Jadikan Aku yang Kedua

Hohohohoh ini bukan lagunya artis yang senang mirip-miripin cengkoknya sama bJork itu

Saya pengen bikin pengakuan. Waktu kecil saya ini punya watak perfeksionis dan ambisius. Dalam hal apapun saya ingin jadi yang terbaik. (walaupun kadang perfeksionisme ini malah bikin kerjaan saya celaka). Kalau sedang dinilai, saya ingin nilai terbaik. Kalau ada pembagian rapor ingin jadi juara satu. Tapi saya tidak senang main kotor. Saya tahu untuk mencapai itu saya harus belajar tekun.

Tapi bingung deh apa Tuhan maha tahu atau maha tidak adil, saya malah selalu dikasih nomor dua. Nilai saya termasuk yang tertinggi, tapi selalu ada teman yang bisa lebih tinggi dari saya. Kalau balap karung, pasti jadi nomor dua. Rangking kelas selalu nomor dua. Sehebat apapun saya berusaha selalu nomor dua.

Sementara ada salah seorang teman saya yang selalu jadi nomor satu. Padahal kalau dilihat belajarnya santai saja, bahkan cenderung main-main. Nilai Ebtanasnya tertinggi, padahal saat saya malamnya begadang mengerjakan latihan soal, dia malah nyanyi-nyanyi di pagar rumah bareng teman-teman.

Sakit hati tidak? Saya heran, iri, bahkan sampai mendengki. Saya sampai kepikiran banyak sekali penyangkalan dan tuduhan di dalam kepala. Saya pernah mikir guru-guru semua berkonspirasi melecehkan saya. Saya pernah menganggap teman-teman saya penjilat sementara saya orang paling bersih sedunia. Saya menganggap mereka mencontek. Saya bahkan menyesali kenapa berpenampilan tidak menarik sehingga tidak bisa menarik perhatian para guru. Pokoknya segala yang jelek-jelek melintas di kepala hanya karena gagal jadi nomor satu.

Tapi itu dulu, semakin saya dewasa, semakin sering saya jadi nomor dua. Semakin pula saya menyadari bahwa posisi nomor dua itu sebenarnya posisi paling enak sedunia. Serius, lebih enak jadi orang nomor dua daripada nomor satu.

Bagaimana tidak?

1. Orang nomor satu itu tertekan untuk mempertahankan posisi puncak. Sementara si nomor dua tidak khawatir karena dirinya memang tidak sedang berada di sana.

2. Orang nomor satu dibebani sorotan dan pujian, sementara orang nomor dua bisa berprinsip “nothing to loose”.

3. Orang nomor satu ditakdirkan hidup bersama ambisi, sementara orang nomor satu ditakdirkan hidup untuk menaklukkannya.

4. Orang nomor satu punya sesuatu untuk disombongkan. Orang nomor dua memiliki sesuatu untuk merasa rendah diri.

5. Dan yang terpenting: Sesakit-sakitnya orang nomor dua jatuh dari posisinya, lebih sakit lagi jatuhnya orang nomor satu!

Ya, deh, Tuhan. Mulai saat ini saya belajar untuk menikmati peran sebagai si nomor dua. Saya tidak lagi mengeluh kenapa saya harus selalu hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Siapa tahu Tuhan tidak memberi saya puncak gunung karena mungkin dia ingin saya menjelajahi lerengnya terlebih dahulu.

Atau mungkin karena dia tidak ingin saya jadi sombong , jadi sama sekali tidak akan pernah ada puncak gunung untuk saya, siapa tahu?

Itu semua tidak masalah. Saya cuma harus menikmati peran, di posisi apa saja. Jadikanlah aku si nomor dua, nomor tiga, atau nomor terakhir sekalipun Tuhan. Maka aku akan bahagia.

Ehh.. saya tidak menyarankan anda jadi pecundang, lho! Berusaha sajalah untuk berbuat yang terbaik. Soal hasilnya jelek, tidak usah terlalu dipikirkan. Itu maksudnya

Iklan

7 Responses to “Jadikan Aku yang Kedua”


  1. 1 Sayap KU 3 Januari, 2008 pukul 8:37 am

    Ade baca tulisan diatas sampe 3x bolak balik … mencoba mengerti. Bukankah menjadi nomor satu itu naluri manusia yah, soal sakit pada saat jauh, resiko, hanya yang berani take a risk itu yang bisa survive katanya.

    *Ade sok tahu*

    -Ade-

  2. 2 Sayap KU 3 Januari, 2008 pukul 8:37 am

    Menjadi nomor dua itu artinya beda dengan jadikan aku yang ke-dua kan?

    -Ade-

  3. 3 Sayap KU 3 Januari, 2008 pukul 8:38 am

    Eh beda maksud Ade bukan Bedan …. tolong diedit tulisan Ade mas.

    -Ade-

  4. 4 Sayap KU 3 Januari, 2008 pukul 8:39 am

    Loh, jadi hetritxxxx yah …. duh MAAF, gak maksud sebetulnya.

    -Ade-

  5. 5 hariadhi 3 Januari, 2008 pukul 4:52 pm

    hehehe. Makasih tanggapannya. 😉

  6. 6 warnetubuntu 3 Januari, 2008 pukul 6:20 pm

    saya menikmati jadi nomor 6 😀

  7. 7 kuchikuchi 4 Januari, 2008 pukul 2:59 am

    ya.. krn alasan2 itu juga banyak org rela jadi “kekasih kedua”, krn bebannya ga seberat si kekasih pertama. ky lo bilang, “nothing to lose” gituh.
    & krn itu juga mungkin laki2 lebih bahagia, krn beban idup mrk utk ngejaga dirinya ga sebesar perempuan,, krn mereka makhluk kelas.. erm dua? (loh, kok nyambung ke isu gender lagi? ga sengaja loh.. hehe) peace ah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

%d blogger menyukai ini: