 April, 2008 pukul 2:42 pm

    menurut gw,apa yang dilakukan ma nia ramadani gak usah dipeduliin ma qt2,,
    lbh banyak hal yang lbh penting kaleeee,,
    ngapain pd sbuk liat yang begituan…

    cpek deeeehhhhhhh

  4. 4 lanang 5 Mei, 2008 pukul 2:44 pm

    uuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhh

  5. 5 tomi 25 Juli, 2008 pukul 9:02 am

    enca mka km mirip ma nia enca ku ingin km jd pcr q lggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. 6 Anonim 23 November, 2012 pukul 2:43 am

    kalau mau berfoto seksi gak usah pake baju sekalian,jadi semua orang gak males untuk melihatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: