Working with Designer

Har.. gw sebel deh. Masak minta desain baju gw malah kaya diinterogasi! Gw tuh cuma mau minta bikinin kebaya, ehhh… Desainernya nanya macem-macem. Siapa gw, gimana hidup gw, apa pekerjaan gw, sifat gw gimana. Sampe nanya bajunya mau gw bawa ke acara apa? Lah itu kan masalah pribadi? Suka-suka gw, dong! Itu desainer apa detektif, sih?!

Lah iya.. pertanyaan sejenis ini sering muncul dari orang yang kurang paham bedanya desainer fashion dengan tukang jahit baju.

Seriously, saat anda mendatangi seorang desainer, yang anda beli adalah solusinya, bukan keahliannya. Seperti saya jelaskan dalam post sebelumnya, kreativitas ga akan muncul kalau desainernya ga tahu apa yang akan dia buat. Karena itu dia butuh informasi sebanyak mungkin. Sebaliknya, kalau anda didatengi desainer yang ngaku bisa dapat ide sekejap dari negeri antah-berantah, anda boleh curiga kalau dia desainer palesu.

Bayangin anda berobat ke seorang dokter. Kalau anda malu-malu ikut tes mamografi, mana dokternya bisa tahu anda kena kanker payudara atau ga? Kalau dokternya ragu dengan analisanya sendiri, mana bisa dia kasih obat kanker paling tokcer sama anda?

Nah, hal yang kira-kira sama akan terjadi kalau anda merekrut desainer grafis. Katakanlah ada perusahaan atau produk anda butuh logo, maka anda harus siap saat ditanyai desainernya:

“Perusahaan Bapak memproduksi apa?”
“Filosofi perusahaannya apa?”
“Segmentasinya ada di mana?”
“Marketnya niche apa tidak?”

Mungkin pertanyaan di atas gampang dijawab, tapi saat ditanyai masalah-masalah sensitif seperti ini:

“Bagaimana keadaan dalam perusahaan bapak? Karyawannya semangat atau tidak?”
“Apakah keuangannya merugi?”
“Apakah mempunyai masalah dengan investor?”
“Apa kelemahan produk bapak?”
“Kira-kira kenapa produk perusahaan lain lebih hebat?”
“Secara jujur, bapak sendiri bosan tidak kerja di sini?”

Kebanyakan perusahaan akan takut membuka boroknya, atau ditutup-tutupi dengan jawaban “Ohh.. perusahaan kami baik-baik saja!”, “Produk kami laris”, “Investor percaya sekali”, “Saya cinta perusahaan ini”. Pokoknya semua jawaban Asal Bapak Senang.

Pusing? Oke, anda boleh stop dan ganti saja dengan bacaan yang ringan yang saya buat di sini. 

Poin pertama yang harus anda camkan saat bekerja dengan desainer adalah, jangan menutupi masalah. Desainer bertugas memecahkan masalah anda dari segi desain, seperti juga akuntan memecahkan masalah anda dari sisi keuangan. Saat anda pikir perusahaan anda tidak punya masalah apa-apa, maka kenyataannya adalah anda tidak sedang butuh desainer!

Desainer bukanlah atasan anda, jadi anda tidak perlu menyenangkan dia dengan informasi positif. Jangan pula takut rahasia perusahaan bocor. Tentu setiap desainer punya moralitas yang membuat dia tidak membeberkan rahasia klien. Kecuali kalau anda terjebak dengan desainer palesu, ya, seperti yang saya kasih tahu di atas.

Eh, ada angin apa membahas ini, Har?

Ho… Ini rada berhubungan dengan kuliah Desain Komunikasi Visual III saya. Di semester ini kita dituntut terjun ke lapangan. Nah.. peristiwa seperti di atas sering menjadi halangan kita dalam membuat desain yang baik.

Beberapa perusahaan sepertinya begitu ketakutan saat kita tanyai. Bahkan teman saya ada yang sama sekali tidak mendapat akses (baca: disuruh pulang dengan tangan hampa!). Padahal perusahaan yang diwawancarainya adalah perusahaan milik pemerintah yang melayani kepentingan publik, lho. Hayo.. kenapa takut diwawancara, coba?

Keterbukaan adalah ciri sebuah perusahaan yang maju. Perusahaan yang penuh rahasia bisa dicurigari menyimpan “sesuatu”. Mungkin tidak busuk, tapi jelas itu “sesuatu”. Menutupi informasi juga berarti menutup kesempatan memperbaiki diri. Nah, anda pilih mana?

Asiknya saya dapat jatah Blue Bird Group. Mereka cukup terbuka memberi informasi. Walaupun kadang muka-muka mereka kebingungan saat saya tanyai dengan pertanyaan sensitif di atas, saya bisa mendapat gambaran situasi perusahaan seperti apa, sehingga bisa memberi solusi yang tepat, bukannya mereka-reka apalagi berasumsi. Bahkan dalam kesempatan terakhir saya diperbolehkan mengambil foto dan melihat “dapur” perusahaannya. (Sayangnya kemarin saya ga bisa berlama-lama). Sekarang saya mengerti mengapa mereka bisa terus-terusan bikin inovasi dan jadi market leader.

Makasih, Pak Teguh! Sekarang saya bisa konsentrasi dengan tugas kuliahnya.

Promosi terselubung, Har? ya ga lah. Ga dibayar apa-apa kok. Cuma mau bilang makasih aja emang ga boleh?

Iklan

2 Responses to “Working with Designer”


  1. 1 Hoek Soegirang 13 Januari, 2008 pukul 3:58 pm

    hooo…tiap kali baca postingan di blog ini, saia makin menyadari bahwa emang setiaf frofesi funya kerumitan sendiri-sendiri yak…..


  1. 1 Working with Designer Part Deux « Hariadhi Lacak balik pada 13 Januari, 2008 pukul 5:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: