Andy Warhol, Getting Closer to 60’s

Tulisan ini hanya ingatan sekilas setelah selesai membaca buku “andywarhol, princeofpop” untuk pertamakali. Tidak ada jaminan tulisan saya benar 100%! Jangan dijadikan referensi berita, bahan tugas kuliah, atau karangan ilmiah lain. Kalau butuh yang benar-benar terpercaya silakan beli bukunya, terbitan Laurel-Leaf Publishing.

andy-warhol.jpg

Seperti sudah saya tulis sebelumnya, nama Andy Warhol selalu mengusik saya setiap kali disebutkan dalam bahasan komersialisasi karya seni. Beberapa selalu menyangkutkannya dengan Pop Art. Ada pula yang menghubungkan dengan gaya hidup bebas ala tahun 60an, menciptakan image seorang seniman yang benar-benar lepas dari kontrol masyarakat.

Jadi, Andy Warhol itu makanan apa sih?

Berbeda dengan image yang tercipta, Andy Warhol lahir dari kalangan taat agama. Ayahnya buruh peleburan logam yang bekerja keras. Perawakannya juga tidak terlalu menarik, kalau tidak bisa dibilang aneh. Ia seniman jenius yang pemalu, cenderung penyendiri. Tangannya lebih banyak berkutat dengan kertas gambar daripada memilih bermain dan bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

Kalau boleh berpendapat, menurut saya dia lebih ke seniman yang belajar otodidak. Walaupun kuliah seni di Carnegie Institute dengan gemilang, dan lulus, estetikanya sudah dilatih sejak kanak-kanak oleh ibunya yang punya sense seni yang kuat. Kuliah hanya menjadi bahan legitimasi. Dan buktinya ia dengan cepat menonjol dibanding mahasiswa lain.

Awal Kesuksesan

Karir awalnya suram, ayahnya meninggal di umur 13 dan ibunya tidak terlalu pintar mengurus keuangan. Hal ini membuatnya lebih banyak dibiayai kedua saudaranya dan kemudian bekerja di bidang commercial-art. Ia bahkan sempat akan diusir dari Carnegie Institute.

Tapi kultur kerja keras yang diturunkan ayahnya membuat ia dengan mudah diterima banyak art director masa itu. Ia juga tidak keras kepala terhadap kritik seperti seniman lain di masanya. Ia terbiasa memberikan banyak alternatif hanya untuk satu penugasan. Andy Warhol segera populer dan kaya.

Menjadi Seniman “Murni”

Tapi masalah utama bukanlah menjadi kaya. Andy masih penasaran menjadi seorang yang tidak menggantungkan kesuksesan kepada berapa keras ia bekerja, namun seberapa besar idenya diterima dan diperdebatkan. Dan ia sedang berada di arus Pop Art yang sedang mendapat momen saat itu.

Malang, cap sebagai seniman komersial masih akan terus melekat dalam waktu lama, hingga akhirnya ia mendapat ide yang tidak terpikirkan oleh seniman lain waktu itu. Membuat still life kaleng makanan bermerk Campbell’s, yang tentu dengan caranya sendiri: dibuat identik hingga 16 kopi di atas kanvas berbeda. Tidak benar-benar mirip memang, karena semuanya dengan rasa berbeda, Chili Beef hingga Vegetarian Vegetable.

Tentu saja gaya seperti ini mendapat kritik besar. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa seni bisa saja “tidak seoriginal itu”, dan bisa dengan mudah diduplikasi seenak hati penciptanya. Seni tidak lagi eksklusif. Ini bid’ah!

carterandwarhol.jpg

Foto Andy Warhol bersama Jimmy Carter

Tapi itulah ide Andy Warhol, dan tentu saja ide utama kebudayaan Pop masa itu. “Toh kenyataannya,” kata si seniman, “Kita hidup cukup bahagia dengan menyaksikan tayangan berulang-ulang soap opera dengan cerita yang sama, lalu dibungkus ulang dengan detail yang berbeda. Sementara yang saya ciptakan adalah ratusan karya yang persis sama.”

Ia sukses menyuarakan masalah di era dia hidup. Semakin dikritik, idenya semakin menular ke banyak orang. Ia sekarang seniman sesungguhnya!

Awal dari Kegilaan

Salah satu yang kontroversial adalah proyek Silver Factory yang muncul di pertengahan karirnya. Ia menyewa gudang besar untuk kemudian seluruhnya dicat dengan warna perak. Di sana ia membiarkan orang bebas berekspresi apa saja. Dan sukses, seluruh orang di Amerika tergila-gila untuk mendapatkan perhatian Andy Warhol. Mereka rela melakukan apa saja: pesta, drug, sex, apa saja untuk bisa masuk ke dalam salah satu karya Andy.

Andy Warhol memanfaatkan ini untuk membuat film-filmnya yang datar, acak, jauh berbeda dengan standar karya Hollywood masa itu. Semua pemain tidak dibayar, alias gratis. Mereka dengan sukarela melakukannya, dan tidak ada alasan minta bayaran karena memang bukan proyek komersial.

Akhir dari Sebuah Era

Maka jadilah Andy Warhol sukses dan punya banyak penggemar yang siap melakukan apa saja. Orang bahkan lebih memperhatikan sosok Andy Warhol daripada karyanya. Tapi kesuksesan ini sekaligus akan menjadi hal yang paling disesalinya. Tahun 1968 ia dan rekannya, Mario Amaya, ditembak oleh Valerie Solanas.

Lukanya begitu parah sehingga sempat akan dinyatakan meninggal. Hanya teriakan Mario Amaya di sebelahnya, “Yang kalian tangani itu Andy Warhol! Dia terkenal! Kaya! Lakukan sesuatu!” yang akhirnya membuat dokter-dokter bekerja keras selama lima jam mengoperasinya (ironic, eh? Itulah Amerika)

Kejadian ini sangat traumatis hingga konsep Silver Factory harus diubah. Tidak ada lagi Andy Warhol yang gampang ditemui. Semua harus dengan perjanjian. Andy merasa harus ditemani ke mana pun. Keterbukaan berubah menjadi privacy. Hal serupa terjadi dengan teman-teman terdekatnya.

Sementara itu bisnis Andy Warhol pun berubah. Ia mulai terjun ke penerbitan dan meraih sukses di sana hingga 20 tahun ke depan.

Tapi perlahan pop art pun mulai terasa usang. Semua sisi sudah dicoba. Semua sudah membosankan. Sementara kolega dan juniornya masih banyak yang terbawa sisa peradaban 60 yang penuh dengan pengaruh alkohol dan obat-obatan.

Andy Warhol pun semakin ringkih, terutama dengan luka tembakan yang tidak pernah benar-benar sembuh. Komplikasi akibat operasi kantung empedu. Ia pun semakin kesepian. Dan akhirnya meninggal sebagai “nobody” pada 22 Februari 1987.

Itulah akhir sebuah cerita Prince of Pop.

Trivia

1. Salah satu yang menarik dari Andy Warhol adalah gaya rambutnya. Tapi sudah tahu belum kalau sebenarnya dia itu mengalami masalah kebotakan? hehehe. Yang kita lihat itu sebenarnya wig yang terus dia ganti sesuka hati.

2. Walaupun punya banyak hubungan dengan wanita di masa muda, Andy Warhol punya preferensi seksual sesama jenis, sesuatu yang terasa masih tabu masa itu. Ia baru merasa bebas setelah berkarir di New York.

3. Walaupun punya proyek Silver Factory, Andy bukanlah orang dengan kepribadian kacau. Ia hanya senang mengamati manusia modern (masa itu) dengan perilaku apa adanya. Andy jauh dari pengaruh alkohol dan drug (lihat kembali latar belakang keluarganya) .

*credit

– Kedua foto didapat dari Wikimedia Commons dengan lisensi Public Domain.

Gambar 1 aslinya diterbitkan oleh Library of Congress Prints and Photographs Division – New York World-Telegram and the Sun Newspaper Photograph Collection. Fotografer Kavallines, James.

Gambar 2 aslinya diterbitkan oleh National Archives and Records Administration.

Iklan

9 Responses to “Andy Warhol, Getting Closer to 60’s”


  1. 2 Rindu 22 Maret, 2008 pukul 6:04 pm

    Sedih yah, mati sebagai NOBODY … saya ingin meninggal sebagai SOMEBODY yang akan diingat karena kabaikan saja.

  2. 3 calonorangtenarsedunia 22 Maret, 2008 pukul 7:11 pm

    Saya pengen nonton ‘The Factory Girl’!!

    Nyari di mana2 ga ketemu. Udah lama sih filemnya. Tapi quote si Andy Warhol itu bagus2 lho. :mrgreen:

    Dia sinis sekali terhadap kehidupan..

  3. 4 hariadhi 22 Maret, 2008 pukul 11:37 pm

    @calonorangtenarsedunia
    Udah coba nyari di warhol.org? Kalau di buku ini sebenarnya Andy ndak terlalu beci hidup, dia cuma cinta mati :mrgreen: (lah, apa bedanya ya? hehehehe). Ada juga karyanya tentang hidup yang lukisan bunga itu 😉

    @Rindu
    Yuk, mati untuk setelah jadi somebody for somebody 😉

  4. 5 Hedi 23 Maret, 2008 pukul 12:28 am

    Andy Warhol, disegani sekaligus ironis…

  5. 6 erander 23 Maret, 2008 pukul 3:03 pm

    Sayang .. postingan-nya sudah keren, tapi koq ga ada gambar mas Andy dan karya-karya ya?? .. sengaja ato kelupaan?? hehehe 😀

    Saya ingat waktu tahun tahun 80-an sempat dibahas di majalah TIME dan Tempo. Waktu itu saya masih remaja dan merasa aneh dengan karya2 beliau.

  6. 7 hariadhi 23 Maret, 2008 pukul 11:12 pm

    @Hedi
    What else to say? 😀

    @erander
    Karyanya ga berani, Bang. Belum lewat 70 tahun. Ntar malah dituntut 😆 Andy Warhol, Inc masih ada sampe sekarang hehehehe.

    Foto orangnya aja, yah?

  7. 8 imel 2 Mei, 2008 pukul 11:56 pm

    Quote Andy yang paling saya ingat di buku LOVE LOVE LOVE nya : Being single is the best, but everyone wants to fall in love.

  8. 9 fara 13 Januari, 2010 pukul 1:47 pm

    wat ever r u all new……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: