Desain Borju

Yak.. dampratan berikutnya yang sering saya dan pacar saya dapatkan adalah: BORJU!

Banyak sekali orang di sekeliling menuduh karya kami mengandalkan peralatan mahal dan bahan mewah hanya untuk mendapat nilai tinggi. Mereka pikir kami berusaha membeli keindahan dengan uang. Cap borju, sok modal, dan kapitalis tak pernah lepas kalau ada karya yang kira-kira bagus.

Padahal andai mereka tahu, saya tuh mulai kuliah dengan ngekos di tempat sempit dengan dinding yang keropos (sehingga rontokannya harus disapu tiap hari), dan mencuci baju dengan tangan. Saya juga berkali-kali tidak makan dengan layak, kadang hanya gorengan hasil mengumpulkan uang recehan. Baju saya lusuh sudah 3 tahun tidak ganti. Ke mana-mana hanya jalan kaki, kalau kepepet naik metromini. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang dengan sukarela meminjamkan uang bila kantong jebol.

Mau tak mau kehidupan seperti ini saya lalui untuk menggembleng diri, sekaligus sebagai penghapus dosa menyia-nyiakan tiga tahun menghancurkan kuliah (er… total saya menghamburkan 20 juta uang orangtua dengan sia-sia). Lebih susah lagi, setahun kuliah orangtua sudah pensiun. Berarti saya harus lebih banyak berhemat. Kalau ada duit hasil ngutip sana-sini dikumpulkan perlahan.

Perekonomian saya sempat membaik setelah kerja dengan sistem royalti hingga sekian rupiah per bulan. Saya bisa pindah ke kos yang lebih bagus dan beli banyak peralatan. Tapi tuntutan hati nurani bikin saya cuma tahan menerima karunia itu selama 4 bulan. Setelah itu melarat lagi, berhemat lagi.

Saya tak mau munafik, saya punya 50 marker dengan sebatangnya 10 ribu, ada juga satu set akrilik dan cat air dari merk mahal. Saya pernah beli kuas harga sekian ribu. Juga koleksi buku harga ratusan ribuan. Pada dasarnya saya memang setuju bahwa untuk bikin karya bagus perlu bahan bagus pula. Tapi untuk mendapatkan itu semua saya berusaha untuk ga mengongkang-ongkang kaki, menadahkan tangan ke orang tua. Uang hasil simpanan adalah modal utama, selain kerja sendiri, dan pemberian dari beberapa anggota keluarga (baca: nodong, hehehe).

Kalaupun ada hal yang saya todong ke orang tua, itu sudah murni cetak-mencetak saat ujian dan buku. Saya pikir lumrah saja karena mereka sendiri minta hasil kuliah yang terbaik. Lah dengan alasan seperti itu saja, mereka sering mencurigai saya macam-macam, kok!

Barang yang didapat dengan keringat sendiri akan digunakan dengan sepenuh hati. Alat yang digunakan sepenuh hati menghasilkan karya terbaik. Itu prinsip saya.

Saya sadar diri, dengan prinsip seperti itu berarti saya ga boleh punya gaya hidup macam-macam. Banyak yang bilang kehidupan desainer itu ga lepas dari minum, drugs, seks bebas, dugem, rokok, bilyar, dan pesta-pesti. Saya ngejauhin semua itu. Saya juga ga melihara mahkluk bernama kendaraan pribadi, jadi tidak dipusingkan duit bensin dan servis tiap bulan. Juga tidak ada istilah pelesir ke sana kemari. Selagi bisa di rumah, saya mending ngeden di rumah. (Oh yeah, silakan menuding saya ga gaul, tapi “ga gaul” itu juga pilihan hidup, bukan?).

Jadi wajar dong kalau di akhir bulan bisa punya duit lebih untuk beli barang bagus?

Begitulah, akhirnya saya dan pacar kadang tertawa-tawa melihat kenyataan bahwa orang-orang yang dulu hobi sekali menuding kami “borju” malah enak-enakan naik mobil dan motor kinclong, pakai IPOD, bawa-bawa Apel ke ruang kuliah, pake HP seri terbaru cuma buat ngobrol (lah sayang 3Gnya kan?), hingga kalau motret harus pake DSLR paling canggih. Sementara kami berdua pulang naik metromini, menikmati getirnya hidup jadi orang tak mampu.

Lah yang borju sebenarnya siapa, sih?

Iklan

9 Responses to “Desain Borju”


  1. 1 warnetubuntu 31 Januari, 2008 pukul 9:13 am

    Har, lu bener2 orang yg aneh dan nyentrik hahaha.., *kita sesama nyentrik dan aneh kyknya wakakaka..*
    btw, gw sampe sekarang ga punya sim, duit gw selalu habis buat ngembangin usaha 😀 , hasil dari usahanya untuk membikin usaha baru.. bikin usaha baru adalah hobi gw, walopun 4 kali bangkrut.. untungnya masih ditopang dengan usaha sebelumnya.. gw rumah masih ngikut ortu, pegawai gw pada berani kawin dah bisa nabung beli rumah.. ortu gw udah mencak2 ingin dapat cucu wakakaka… hmm.. rencana terbaru ingin bikin usaha, warung bakso, kripik kentang dan minuman sari apel.. (ada yg mau joinan untuk modalin? teknologinya udah ditangan loh hi hi hi)

  2. 2 Nazieb 31 Januari, 2008 pukul 9:36 am

    Mencuci baju dengan tangan. Saya juga berkali-kali tidak makan dengan layak, kadang hanya gorengan hasil mengumpulkan uang recehan. Baju saya lusuh sudah 3 tahun tidak ganti. Ke mana-mana hanya jalan kaki, kalau kepepet naik metromini

    AH, itulah indahnya hidup 🙂

  3. 3 hariadhi 31 Januari, 2008 pukul 5:32 pm

    @warnetubuntu
    haw haw haw.. ya begitulah. Buat idealisme semuanya halal ya, Bos?
    @Nazieb
    Iya, indah.. *sambil ngeliatin tangan yang ngeletek. Hihihii

  4. 4 cK 1 Februari, 2008 pukul 1:03 am

    kehidupan sehari-hari yang menarik.. tapi yang penting kalian bahagia.. 😀

  5. 5 hariadhi 1 Februari, 2008 pukul 2:42 pm

    @CK
    Aminnnn.. Tante CK mau jadi penghulunya, ntar? 😆

  6. 6 indrapamungkas 1 Februari, 2008 pukul 9:26 pm

    salam kenal! saya dulu sempat setahun kulih di arsitektur, ‘ngerti’ banget yang namanya peralatn seni tnu rata2 pada mahal, . .bolpen rapido yang ratusan ribu lah, penggaris aneka rupa dan bentuk, alat warnya yang nggak boleh sembarangan, . .i was there, . heee

    but yang pasti, ada harga ada rupa 🙂

  7. 7 indrapamungkas 2 Februari, 2008 pukul 9:59 am

    iya mas, saya ngerti banget. . .sempet ngerasain kuliah di arsitektur selama setahun. pake bolpen rapido ratusan ribu lah, pensil warna yang nggak boleh sembarangan, penggaris aneka model yang harganya selangit, . .de el el, .but, emang sih ada harga ada rupa tooh?? heeeee
    salam kenal.

  8. 8 hariadhi 2 Februari, 2008 pukul 12:44 pm

    iyah betul… emang mahal dari sananya. kadang mau ngejerit-jerit ga bisa. >_<
    *salam kenal juga 😉

  9. 9 awalakhir 2 Februari, 2008 pukul 8:07 pm

    Gw serasa mendapat hidayah dari komentnya si Nazieb yg berbunyi

    “Mencuci baju dengan tangan. Saya juga berkali-kali tidak makan dengan layak, kadang hanya gorengan hasil mengumpulkan uang recehan. Baju saya lusuh sudah 3 tahun tidak ganti. Ke mana-mana hanya jalan kaki, kalau kepepet naik metromini

    AH, itulah indahnya hidup”

    gw kirain cuma gw yg mengalami hal itu, dan pesan terakhir “itulah indahnya hidup” gw setuju banget… kenapa gw mesti mengeluh 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: