Poligami yang Poliester

Dari sekian banyak ketidakadilan yang menimpa wanita, saya paling miris dengan masalah kesterilan. Steril itu apa, Har? Ooooo. Itu kalau bahasa sehari-harinya “mandul”.

Bagaimana tidak. Masalah kemandulan sering menjadi alasan disahkannya poligami. Suami bahkan dianggap wajar meninggalkan istri yang tidak bisa memberinya keturunan. Saya sendiri banyak menemui istri-istri yang diceraikan suaminya dengan alasan ini. Tidak dinafkahi pula. Dan apa kata masyarakat? “Oooo.. ya jelas aja. Mandul kok belagu.” (!)

Sebaliknya kalau suami steril, adakah yang menyalahkan? Waktu kanak-kanak, saya pernah baca majalah dengan rubrik konsultasi keagamaan. Sang Istri mengeluhkan suaminya yang tidak bisa memberi keturunan, bahkan (maaf) impoten. Dia menanyakan jalan keluar terbaik. Apa kata si pengasuh rubrik?

Klasik:

Ibu bertawakallah kepada Allah SWT. Semua itu adalah cobaan, jangan meninggalkan suami ibu. Layanilah ia sebaik-baiknya. Jangan menyinggung masalah impotensi demi menjaga perasaannya. Kesabaran Ibu akan dibalas surga. Banyak-banyak zikir.. blah blah…

Jadi, maaf. Kalau seandainya saya wanita, konsep perkawinan itu seperti jari terkena lem super. Sia-sia saja lepas. Dan kalaupun lepas pasti merobek kulit, meninggalkan jejak yang dipandang hina-dina oleh semua orang.

Sementara kalau saya lelaki, perkawinan itu seperti lem kertas. Kalau saya pengen lepas, tinggal dibasuh air sedikit. Pasti ga nempel lagi.

Jadilah agama itu seperti poliester, bahan baju yang bisa ditarik-tarik semaunya oleh pihak berkepentingan. Dalam hal ini lelaki. Kalau menyangkut lelaki itu halal. Kalau menyangkut wanita itu makruh, bahkan mendekati haram, saya pikir.

Iklan

12 Responses to “Poligami yang Poliester”


  1. 1 warnetubuntu 9 Januari, 2008 pukul 7:32 pm

    untungnya saya laki2 😛

    menurut saya sih itu semua tergantung orangnya, saya mengenal beberapa pasangan yg tanpa anak, bahkan ada yg sampe sekitar 20-an tahun tapi baik2 saja tuh..
    btw, agama hanyalah sebagai alat pembenar, dan untuk diketahui, secara alami, manusia itu cenderung untuk poligami.. mungkin hal ini mirip judi, agama mengharamkan judi, tapi banyak orang yg masih berjudi…

    pernah baca artikel ini? http://psychologytoday.com/articles/index.php?term=pto-4359.html
    silahkan terkaget2.. 🙂

  2. 2 Fa 9 Januari, 2008 pukul 9:57 pm

    ndak usah kaget to mas, sudha biasa klo ada org menggunakan ‘dalil agama’ untuk mendukung keinginannya, dalil yg mendukung digembar gemborkan, sementara dalil yang memberatkan klo bisa dilenyapkan. hehe…

  3. 3 Nane 9 Januari, 2008 pukul 11:33 pm

    pengumuman untuk semua pria!!

    kini angka kemandulan memang meningkat..
    akibatnya adalah meningkatnya pula karyawan kantoran yang menghabiskan kebanyakan waktunya duduk di di depan komputer hingga berjam-jam, atau berada di mobil seharian (kalo supir yaah)…
    hal tersebut meningkatkan suhu testis, menyebabkan produksi sperma yang tidak optimal, dan meningkatkan resiko impotensi..
    oleh karena itu.. untuk para pria… setiap 2 jam duduk, istirahatlah setengah jam berjalan-jalan untuk menurunkan suhu testis anda… supaya nggak cepet mandul.. ;p

    hehehe… sorry ya har.. gw ngasi kuliah dulu nih.. 😀

  4. 4 Hoek Soegirang 10 Januari, 2008 pukul 1:31 am

    “adilah agama itu seperti poliester, bahan baju yang bisa ditarik-tarik semaunya oleh pihak berkepentingan.”
    sip! setuju sangadh! walopun mungkin topik ini bagi sebagian kaum berjenggot dianggap tabu untuk dipertanyakan, tetapi kalo ditelaah kembali dan disesuaikan dengan keadaan sekarang ini, terlihat ada sesuatu keganjilan yang nyata *halah*
    eniwei, mo berfoligami ya mas? *ditendang ke laut*

  5. 5 Xaliber von Reginhild 10 Januari, 2008 pukul 1:44 am

    Agama sering dijadikan alat ya memang… ataukah pada dasarnya agama memang alat untuk pembenaran? 😕

    Btw padahal poliandri juga gpp lho, IMO, daripada ngga punya keturunan kandung.

  6. 6 hariadhi 10 Januari, 2008 pukul 12:36 pm

    @warnetubuntu
    udah baca linknya kemarin. Analisa aneh tapi masuk akal juga. 😛

    @Fa
    Dengan kata lain.. jenggot terpanjang berhak memutuskan segalanya? 😀

    @Nane
    Hoa.. untung gw terlalu kere untuk punya mobil. Habis duduk lama testisnya dikompres es batu aja kali, ya Bu Gulu?

    @Hoek Soegirang
    Eurhhh soal berpoligami… sebenarnya tidak tergantung ada niat pelaku saja, tapi harus ada kesempatan. Jadi kalau memungkinkan… hohooho

    @Xaliber von Reginhild
    nah.. siap tidak?

  7. 7 erander 10 Januari, 2008 pukul 2:59 pm

    Poliester .. itu campuran senyawa kimia yang mengganti cotton ya?? ga mudah kusut dan selalu tampak licin. Padahal poliester itu ga nyerap keringat. Beda dengan cotton. Adem dikenakan di daerah tropis. Saya lebih suka pake cotton. Walau sering kusut dan mesti sering disetrika.

    Sama halnya saya suka monogami. Lebih adem. Sudah tahu sama tahu. Ga perlu mikir macem2. Fokus dikerjaan. Sementara dia dirumah, dia menunggu dengan setia kita pulang kerja. Walaupun tidak ada ‘permata’ di rumah. Rasanya jadi seperti pacaran terus sampai kakek nenek.

    Orang2 gpp pake poliester. Kelihatan rapi dan licin. Tapi kaya’nya lebih cocok dipakai di negeri sub tropis atau non tropis. Yang ada winternya itu loh.

  8. 8 Xaliber von Reginhild 10 Januari, 2008 pukul 3:43 pm

    @hariadhi:
    Siap apanya, mas? (Kalau punya) istri saya poliandri? 😕
    Hehe, mungkin sama beratnya dengan istri yang suaminya berpoligami. 😛 Entahlah.. saya punya pacar aja belum. :mrgreen:

  9. 9 konsultan 10 Januari, 2008 pukul 4:37 pm

    wah setujuh…
    kan memang agama itu sangat tergantung dari interpretasi. kebetulan interpreternya dominan laki2… jadilah dipilah pilah yang mana menguntungkan bagi laki2 😀

  10. 10 danalingga 10 Januari, 2008 pukul 7:54 pm

    Poligami kalo his storynya mungkin memang demi kepentingan laki laki. *lirik komen di blog saya*

  11. 11 Praditya 11 Januari, 2008 pukul 5:20 am

    Sementara kalau saya lelaki, perkawinan itu seperti lem kertas. Kalau saya pengen lepas, tinggal dibasuh air sedikit. Pasti ga nempel lagi.

    Waw… Saya suka analoginya…
    Memang sepertinya seperti itu yah, lelaki kalau sudah “lepas” tidak “ditinggalkan jejak” ataupun “berbekas”. Tapi tidak sebaliknya dengan perempuan… 😀

  12. 12 hariadhi 11 Januari, 2008 pukul 10:58 am

    @eranderh
    hahaha.. malah dianalisa. Iya poliester itu yang licin rapi jali, kadang ga disetrika juga bisa dipake. Tapi ada juga yang produknya bisa ditarik-tarik, dibentuk sesuka hati. kaya di selotip.

    Di daerah “sana” dingin sih, mas. Jadi butuh banyak “hiburan”.

    @Xaliber von Reginhild
    Gih cari. Nanti ga sempat ngerasain nikmatnya poligami punya pasangan, lho.

    @konsultan
    Ga ada istilah win win solution ya, mas? 😛

    @danalingga
    hehehehe, udah baca. Banyak bener komentarnya.

    @Praditya
    Siap jadi perempuan? >_<


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: