Medatada

komik1.jpg

Hoaaaa.. pertanyaan seputar spesifikasi teknis a.k.a. metadata sering diajukan ke saya kalau udah ngeliatin foto. Kayanya usil bener mau tahu rahasia dapur saya kalau motret. Hehehehe.

Kok sombong bener, Har. Nda mau bagi ilmu?

Ya tidak laah. Nda ada perlunya saya rahasia-rahasiain. Kalau mau lihat ya lihat saja, tinggal klik kanan, save as, terus lihat propertiesnya. Cuma yang saya agak sedih yang bertanya kaya gitu beranggapan kalau spesifikasi teknis itu ada hubungannya dengan tingkat kebagusan foto.

Ya, metadata itu adalah hoax dalam ilmu fotografi.

Hah??? Kurang ajar, dapat ilmu sesat dari mana lo, Har?

Jadi begini ya mas. Fotografi itu kan ilmu seni. Sama aja kaya sampeyan pengen lukisannya bagus, terus ngedatengin salah satu maestro, let’s say siapa yah… Srihadi mungkin? Anggaplah beliau buka kursus dan sampeyan ikut.

Terus di kelas sampeyan tanyain “Mas Srihadi… kuas yang dipake merk apa, ya? Kanvasnya merk apa?”, lalu “Ini waktu gambar kanvasnya dimiringin berapa derajat yah?”

Bukannya dikasih tahu biar tambah pinter ngelukis. Yang ada ya sampeyan pasti diketawain abis-abisan. Namanya seni ya ga bisa nyontek. Itu semua soal perasaan dan pengalaman pribadi, bung!

Saya jadi ingat waktu pertama kali kuliah fotografi, ada tabel penggunaan diafragma sesuai cahaya matahari. Misalnya kalau pagi bukaan segini, siang segini, berawan segini. Saya semangat mencatat. Siang malam diapalin, dipikir bakal keluar di ujian.

Tahu ga apa yang terjadi? Yang ada belakangan saya remas-remas tuh catatan, dimasukin tong sampah!

komik2.jpg

Lah kok ga menghargai ilmu, Har?

Ya jelas aja.. karena kenyataannya nda ada itu diafragma “yang bener” dalam moto. Bisa jadi hari ini sampeyan bikin foto bagus dengan bukaan 5,6 waktu siang. Lah besok saat sampeyan pengen bikin foto yang rada over, terus bukaannya diganti ke angka 3, ya itu oke aja. Selagi hasilnya bagus ga ada yang melarang.

Kesimpulannya? Tidak ada itu yang namanya standar dalam ilmu fotografi. Itu hoax! Yang kepengen ikut standar maka karyanya pun akan standar-standar saja. Camkan itu, okeh?

Jadi apa gunanya metadata, Har?

Kegunaannya adalah untuk jadi bahan jualan seorang Pakar You Know Who™. Hehehehe. *Just kidding. Sorry ‘Oy!

Beberapa orang beranggapan metadata dipakai untuk membuktikan keaslian foto. Ini jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Kenyataannya memang metadata itu bisa dihapus dan diedit. Toolsnya banyak beredar di internet. Jadi bisa saja metadata bener tapi foto palsu.

Tapi fotografer yang bener dan jujur biasanya ga akan sekurangkerjaan itu untuk ngubah-ngubah metadata. Hayoo.. ngapain juga disembunyiin kalau ga aa sesuatu yang mencurigakan? Nah kalau dalam situasi seperti Mba Fa ini metadata bisa saja dipakai untuk membuktikan keaslian.

Tapi itu syaratnya si fotografer harus ada (dalam arti bisa dikonfrontasi langsung) dan mengerti teori fotografi beneran, bukan yang asal pencet. Kalau fotografer palesu™ diinterogasi soal diafragma, speed, iso, dan panjang lensa bisa kejang-kejang dia.

Tapi tetap saja ga valid, kan?

Betul… itulah kerugian kamera digital dibanding kamera film. Memang kamera film tak punya metadata, tapi sampeyan bisa punya bukti fisik berupa roll film. Metadata ga bisa ngalahin semua itu. Lah wong datanya bisa diacak-acak seenak perut, kok.

Saya pribadi sih menganggap metadata itu cuma alat bantu. Let’s say… kalau hari ini saya ngambil seribu take foto (ga mungkin diingatin datanya satu-satu, kan?). Terus saya ngelakuin kesalahan, misalnya bikin foto ngeblur. Maka saya bisa lihat lagi metadata, kira-kira salahnya di mana. Ooooh… ternyata saya pake lensa 800mm. Alhasil kalau ngambil napas sedikit saja gambar saya langsung guncang.

Jadi saya ambil kesimpulan, lain kali kalau mau motret gaya begini berarti harus siap-siap bawa tripod.

Tapi.. tapi.. teori fotografi itu kan penting™, Har?

Sekali lagi deh saya bilang. Moto itu mbok ya jangan ngandalin kamera dan teori. Teori itu sekedar dipelajari di tahap awal. Ingat-ingatlah apa efek mengganti aperture, speed, ISO, dan panjang lensa. Tapi ingat juga sampeyan ndak akan pernah jago kalau bisanya cuma apal teori. Kalau kepengen foto keren ya ambil kameramu, angkat pantatmu, dan cari objek yang bagus. Salah satu atau dua kali itu ndak masalah. Butuh ratusan foto jelek untuk bisa bikin satu foto bagus.

komik3.jpg

Memotretlah pake hati, jangan pake teori!

Sekian sabda desainer palsu™ hari ini, hehehe.

komik0.jpg

*Suka ga komiknya? Kapan-kapan saya akan lebih banyak lagi bikin komik beginian…. Tapi tolong hormati hak ciptanya yah?

Iklan

3 Responses to “Medatada”


  1. 1 Goenawan Lee 19 Februari, 2008 pukul 2:15 pm

    Sini saya cek dulu metadatanya…. *pasang gaya ala si oom pakar ituh*

    Standar? Teori? Beh… 😆

  2. 2 Cabe Rawit 19 Februari, 2008 pukul 10:53 pm

    Ane kagak ngerti soal jepret menjepret begini bang… tafi ane ada rencana mao beli kamera… ada saran…??? 🙂

  3. 3 hariadhi 19 Februari, 2008 pukul 11:53 pm

    @Cabe Rawit
    beli yang mana aja yang nyampe di kantong. Itu saran gw. 😆 Yang bagus ya mana gw tau. Baru nyoba satu kamera doang. Nda punya duit banyak buat banding-bandingin.
    @Gun
    Hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: