Memaknai Ulang Sedekah

Baru saja saya membaca lagi diktat Sosiologi Desain yang membahas kelas-kelas sosial. Suka atau tidak, dalam kondisi pemerintahan seideal apapun, bahkan komunisme, terjadi stratifikasi sosial secara otomatis.

Masyarakat kelas bawah biasanya adalah masyarakat yang tidak memiliki kemampuan memanjat ke kelas yang lebih tinggi untuk memperbaiki kemampuan ekonominya. Ketidakmampuan ini biasanya terjadi karena ketidakmampuan memiliki modal.

Teorinya saat kita bisa menghapuskan hal tersebut, maka mereka dengan mudah bisa berpindah kelas. Itulah maknanya sedekah. Perbedaan kemampuan ekonomi antara kapitalis dengan proletar boleh saja tinggi, tapi harus ada persamaan kesempatan untuk memiliki kemampuan ekonomi lebih baik di diri semua orang.

Tapi dalam masyarakat yang sudah dipengaruhi konsumerisme, teori ideal ini tidak lagi sesuai dengan asumsi masa lalu. Pemberian tidak lagi dimanfaatkan sebagai modal untuk melakukan produksi, tapi lebih sebagai rangsangan untuk melakukan konsumsi lebih banyak. Karena itulah kita sekarang bisa menyaksikan mengemis sebagai profesi permanen. Kenapa anak-anak jalanan dalam usia dini senang sekali hidup mengamen. Perampokan berdalih minta sumbangan yang marak, dan sebagainya.

Ini juga yang menjelaskan kenapa terjadi fenomena masyarakat yang senang duit cepat tapi malas bekerja. Akibatnya usaha penipuan marak. Kejahatan seperti ini terjadi bukanhanya karena ada pelakunya kan? Harus ada juga korban yang dengan sukarela mau ditipu. Jadi dalam beberapa segi sedekah bertanggung jawab terhadap adanya masalah-masalah sosial.

Berikut kutipan dari diktatnya:

Charles Murray menganggap bahwa jika anda memberi orang jaminan kesejahteraan, maka mereka menjadi tergantung kepada bantuan itu dan malas bekerja. Mereka kemudian masuk kelas bawah. Yang perlu kita lakukan adalah mencabut bantuan itu, dan mereka akan merasa bertanggung jawab secara sosial dan mencari pekerjaan.

Bukan berarti bersedekah tidak boleh. Tapi menurut saya harus redefinisi makna sedekah. Sedekah tidak boleh lagi dimaknai sebagai pemberian kepada personal. Tujuannya harus berubah menjadi pemberian kepada usaha-usaha sosial yang berusaha memperbaiki kemampuan orang lain untuk menjadi lebih makmur. Misalnya Sekolah, pembelaan HAM, palang merah, rumah-rumah singgah, hingga Kredit Usaha kecil dan mikro.

Omong-omong anda sudah pernah iseng mengunjungi google.org belum? Ini bukan mesin pencari, tapi sebuah usaha filiantropis dari perusahaan yang sudah menangguk keuntungan besar lewat bisnis mesin pencari.

11 Responses to “Memaknai Ulang Sedekah”


  1. 1 Chiw 4 Januari, 2008 pukul 6:51 pm

    iya ya… usaha mesin pencari emang menguntungkan… dan kita udah sedekah banyak banget ke mereka dengan semakin sering bermalas malasan nyari referensi lewat buku…

    🙄

    betewe, saya pertamax ya?:mrgreen:

  2. 2 Chiw 4 Januari, 2008 pukul 6:54 pm

    jadi ingat kutipan dari dosen Pendanaan Kapal saya…

    di Negara kita ini, siapa yang ingin kaya, ya…mau nggak mau harus kaya terlebih dahulu…

    nyambung gak, komen ini?
    sangat nyambung kok sebenernya…

    disambung2in aja…

    yasudah sana…kamu ke KBBI, direvisi itu arti kata sedekah:mrgreen:

  3. 3 Chiw 4 Januari, 2008 pukul 6:57 pm

    ah, seandainya suku bunga rente dan deposit itu imbang…
    🙄

    yang miskin gak akan semangkin miskin kayak disini…

    ah, menjadi sehat itu susah ya?

    *arek Kapal sekaligus Ekonomi lagi ingat dengan jurusannya*

    eh, hetrik kan ya?
    :mrgreen:

  4. 4 warnetubuntu 5 Januari, 2008 pukul 12:28 am

    ada pepatah.. jangan memberikan seseorang ikan.. tetapi berilah dia kail dan cara memancing ikan🙂

  5. 5 hariadhi 5 Januari, 2008 pukul 12:36 am

    @Siwi
    He eh iya.. nyambung-nyambung aja kok. Tapi ya itu , masalah di negeri kita, gw pikir bukan karena yang miskin ga bisa kaya. Tapi lebih karena yang miskin dibiarkan menikmati kemiskinannya. Ya sesuai dengan konsumerisme itu. Orang yang diberi modal bukan berusaha menambah modal, tapi malah dihabiskan untuk menikmati hidup.

    Kalau ga salah di Si Doel anak sekolahan ada episode kaya gini. Mas Karyo dapat kredit dari bank bukannya buat bikin usaha, tapi buat beli motor!

    Lho perkapalan yah. Dulu gw pernah ambil mesin. Ga jauh-jauh hehehe.

    @wanetubuntu
    hohoho…. betul.😉

  6. 6 Hoek Soegirang 5 Januari, 2008 pukul 1:35 am

    Tapi dalam masyarakat yang sudah dipengaruhi konsumerisme, teori ideal ini tidak lagi sesuai dengan asumsi masa lalu. Pemberian tidak lagi dimanfaatkan sebagai modal untuk melakukan produksi, tapi lebih sebagai rangsangan untuk melakukan konsumsi lebih banyak. Karena itulah kita sekarang bisa menyaksikan mengemis sebagai profesi permanen. Kenapa anak-anak jalanan dalam usia dini senang sekali hidup mengamen. Perampokan berdalih minta sumbangan yang marak, dan sebagainya.

    SIP! memang sedekah sekarang dimaknai lain sangadh, dan saia fun baru sadar sekarang, bahwa kini sedekah sudah tidak “suci” lagi, bukannya menjadi rata, tetafi malah membuadh si miskin tambah miskin karena merasa dimanja, dan si kaya tambah kaya…ya karena bersedekah. (orang yang bersedekah khan rezekinya makin banyak)
    halah, ngomen afa saia ini….

  7. 7 hariadhi 5 Januari, 2008 pukul 2:55 am

    hihihi awas nanti hukumnya jadi haram lho.😀

    *becanda.

  8. 8 wong 5 Maret, 2008 pukul 3:26 pm

    Aku sangat meyakini bahwa agama bukan untuk Tuhan, tapi untuk manusia.Agama apapun itu.
    Maka apa pun yang ada di dalam agama, pada dasarnya untuk manusia. Tak terkecuali sedekah, misalnya dalam Islam.

    sementara, persaudaraan antar manusia adalah hal utama dalam kehidupan berkepercayaan kepada Tuhan.Seringkali tolak ukur keimanan selalu berangkat dari bagaimana seseorang bersikap kepada sesama.
    Air, tanah, udara, adalah makhluk-makhluk yang tidak membutuhkan agama. tapi semua itu diperuntukkan oleh manusia yang konon beragama. nah, sayangnya, sejak materialisme hadir disusul kapitalisme sebagai anak kandungnya kemudian dicounter oleh komunisme dan seterusnya persoalan sosial selalu menjadi timpang. Tanah, air, udara hanya menjadi segelintir orang. Ini punya gue, itu punya gue. dan punyaku punyaku yang lain.

    Kemudian, kalau semuanya dari Tuhan, itu berarti kemiskinan juga dari Tuhan, dong! Tapi yo kenapa Tuhan menyuruh kita hidup bebarengan dengan mereka. Itu artinya menjaga hubungan antar manusia dengan cara “saling” memberi adalah niscaya(take and give). Aku yakin memberi adalah menerima. semacam hukum kekekalan energi begitu lah!

    Inilah sedekah.
    tapi tentang redefinisi sedekah tetap saja ok! sedekah yang asal katanya sho-da-qo, artinya BENAR. apa saja bila dilakukan dengan benar itulah sedekah. menyebrang pada tempatnya, berhenti ketika lampu merah, menghormati pengguna jalan lain, tidak membuat orang lain terluka adalah sedekah.

    kira-kira itu…..awalan re-definisi itu…
    selanjutnya?
    ah, jangan ngomong-ngomong kalau mau dan sudah sedekah!

    wongdzolim

  9. 9 hariadhi 5 Maret, 2008 pukul 10:54 pm

    hehehehe, ketawa ngeliat tulisannya. Lucu dan ngasih pencerahan😉

  10. 10 donkomo 22 April, 2008 pukul 5:32 pm

    kayaknya bung gak paham tentang konsep pembagian kelas dalam masyarakat…bahkan dengan gegabah menulis bahwa kelas juga ada di komunisme? bukankah sumbangan terbesar dari komunisme, kita bisa memahami perbedaan kelas dalam masyarakat yang berusaha dikaburkan/ditutupi perbedaan kelas dan pertentangannya dalam konsep ekonomi kapitalis…

    mungkin perlu membaca buku dahulu sebelum menulis…
    semoga tak gegabah seperti banyakan orang indonesia….demam blog menulis seperti kesetanan

    akhirnya sampah yang saya baca

  11. 11 hariadhi 22 April, 2008 pukul 10:23 pm

    Oh.. saya salah? Terima kasih sudah membetulkan😉

    Communism is a socioeconomic structure that promotes the establishment of a classless, stateless society based on common ownership of the means of production.[1]

    (itu teori idealnya, tolong baca lagi apa yang saya tulis di atas)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: