Sahabat yang “Berguna”

Har, lu doyan bener temenan sama orang-orang aneh?

Ini udah keberatus kalinya saya dikomentari seperti itu. Entah maksudnya kagum, terheran-heran, atau malah melecehkan.

Ya, saya memang hobi berteman dengan orang aneh. Orang-orang dengan kondisi fisik dan mental tidak biasa. Orang-orang yang punya pemikiran beda. Orang-orang yang tidak peduli dengan mainstream. Orang yang kaya sekali atau miskin sekali. Orang pintar sekali atau bolot sekali. Orang pemarah sekali atau baik sekali. Orang-orang populer atau malah anti-sosial. Mereka semua orang-orang yang berjuang dalam ketidaksempurnaannya. Bagi saya mereka semua menarik.

Ih, kok lu mau-maunya temenan sama mereka, Har?

Kebalikannya saya malah canggung kalau temenan sama orang yang mengharapkan segala sesuatu di dunia ini berjalan biasa-biasa saja, dalam batas kewajaran. Bukannya pemilih, tapi orang seperti ini cenderung membatasi pergaulannya kepada orang-orang yang sejenis. Saya ga mau jatuh ke dalam keeksklusifan, sementara tiap hari mereka berkomentar seperti yang di atas itu. Maaf kalau agak kasar, tapi saya berpikir orang kaya gini selalu merasa sudah jadi sempurna dengan pribadi mereka yang biasa-biasa saja.

Bagi mereka orang yang ditemani mestilah membawa keuntungan. Kalau tak bisa diporotin untuk bayar makan jangan ditemenin. Kalau ga cukup ganteng untuk dikecengin, jangan ditemenin. Kalau ga cukup pintar untuk minta dibikinin PR jangan ditemenin. Kalau nyusahin untuk dijadikan temen, jangan ditemenin. Kalau tidak bisa membantu mencarikan pekerjaan jangan ditemenin. Repotnya, saat saya ga mau ikut-ikutan cara pertemanan seperti itu saya sering dicap ga gaul, memisahkan diri, atau A-N-E-H.

Saya mengaku dengan cara seperti ini tidak banyak orang yang berteman dengan saya. Masalahnya orang-orang yang hidup dengan jujur bersama kekurangannya itu sedikit. Kita cenderung berlomba-lomba menjadi orang “biasa”, takut sekali dengan perbedaan. Kita takut jadimanusia istimewa, takut ga ditemenin.

Peduli bangsat lah, bagi saya sahabat itu ada bukan untuk dimanfaatkan. Justru sahabat-sahabat yang banyak masalah-lah yang ga boleh ditinggalkan. Saya percaya, dengan prinsip persahabatan seperti itu mereka akan ngasih banyak pelajaran hidup kepada kita. Kita bisa sadar kalau Tuhan menciptakan hidup ini dengan penuh keistimewaan, bukannya dunia utopia. Dan lebih jauh, sahabat-sahabat seperti ini malah sering membawa good luck saat sedang susah. Sahabat yang ditemani tanpa pamrih adalah yang pertama kali memberi pertolongan, bahkan tanpa perlu bertanya apa-apa.

Bener ga?

Iklan

13 Responses to “Sahabat yang “Berguna””


  1. 1 erander 4 Februari, 2008 pukul 10:50 pm

    .. tapi saya berpikir orang kaya gini selalu merasa sudah jadi sempurna dengan pribadi mereka yang biasa-biasa saja.

    Prinsip mu sama dengan saya Har .. bahkan, teman2 kolega saya melarang saya gaul dengan anak buah. Kata mereka, nanti wibawa mu hilang. Atau ketika berteman dengan kalangan biasa, mereka bilang kalo itu bukan kelas kita.

    Saya malah berpikiran .. justru mereka itu yang aneh?? apakah mereka dewa. Sehingga tidak boleh bergaul dengan manusia?? Mana ada tuhan ciptakan dewa. Yang ada cuma manusia, hewan, tumbuh2an dan seluruh isi alam raya ini.

    Saya sepaham dengan mu Har .. bagi saya, justru kita lah yang membantu teman selama kita bisa membantu. Dan saya banyak belajar tentang hidup, justru dari mereka. Postingan2 saya hampir sebagian besar ber-hulu dari curhat-nya teman2. Ke-arif-an hidup justru saya peroleh dari pembantu, supir, tukang kebun, tukang becak, tukang2 lainnya yang ada dilingkungan saya.

    Btw .. tapi jangan ngomel2 dong Har. Ntar malah cepat tua loh πŸ˜†

    *eh .. pertamax ya??*

  2. 2 erander 4 Februari, 2008 pukul 10:51 pm

    *siap2 menerima hadiah desain logo-nya saya* :mrgreen:

  3. 3 erander 4 Februari, 2008 pukul 10:53 pm

    Saya tidak memanfaat-kan dirimu loh Har .. untuk bikin desain logo *halah* saya malah hetrik disini. Habis asik sih berteman dengan teman yang aneh πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜† jadi wajar kalo tingkahnya juga aneh2.

  4. 4 Nazieb 5 Februari, 2008 pukul 9:14 am

    Yah, setidaknya mereka masih “orang”
    :mrgreen:

  5. 5 Sayap KU 5 Februari, 2008 pukul 9:24 am

    Sahabat adalah yang TIDAK pernah meninggalkan kita pada saat orang-orang berlomba-lomba lari meninggalkan kita…

    *serius mode ON*

    -Ade-

  6. 6 Sayap KU 5 Februari, 2008 pukul 9:24 am

    Setuju dengan tulisan diatas … SUNGGUH. Kita sahabat kan?

    -Ade-

  7. 7 Hedwigβ„’ 5 Februari, 2008 pukul 10:05 am

    Saya mungkin bukan orang yang memiliki sahabat. Tetapi saya sering melihat orang yang ditinggalkan teman yang mengaku sahabat saat kesulitan menimpanya. Salah satunya baru saja meninggal dunia di RSPP πŸ™‚

  8. 8 Goenawan Lee 5 Februari, 2008 pukul 1:07 pm

    Beh, aku ngeblog aja udah dianggap aneh sama teman sekelas…
    (dasar)

  9. 9 pratanti 5 Februari, 2008 pukul 5:13 pm

    apa anehnya jadi orang “aneh” πŸ˜›

    terkadang saat kita (mungkin sebenarnya saya) menghadapi masalah, kita betul-betul ingin sendiri, tidak diusik oleh siapa-pun. Buat saya, sahabat adalah yang tahu betul kapan keberadaannya diharapkan (maupun tidak diharapkan).

  10. 10 warnetubuntu 5 Februari, 2008 pukul 9:00 pm

    mungkin bener teori law of attraction.. orang aneh akan bersahabat dengan orang aneh juga.. πŸ˜€

  11. 11 gurlinterrupted 6 Februari, 2008 pukul 12:49 am

    ooh..pantesan lo mau sohiban ma gw..pasti karena gw populer kan? hohoho…thank u..thank u..

  12. 12 antarpulau 6 Februari, 2008 pukul 2:34 am

    “……..Sahabat yang ditemani tanpa pamrih adalah yang pertama kali memberi pertolongan, bahkan tanpa perlu bertanya apa-apa.
    Bener ga?…….”

    Hohoho…..
    itu tidak benar…..
    tetapi….
    SANGAT benar…… :mrgreen:

  13. 13 Xaliber von Reginhild 6 Februari, 2008 pukul 11:04 pm

    Wah, saya juga kadang-kadang dibilang begitu. Tapi kata ‘aneh’ itu sendiri kan pernyataan yang lebih bersifat opini dibanding fakta, jadi ya tidak begitu perlu dipikirkan. πŸ˜›


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

%d blogger menyukai ini: