Sahih, Dhaif, Palsu

Ah.. ini saya pengen ngajak diskusi ustadz-ustdadz yang cukup mengerti ilmu agama. Tolong ajari saya yang pengetahuannya pas-pasan ini.

Setau saya Hadis daif dan palsu itu kan beda. Dhaif itu hadis yang lemah, karena perawinya tidak kuat atau diragukan tapi tidak bisa langsung dicap salah. Sementara hadis palsu itu yang memang isinya jelek dan mengajak kemungkaran, ditambah pula perawinya orang tidak dipercaya (silakan koreksi saya kalau salah, anda pasti lebih tahu dari saya).

Tapi kok banyak sekali yang menganggap kalau hadis dhaif pasti palsu dan tidak boleh diikuti, ya? Lebih parah lagi, jadi seperti ada kesalahan logika : kalau suatu perbuatan dijelaskan dalam suatu hadis dhaif, bisa langsung dicap haram (?), ga lagi menimbang apakah perbuatan itu mengandung keraguan atau yang sebenarnya boleh-boleh saja.

Misal, hadis dhaif:

Tuntutlah Ilmu walaupun ke Negeri Cina

Karena ini hadis dhaif, maka menuntut ilmu ke negeri Cina adalah haram. Siapapun yang berani pergi ke Negeri Cina menuntut ilmu adalah kafir. Sementara kalau melancong ke Cina, karena tidak ada hadis dhaif yang menjelaskannya, maka itu adalah perbuatan halal.

(ngerti kan kesalahan logikanya di mana?)

Jadinya hadis dhaif itu seperti pembenaran untuk melarang-larang kegiatan orang lain.

… atau memang yang enak itu selalu jadi objek untuk diharam-haramin, ya?

Iklan

7 Responses to “Sahih, Dhaif, Palsu”


  1. 1 warnetubuntu 22 Januari, 2008 pukul 12:55 am

    konon kabarnya, hadist “kebersihan adalah sebagian dari iman” juga dhaif.. haruskah kita menjadi jorok? 😀 ,
    btw, pernah baca tulisan geddoe? http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/04/15/distortion-and-conformity/

  2. 2 hariadhi 22 Januari, 2008 pukul 1:19 am

    Baru baca. Ngasih ide lain tuh. Makasih, ya

  3. 3 Nazieb 22 Januari, 2008 pukul 1:17 pm

    Malah tidak ada hadits tentang blogging..

    Jadi blogging itu: HARAM KUADRAT!!!!

    Ngasi komen juga HARAM!!

  4. 4 Ram-Ram Muhammad 22 Januari, 2008 pukul 5:40 pm

    Halah… saya mulainya harus dari mana ya Kyai Har…? *binun*
    Soal kedudukan hadist yang dhoif, saya ilustrasikan saja seperti berikut *halah*

    Ketika seorang anak kecil datang kepada anda memberitahukan bahwa ada Gus Dur lagi makan di warung, sekalian nraktir anak-anak makan bareng beliau. Reaksi pertama anda adalah tidak percaya! Mosok Gus Dur datang buat sekedar makan di wartegnya Kyai Hariadhi? Nraktir anak-anak lagi… :mrgreen: Anda akan berfikir pendek, “dasar anak-anak..”.

    Selang beberapa waktu kemudian datang anak kecil yang lain, memberitahukan kabar yang sama. Jidat anda mungkin akan mulai sedikit mengkerut, “ah, masa iya sih”.

    Eh, dateng lagi anak-anak yang lain mengabarkan berita yang sama. Dengan cara bertutur yang agak berbeda, tapi inti pesannya sama: Ada Gus Dur lagi makan dan nraktir anak-anak makan.

    Kalau sudah begini, anda biasanya akan mulai percaya bahkan mungkin percaya. Karena sekalipun yang membawa kabar adalah anak kecil, tapi jumlahnya banyak (tidak satu orang) dan saling mendukung. Anda tidak punya alasan untuk tidak mempercayainya…

    Begitu pula dengan kedudukan hadist dhoif. Ketika hadist dhoif diiringi oleh hadist yang lain (tentu dengan makna serupa, misalnya tentang kewajiban menuntut ilmu), atau setidaknya tidak bertentangan dengan kaidah khusus maupun umum, serta nash alquran, maka dengan sendirinya hadist dhoif tersebut kedudukannya menjadi kuat dan dapat dijadikan sebagai hujjah. Demikian pendapat kebanyakan para imam mazhab.

    Segini saja dulu deh *halah*, saya coba meringkasnya kemudian.
    *betulin kopyah*
    *ngeloyor ke dapur*

  5. 5 Ram-Ram Muhammad 22 Januari, 2008 pukul 5:43 pm

    Logika berfikir Kyai Hariadhi juga tidak tepat. Berhati-hatilah akhi dalam berbicara, sekiranya antum tidak menguasainya,maka diamlah. Karena diam lebih baik buat antum.

    Ana famit dolo
    *ditendang Hariadhi*
    :mrgreen:

  6. 6 hariadhi 22 Januari, 2008 pukul 5:47 pm

    Tetapi… tetapi tetapi… Itu yang saya lihat dari banyak pendakwah lho Pak Abu RamRam, bukan diimajinasikan sendiri (soal menuntut ilmu ke negeri Cina emang imajinasi, soalnya saya ga mau nembak langsung orangnya, hohoho)

    *Mulutnya diplester Kyai RamRam
    *plesternya lepas lagi

    Wakakakkakaka 😆 Makasih buat pencerahannya. Ada lagi yang mau kasih info buat sayah?

  7. 7 hariadhi 22 Januari, 2008 pukul 5:50 pm

    @Nazieb
    hohohohoho ngeblog udah haram dari sononya kok.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: