Leadership: Bukan Wilayah Teori

Organisasi apa yang anda harapkan dari kepemimpinan yang buruk?

Seorang manajer mengeluh bagaimana timnya sulit sekali mencapai produktivitas yang diinginkan. Semua anggota tim sudah bekerjasama menyusun target yang mereka inginkan dalam suasana kekeluargaan. Ia sebagai manajer sudah berkali-kali menceramahi bawahan soal pentingnya kerjasama. Tak terhitung biaya pelatihan untuk melatih teamwok mereka dengan mendatangkan motivator-motivator handal.

Namun di akhir tahun tetap saja ada beberapa orang bintang yang mencapai target, bahkan melampauinya. Sementara rekan mereka disikut, sehingga jauh di bawah target minimal. Tidak ada kerjasama, yang ada suasana penuh persaingan. Semua saling iri dan ingin menjatuhkan rekan yang seharusnya ia ajak berkolaborasi untuk menciptakan hasil yang berlipat. Akibatnya produktivitas tim terus menurun.

“Apa yang salah dengan mereka? Saya sudah berkali-kali mengikutsertakan mereka dalam kursus teamwork. Saya sudah janjikan insentif untuk yang berprestasi. Saya sudah ancam mereka yang tidak berprestasi. Nyatanya mereka sama sekali tidak bersemangat maju bersama-sama!”

Konsultan itu tersenyum, ia menunjuk ke arah papan target. Papan yang mencantumkan nama masing-masing anggota tim beserta catatan progress mereka. Di ujungnya ada garis finish dengan tulisan “Siapa yang paling dulu mencapai target, mendapat tiket liburan ke Hawaii”.

“Kesalahan ada di pemimpin. Berkebalikan dengan ceramahnya yang berkoar-koar mengenai kerjasama tim, ia mengkondisikan anggota tim dalam suasana persaingan. Kemenangan salah satu anggota berarti kematian untuk anggota lainnya. Bawahan yang gagal mencapai target terancam hukuman dari atasannya. Sebaliknya jika anggota lain belum mencapai hadiah itu, ia masih berkesempatan merebutnya.”

“Sekarang ubahlah hadiahnya, tidak perlu pergi ke Hawaii untuk satu orang pemenang. Pesan saja liburan bersama ke luar kota hanya jika keseluruhan tim berhasil mencapai target tertentu, bukannya satu hadiah utama untuk pencapaian pribadi. Kalaupun ada hadiah utama, berikan kepada anggota yang berhasil mencapai targetnya berkat kerjasama dengan orang lain, bukan keringatnya sendiri.”

Dikutip dari buku Frank Pacetta Steven R Covey, 7 Habits of Highly Effective People, dengan banyak sekali modifikasi.

Saat suatu kesalahan terjadi dalam organisasi, mudah sekali menyalahkan bawahan. Pemimpin sering lupa bahwa pencapaian seringkali dipengaruhi gaya kepemimpinan yang diterapkan, bukan kelemahan bawahan. Kepemimpinan yang jelek membuahkan pembusukan organisasi. Organisasi busuk menghasilkan kinerja yang busuk pula. Kinerja busuk menghasilkan bawahan-bawahan pemalas, birokratis, dengan daya juang rendah.

Dalam keadaan seperti ini, jauh lebih mudah menyalahkan bawahan, karena merekalah bukti nyata kebusukan organisasi. Sementara seorang pemimpin busuk tersimpan aman di balik meja yang tinggi.

Susahnya, kebusukan dalam organisasi itu kadang seperti bau kentut. Mudah sekali mencari penyebab dan pelakunya, tapi hanya sedikit yang mau menghilangkannya. Hanya seorang pemimpin besar yang berani mengubah kultur yang sudah diagung-agungkan, dengan menerima resiko dikecam bahkan ditinggalkan oleh seluruh anggota.

Nah, anda berani tidak mengambil resiko itu?

Iklan

6 Responses to “Leadership: Bukan Wilayah Teori”


  1. 1 chiw 7 Januari, 2008 pukul 7:30 am

    ehm… tapi kenapa di saat saat akhir, justru pemimpin yang lebih banyak disalahkan ya? πŸ˜•

  2. 2 Sayap KU 7 Januari, 2008 pukul 9:51 am

    Baca tulisan diatas serasa sedang kuliah “organizational behaviour” tentang bagaimana berbagi skill dan environment di organisasi…

    Jadi dosen aja mas …

    -Ade-

  3. 3 Hariadhi 7 Januari, 2008 pukul 10:00 am

    @Ade
    Amin, tar kalau lulus.

    @Siwi
    Well, ga selalu. Tapi kalau keburukan organisasi berlangsung terus menerus memang pemimpinnya yang perlu dipertanyakan. Kalau satu atau dua anggota yang jelek biasanya keburukannya bisa dicover anggota lain. (kalau mimpinnya bener, lho ya!)

  4. 4 warnetubuntu 7 Januari, 2008 pukul 9:37 pm

    sebenarnya yg paling susah adalah mengakui dan menyadari dirisendiri bukan leader yg baik…
    saya punya pengalaman, menjadi angel investor di sebuah perusahaan kecil2an.., dilihat dari persen investasi.. secara otomatis saya adalah ‘pemimpin’ dari organisasi tersebut, tetapi saya menyadari kalau saya tidak bisa sepenuh hati masuk di organisasi tersebut karena sibuk dengan urusan yg lain (ngegame, ngeblog dll) πŸ˜€ , akhirnya saya mengangkat seorang leader yg dari test kecil2an memiliki skill leadership yg bagus.. sehingga secara hirarki perusahaan, saya adalah ‘anak buah’ dia πŸ™‚ , syukurlah sampai sekarang perusahaan bisa survive πŸ™‚

    ide ini saya tiru dari microsoft.. bill gates mundur dari CEO digantikan oleh steve balmer, sedangkan bill gates sendiri ‘hanya’ menjadi ketua riset RND πŸ™‚

  5. 5 hariadhi 8 Januari, 2008 pukul 1:08 am

    @warnetubuntu
    hohoho jadi ingat kuliah manajemen. Jadi ekornya macan bisa saja lebih enak dari kepala tikus πŸ˜€ Tergantung di mana kita ambil posisi.

  6. 6 arylangga 18 Juni, 2008 pukul 3:46 pm

    benar..kepemimpinan bukan untuk teori , tapi lebih ke arah untuk membuat keadaan menjadi lebih baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: