Soal Applied Art Ituh…

Definisi desain selalu jadi masalah klasik. Mungkin banyak desainer setuju dengan pengertian desain sebagai applied art. Tapi apa masalahnya sesimpel itu? Lah, saya malah jadi ingat bahan pertengkaran sehari-hari dengan pacar saya….

Saya : Lah ngapain lu bikin papan nama kaya monumen begitu?

Pacar: Ya biar bisa eyecatching! Ini bukan monumen, bentuknya aja yang beda. Tiga dimensi!

Saya : Tapi kaya gitu kan norak, susah, bikinnya mahal lagi. Kenapa ga bikin solusi lain aja yang lebih reasonable?

Pacar: Solusi gimana?

Saya : Ya apa kek, taro di tengah jalan, atawa pake balon dibikin terbang.

Pacar: Beuh kalau gitu ya namanya namesign biasa-biasa aja! Apa menariknya?

Saya : Ya itu biasa-biasa aja tapi kan baru bicara bentuk. Penempatan istimewa kan juga solusi.

Pacar: Lah suka-suka gw! Kan desainernya gw, bukan elu!

Saya : Idih… desainer bicara soal emosi sendiri, egois bener… ga mikirin kemampuan dan kebutuhan kliennya!

Pacar: Lah kalau lu cuma bisa bicara soal fungsi, apa bedanya lu sama tukang layout! Dasar IPA!

Saya : Dasar IPS!

Inilah masalahnya. Kadang saya lupa, memang dalam matematika 1+1 itu sama dengan 2. Tapi bicara soal seni, bisa aja hasilnya 3. Applied + art ya ga bisa diartikan applied art secara polos. Bisa aja orang punya definisi sendiri sebagai applied art, atau applied art.

1. Applied Art

Desainernya cenderung memikirkan desain lebih kepada masalah emosi dan keindahan. Appliednya tetap ada, tapi mikirnya mulai dari bagaimana ekspresi sebuah karya dulu. Lah, pacar saya sering ada di pihak ini.

Ini bisa jadi definisi desain.

2. Applied Art

Desainernya cenderung memikirkan fungsi daripada masalah emosi dan keindahan. Tentu saja ga ada karya yang sama sekali ga punya emosi. Tapi yang bikin, mulai dari bagaimana menerapkan desain dengan benar supaya kebutuhan orang terpuaskan dulu, baru bicara ekspresi. Lah, saya sering ada di pihak ini.

Ini juga bisa jadi definisi desain.

3. Applied Art

Lah ini pemikiran ideal, wilayah teori. Harusnya masalah fungsi dan ekspresi berimbang. Tapi prakteknya ya mana ada manusia yang bisa 100% di tengah-tengah? Sehebat-hebatnya desainer pasti akan condong kepada salah satu alternatif di atas.

Tapi tetap saja ini definisi desain!

Terus pihak mana yang bener, Har? Ya ngga ada! Ngapain juga desain bicara bener-salah, coba? Lah bisa saja suatu saat saya usil pengen menyeberang ke wilayah ekspresif, seperti juga kadang pacar saya usil nanyain soal fungsi dan hitung-hitungan sama saya. Adakah yang salah?

Debat ya boleh, menganggap definisi sendiri adalah yang paling hebat ya sah-sah aja.. Tapi yang aneh kalau cuma masalah beda definisi lalu gontok-gontokan, saling tikam. Beda aliran terus dibawa-bawa jadi masalah pribadi. Dendam dibawa sampe kubur.

Yang pegang aliran applied art menghasut klien-kliennya “Mas, jangan mau dibikinin sama si anu… Dia ga bisa mikir logis, nanti desainnya jadi bahan pajangan doang!”, vice versa. Kalau kaya gitu ya kapan desain di Indonesia mau maju, wong cuma masalah suka ga suka sampe saling ngejatuhin. Nda genah.

Lah.. kalau memang kaya gitu ya sudah sejak lama saya dan pacar putus. Lah beda aliran toh? Sepanjang hari isinya debat itu… itu… melulu. Hubungan sehari-hari dicampur aduk sama wilayah idealisme. Yang harusnya objektif dibikin subjektif. Putus cuma gara-gara definisi, emang enak?

Lah.. kalau misalnya ada dewa seni seperti Athena benar-benar ada, pasti dia bakal nangis berat ngeliat desainer-desainer Indonesia. Ya jelas dong, pikiran manusia yang harusnya dipake buat berkreasi malah diborosin buat saling benci. Kapan bikin karyanya bung?

Saling benci cuma gara-gara definisi.. kasihan ga sih?

Nulis ini sambil ngebaca salah satu majalah yang membahas definisi desain.

Iklan

2 Responses to “Soal Applied Art Ituh…”


  1. 2 ardie 21 Agustus, 2008 pukul 9:52 pm

    dilihat dari sisi historisnya, desain adalah applied art… didefinisikan dan jadikan profesional oleh para guru bauhaus dan attitudenya diteruskan oleh para alumninya tak terkecuali di indonesia, beruntunglah sekolah seni dan desain yg mempraktekkan nilai2 dasar berkesenian dan berkedesainan ala bauhaus ini, fully manual dan pengasahan rasa serta kepekaan imajinasi yg ‘brutal’…
    desain terlahir dari kebutuhan industri akan profesi yg bisa mengatasi permasalahan mereka akan sebuah konsep baru dalam berproduksi, yaitu ‘mass production’ atau pruduksi massal, ‘banyak tapi berkualitas’. pada zamannya ‘banyak’ artinya kuantitas tanpa memperhatikan kualitas, contoh roti atau sebuah bangku makan. ‘berkualitas’ artinya sebuah karya dengan tingkat craftmanship yg tinggi, itu artinya kualitas dijunjung tinggi dengan tingkat kuantitas yg sangat-sangat terbatas (dan mahal juga), contoh sebuah bangku tamu bergaya victorian. nah, para guru bauhaus inilah yg merangkum dan memformulasikan kebutuhan tersebut. jadilah apa yg kita kenal sekarang ini sebagai applied art vis a vis desain dan lahirlah profesi desainer. roti yg diproduksi massal tanpa memperhatikan bentuk, ditangan desainer menjadi sebuah gengsi. bangku makan yg sederhana dan murah, bisa dicek deh sekarang ke ikea… hehehehehe… :), bangku tamu karya eames (wlau disini mahalnya naudzubillah) bisa diproduksi banyak tanpa kehilangan nilai estetisnya… begitu deh… 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: