Dongeng Bangsa yang Manja

kuekeju.jpg

Tadi saya maen-maen ke pasar tradisional nyariin barang buat rekan saya di Wikipedia untuk dipotretin. Nah, kebetulan nemu oncom. Biasanya oncom tuh dijual dalam keadaan terpotong-potong, jadi sama sekali ga menarik untuk difoto. Entah hoki atau apa, abang penjualnya ternyata nyimpan 5 oncom utuh. Jadilah saya bisa milih-milih mana yang bagus buat dipotret.

Yang lucu, saya sebenarnya sudah siap-siap duit 20 ribuan. Saya pikir karena ukurannya besar (serius, bisa buat persediaan satu minggu lho!), harganya pasti mahal. Eh.. tiba-tiba si Abang bilang,

Tiga rebu aja, Mas!

“Hah? berapa Pak?!”, saya ga yakin. Habis beberapa hari ini telinga rada ga beres, emang.

Tiga rebu!

Oalah… ternyata oncom itu murah sekali… Bayangin, satu papan besarnya 30cm x 30cm. Sementara lauk orang kita itu paling gede cuma sekepalan tangan. Jadi kalau dipikir-pikir sebenarnya oncom itu ga lebih dari Rp. 200 per porsinya! Porsi besar, lho!

tekstur21.jpg

Gila, saya pikir. Ini kok bisa-bisanya bangsa kita meributkan tempe dan tahu yang mahal. Merengek-rengek kepada pemerintah minta supaya bahan bakunya disubsidi (padahal setelah disubsidi sebenarnya uangnya masuk ke tangan para mafia kedelai, bukannya dinikmati rakyat). Media ikut-ikutan ngomporin, katanya nanti masyarakat kekurangan gizi lah, ribuan pekerja bisa dipecat lah, pengusaha kecil banyak yang bangkrut lah.

Lah nyatanya kita punya banyak alternatif lauk yang murah. Kalau kita cukup pintar, sumber protein itu kan masih bisa dicukupi oleh oncom, ikan asin, bekicot, rumput laut, ulat sagu, hingga cacing wawo. Bahkan santan dan margarin saja kalau pintar menggunakannya sudah cukup untuk kebutuhan lemak dan protein keluarga. Murah meriah, nda perlu subsidi macam-macam.

Terus kenapa juga kita ribut-ribut masalah kedelai? Lah yang namanya bahan baku dari alam kan pasti ada masanya untuk paceklik. Karena itulah bangsa kita harus pintar cari alternatif. Nda merengek-rengek kepada bangsa lain supaya mengalihkan jatah impor mereka kepada kita. Apa itu ndak malu-maluin namanya?

Banyak pengamat ekonomi yang saya pikir gobloknya rada kebangetan. Mereka meributkan subsidi yang tidak jelas pertanggung jawabannya entah ke mana. Padahal solusinya mudah saja. Beri masyarakat pendidikan mengenai gizi. Supaya mereka ga cuma tahu tahu sama tempe, tok. Rangsang supaya koki-koki berbakat kita mau bikin kreasi berbagai masakan dari lauk yang selama ini dipandang sebelah mata. Kalau perlu bikin resep sate ulat sagu yang enak. Jadi kapanpun kita paceklik kedelai, ndak perlu lagi ngemis-ngemis sama bangsa lain.

Lah saya jadi curiga.. Jangan-jangan sebenarnya masyarakat kita ini dididik untuk manja dan bodoh, cuma bisa melamunkan tempe. Supaya mudah dikendalikan. Supaya mudah jadi dagangan politik. Supaya pakar™ ekonomi kita punya wacana untuk berdebat. Supaya dibilang pintar dan ada kerjaan. Supaya ada alasan bikin anggaran subsidi baru. Supaya ada insentif ekonomi untuk para mafia kedelai.

Lah terus ke mana peran media? Ada kasus kaya begini kok malah ngomporin? Kok tidak berani mengkritisi? Kok lupa memberi alternatif? Kok alpa memberikan pendidikan? Lah ngakunya penyambung lidah rakyat? Lah ngakunya pembela yang lemah?

Lah?

*Gambar di atas memiliki lisensi Creative Commons with attribution share alike + GFDL. Untuk mengedit, atau menyebarluaskan kepada orang lain, anda harus mencantumkan nama saya sebagai fotografernya. Silakan download resolusi lebih tingginya di Wikimedia Commons.

7 Responses to “Dongeng Bangsa yang Manja”


  1. 1 Effendi 21 Februari, 2008 pukul 12:36 am

    Ini memang termasuk lempar masalah, tapi ada solusi. Ndak asal lempar masalah sembunyi solusi.:mrgreen:

    Ngomongin media, nampaknya yang ini kurang greget dan ‘menjual’ deh. *siul-siul*

    *ngantuk, mau tidur…*

  2. 2 Hoek Soegirang 21 Februari, 2008 pukul 4:46 pm

    Nyohohoho…
    walofun yang dibahas ini bangsa Endonesa, justru saia malah tertarik sangadh sama si media itu, nyohohoho…
    secara media itu yang mbikin bangsa ini makin bodoh..nyohohoho..
    walofun ndak langsung segh..nyohohoho..*ditabog*
    eniwei, endebrei, enjesrei, emlerei
    saia jadi mikir setelah mbaca fostingan ini, bahwa blog itu ternyata media yang bisa melawan media bejat yang sekarang ini mendominasi endonesa.
    tapi sayangnya…
    bangsa endonesa yang gape internet cuma dikit, kalopun iya, bukannya mbaca blog tafi malah…
    aihh…saia malah mbikin topik baru *ditendang*
    —————————-
    ah ya, kata-kata “Lah?” ini seharusnya ditulis menjadi “lha?”, lebih berbobot dan berisi serta terlihat wibawa kegirangan yang luar biasa lho…
    *dilempar kelaut*

  3. 3 hariadhi 21 Februari, 2008 pukul 6:38 pm

    @Effendi
    heheh, sekali-sekali kita perlu bicara di luar konteks kan? Kalau ndak ya akan terus-terusan dijebak masalah yang sama.

    @Hoek
    …Malah senengane buka situs porno. Hehehhe ya kan?

    Hoo iya bener.. bener. Nanti H nya dipasang di tengah deh

  4. 4 Sayap KU 22 Februari, 2008 pukul 4:50 pm

    kirain judulnya “Ade yang manja”🙂 Ade tunggu di blog Ade ya mas.

    -Ade-

  5. 5 Nazieb 22 Februari, 2008 pukul 5:53 pm

    Bekicot, ulat sagu dan cacing wawo?

    Ah, lebih baik ikut demo saja lah minta tempe murah:mrgreen:

  6. 6 anggun pribadi 22 Februari, 2008 pukul 10:33 pm

    masalahnya adalah, kita sama sekali tidak memberikan banyak pengenalan ttg bahan pangan alternatif, sehingga tempe jadi all time fave. Lebih mengerikan lagi ketika orang2 di Indonesia timur yang punya panganan sagu dipaksa makan nasi, padahal kalau saja mereka dibiarkan dengan tradisi sagunya, kita bisa hemat penggunaan beras.

    Harusnya kita memang melakukan diversivikasi dalam makanan… jangan terpaku pada tempe lagi-tempe lagi..

    “tempe lagi-tempe lagi-gara-gara si komo lewat..”

  7. 7 Jolanda 28 Februari, 2009 pukul 4:14 am

    Setuju mas.. saya aja pernah bikin tempa dari chickpea, enak sama kek tempe yg pake kedele.. btw mas itu jjs di pasar di mana?? keren oncomnya..

    salamm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: