Alkisah Sate Mentah

Sebenarnya ini cerita dua hari lalu. Karena sakit, saya benar-benar kehilangan selera makan. Seharian belum ada apapun yang bisa masuk perut. Saya bingung, kira-kira apa ya yang masih bisa ditelan?

Eh, kebetulan saya lewat di depan gerobak sate Padang yang harum sekali. Ya sudah, mumpung, kan?

Waktu saya datangi, yang jualan ternyata sedang pergi. Jadilah saya bingung bertanya-tanya siapa kira-kira abang yang jualan satenya. Nah dengan pede seorang tukang parkir di sana langsung ngelayanin saya. Tahu dia tukang sate abal-abal, saya khawatir dong? Ah yak.. tapi setengah maksa dia langsung membakar sepuluh tusuk.

Lah namanya abang palesu™, akhirnya dia malah bingung sendiri masak satenya gimana. Bara yang sebenarnya sudah bagus dikipas sekuat tenaga, ditambah lagi minyak bumbunya diolesi sampe berciprat-ciprat. Yah jelas apinya malah nyala dooong. Abis itu dagingnya direndem dalam kuah sate sampe 15 menitan. Terus abangnya celingak-celinguk nyari bawang di mana… ketupat di mana… terus motong ketupat pun asal jadi. Satenya? Ya udah dibiarin aja di dalam panci kuah.

Marah? Bukan, saya malah pengen ngakak ngeliatnya. Tapi begitu sadar dia ngeliatin, saya langsung pura-pura buang muka.

Dan tepat seperti perkiraan saya! Saat masuk mulut, tuh sate ternyata luarnya doang yang keliatan masak. Dalamnya? Huekkk… lebih mirip cumi. Amis dan bikin mual. Tapi sudahlah, sayang soalnya uang 7.000 dibuang sia-sia. Anggap aja ini diet sehat makanan mentah. 😆

Maka tiba-tiba saya jadi ingat pesan orangtua

Pekerjaan seremeh apapun ada seninya, untuk menguasai kita harus punya dedikasi. Makanya jangan suka pandang enteng apapun yang dilakukan orang lain.

Aaaah…. orangtua saya selalu punya banyak nasihat bijak.

Omong-omong Sate Padang, ada yang udah cobain Sate Mak Syukur di Atrium Senen? Kalau ga salah di tempat asalnya sate ini terkenal karena irisan dagingnya yang jumbo, disajikan bertumpuk-tumpuk dalam piring besar. Jadi yang makan bisa ambil sesukanya. Dijamin puas!

Stttt….Lagian di sana lebih aman, ga ada tukang parkir. Ihik, ihik, ihik.

Iklan

2 Responses to “Alkisah Sate Mentah”


  1. 1 cK 10 Maret, 2008 pukul 10:47 am

    jadi lapar… 😐
    saya sering tuh makan sate mak syukur. maklum orang padang.. :mrgreen:

  2. 2 hariadhi 11 Maret, 2008 pukul 11:46 pm

    hehehehe, makannya sampe tambuah ciek ngga? :mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: