Ssst….Wartawan Tidak Pernah Salah!

Percaya tidak, di dunia ini tidak hanya Nabi yang ma’sum (terpelihara dari kesalahan, red)? Ternyata ada juga satu spesies yang telah dijamin Tuhan kalau tidak akan pernah berbuat salah. Profesi itu bernama wartawan.

Saya udah lihat berkali-kali wartawan yang meradang saat dikritik, yang menjadikan alasan profesinya yang “katanya” sangat sulit dan penuh tantangan sebagai alasan menulis apa saja sekenanya. Merasa tidak perlu cek sana cek sini sebelum menulis berita. Merasa penakeyboardnya adalah senjata untuk membunuh orang yang tidak disukai (atau tidak menguntungkan, maybe?). Merasa dirinyalah hakim seluruh kehidupan dengan jargon “trial by the press”.

Di tahun 90an saya masih sering lihat majalah dan koran yang dengan rendah hati memasang ralat berita di halaman depannya, dengan permintaan maaf sebesar-besarnya. Sekarang? Boro-boro meralat, orang mau memanfaatkan hak jawabnya dengan bikin konferensi press malah dianggap sepi. Kalau tak bisa menaikkan oplah ada nilai berita, tak pantas diliput, katanya.

Ada pula yang menganggap orang yang diwawancarai sebagai objek mainan, halal untuk dilecehkan secara seksual. Adakah wartawan di sana membela si terlecehkan? Tidak… yang ada malah kata “Kamu jangan sombong!”.  Seolah mendukung orang yang melecehkan tersebut. Pedulikah wartawan dengan martabat manusia? Pedulikah wartawan dengan air mata yang membanjiri narasumber? Pedulikah wartawan dengan privacy? Sepertinya lebih peduli dengan deadline hari ini, duh!

Ah.. saya nih manusia kecil yang ga tau apa-apa. Mungkin saja sebenarnya ada mafia pewartawanan dengan seribu trik kotor yang keji. Tapi mungkin pula ada buruh-buruh berita dengan hati jernih seperti Ndorokakung yang bisa kasih pencerahan sama saya. Berjalankah kode etik yang digembar-gemborkan wartawan itu, Ndoro? Bolehkah kita menjadikan tuntutan profesi sebagai dalil untuk berbuat sepuas hati?

Saya dulu kagum sekali dengan film-film yang memperlihatkan perjuangan wartawan menulis berita. Saya terpukau dengan film fotografer jurnalis Nachtway. Saya tergugah oleh kisah Mbak Meutia Hafidz dan Mas Budiyanto saat di Irak. Tapi kini, tidak pantaskah kalau saya kehilangan kepercayaan sama wartawan? Bolehkah saya menganggap berita-berita wartawan sama ga mutusubjektifnya seperti blog yang saya tulis ini? Bolehkah saya besok berhenti beli koran?

*Halah… calon mertua saya wartawan. Bisa diomelin nanti kalau bikin tulisan begini, hihihih.

Disclaimer:

Tulisan ini sekedar keprihatinan soal pemburu berita kita yang sering bertindak seenaknya. Cuma curhat, ga bermaksud menjelek-jelekkan wartawan secara umum. Maaf kalau ada yang tersinggung.

Update

Sstt.. di rekaman ini yang terdengar “kamu jangan songong” yang sepertinya ditujukan ke pelaku “peremasan”. Tapi yang jelas saya masih ga ngeh pentingnya payudara seorang Dewi sebagai berita demi perkembangan Indonesia.

17 Responses to “Ssst….Wartawan Tidak Pernah Salah!”


  1. 1 Nazieb 26 Januari, 2008 pukul 12:02 pm

    Kalo wartawan soal perang ato bencana saya masih respek..

    Tapi kalo wartawan enfotenmen…..

    *ngloyor

  2. 2 Mardies 26 Januari, 2008 pukul 5:02 pm

    Hahaha… wartawan apa amplopwan?

  3. 3 hariadhi 26 Januari, 2008 pukul 5:27 pm

    Wah.. lupa dikasih disclaimer

  4. 4 Goenawan Lee 26 Januari, 2008 pukul 6:35 pm

    *lapor tulisan ini ke wartawan*

  5. 5 realylife 26 Januari, 2008 pukul 6:46 pm

    ayo , kta laporin ke wartawan ( emang , kita kenal ama wartawan )
    ha ha ha
    saya mau mengundang buat baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/01/13/pulang/

  6. 6 Xaliber von Reginhild 26 Januari, 2008 pukul 10:34 pm

    Mungkin beginikah dampak baru dari orde reformasi; kebebasan pers yang tidak sebanding dengan hak yang diberikan?😕

  7. 7 RETORIKA-1000DS 27 Januari, 2008 pukul 12:59 am

    Sekali kali, mereka ngeliput berita di RRC atau Rusia
    he he he disitu wartawan cuma sekedar kuli … kuli berita, salah dikit langsung di eksekusi😆

  8. 8 progoharbowo 27 Januari, 2008 pukul 9:41 am

    wartawan juga manusia indonesia….hehehe

  9. 9 alamputra 27 Januari, 2008 pukul 10:54 am

    Bangsa kita belum siap menerima apa yang dikatakan “kebebasan berekpresi” Bagi wartawan kebebasan berekpresi diartikan sebagai kebebasan menindas hak-hak privasi orang.. Hahaha …. Capek dech

  10. 10 StreetPunk 27 Januari, 2008 pukul 12:03 pm

    Banyak wartawan zaman sekarang yang menyepelekan kode etik jurnalistik, padahal dengan bertindak berdasarkan kode etik tersebut mereka bisa terhindar dari segala tuntutan yang dilontarkan masyarakat🙂 .

  11. 11 O-S 27 Januari, 2008 pukul 12:58 pm

    yah namanya aja tugas……asal msh dlm koridor kodetik

  12. 12 Abeeayang™ 27 Januari, 2008 pukul 2:19 pm

    keyak wartawan inpotemen ituh…? 🙄

  13. 13 yusranpare 27 Januari, 2008 pukul 3:32 pm

    Saya sedang belajar jadi wartawan. Bagi saya, sepanjang dia bejalan sesuai dengan kode etik, dia pantas disebut wartawan. Jika tidak, ya bukan lah.Kini memang makin “mudah” jadi wartawan, bahkan jadi pemimpin media… Tapi publik juga yang akan memilih media mana yang paling kredibel. Salam kenal.

  14. 14 erander 27 Januari, 2008 pukul 3:44 pm

    Wartawan juga manusia ..

    Masalahnya, ketika manusia itu merasa paling benar dan ga pernah salah, maka tunggulah kehancurannya. Siapa pun. Juga termasuk saya. Oleh karena itu .. tolong kritik saya jika ada yang tidak benar. Agar saya sadar bahwa saya adalah manusia.

  15. 15 ndoro kakung 27 Januari, 2008 pukul 10:55 pm

    “Berjalankah kode etik yang digembar-gemborkan wartawan itu, Ndoro? Bolehkah kita menjadikan tuntutan profesi sebagai dalil untuk berbuat sepuas hati?”

    >> tidak mudah menjawabnya, mas. ada yang teguh menjalankan profesi seraya menggenggam erat etik. ada yang meludahinya etika begitu saja. saya bisa apa? tentu saja wartawan juga ndak bisa semena-mena dan menghalalkan segala cara untuk mengejar berita. tapi begitulah yang banyak terjadi. saya cuma bisa mengelus dada… mohon maaf!

  16. 16 gurlinterrupted 28 Januari, 2008 pukul 1:33 am

    bukan cuma wartawan yah, tapi smua profesi yang dikerjain tanpa hati, ya pasti buntut2nya ga mutu & banyak ngerugiin orang! makanya saya ga tahan lama2 jadi reporter, enakan juga nulis di blog, bebas nulis apa aja, makin subjektif makin terkenal!:mrgreen:

  17. 17 eddy 29 Maret, 2008 pukul 2:15 pm

    prinsip wartawan reformasi, yaitu menggantikan suharto menjadi suatu kekuatan baru, yang nyaris menjadi tuhan terhadap sesama, sudah memberitakan tanpa investigasi dan hanya mendengar sepihak pula, buru-buru nanti hanya minta maaf, padahal seluruh keluarga yang diberitakan sudah para malu dan juga anak-anaknya.apakah wartawan indonesia beradab atau biadab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: