Jararodoh, Neng? (2)

Cerita lanjutan dari sini…

“Anjing! Kurang ajar lu! Masa gw dikasi Gingerbread! Setengah badan pula!” Mukanya merah padam. “Laaah.. itu bukan setengah. Cuma dikerat seperempatnya, kok,” Jawab saya sekenanya, tapi kalem. “Masa bodo mau sepersepuluh kek, sepersejuta kek. Lu pikir gw apaan pacaran sama kue!”. Tisu bertebaran, Miss S nimpuk saya.

“Hihihihi, tenang.. tenang. Gw kasih penjelasan kenapa gw gambar gingerbread tigaperempat badan”. Tangan saya kembali asik menulis sesuatu di atas kertas.

“Gini… kita analisa kriteria lu berdasarkan apa yang kurang dari cowo pertama. Lu kecewa karena dia ga seiman, lembek, dan ga dewasa. Dengan kata lain lu butuh cowo muslim, berani, dan dewasa. Ya kan?”. Miss S manggut-manggut.

jodoh1.png

“Nah.. anggap cowo itu ada setengah populasi bumi, sekitar 3 milyar. Anggap pula yang muslim itu setengahnya dunia, dari setengah itu, kira-kira cuma setengahnya pula yang berani. Terus setengahnya pula yang dewasa. Nah.. kalau kita singkirin cowo yang ga sesuai dengan syarat lu ini, sisa yang bisa dipilih cuma 375 juta toh?”. Miss S kembali manggut-manggut sambil nyeruput cangkirnya.

jodoh2.png

“Dari 375 juta, kita praktekkan kriteria yang ga bisa dipenuhi cowo kedua. Cowo yang jelek, gendut, kumal, kere ga bisa masuk kriteria. Porsinya kita anggap masing-masing setengah. Kita singkirin, jadi sisanya tinggal….?”. “28 juta!” Miss S manggutnya sambil senyum, merasa menang karena bisa jawab pertanyaan saya.

jodoh3.png

“Pinter.. nah sekarang kita eleminasi cowo yang seperti cowo ketiga. Ga boleh posesif, selingkuh, ninggalin salat, dan tentu harus pengertian sama gaya hidup lu yang pengen bebas. Sisanya tinggal 1,5 juta, ya kan?”. Miss S manggutnya sekarang ke kanan-kiri, capek kali lehernya.

jodoh4.png

“Ok, sekarang orang gila kaya pacar lu yang keempat kita tendang. Harus gaul, pintar maen basket, renang, kamarnya harus rapih. Gitu ya? Jadi sisa 90 ribu.”. Manggutnya Miss S mulai sambil mutar-mutarin kepala.

jodoh5.png

“Dan lu juga ga mau pacar yang kaya si nomor lima. Jadi cowo lu harus bisa diajak jalan-jalan, rajin ngapel, punya kendaraan, bajunya rapi. Di luar itu ga masuk hitungan. Jadi sisa 6 ribu cowo di dunia ini yang punya kemungkinan cocok sama lu.” Manggutnya Miss S tambah parah, sampai kepalanya copot dari badan.

jodoh6.png

“Dan sekarang kita mau singkirin cowo ala nomor enam. Dia harus lebih tinggi dari lu, kuliahnya Jurusan IT apa Elektro, ngerti dandan, dan kalau ngomong sopan. Kesimpulannya cuma 375 orang yang sejauh ini bisa lolos seleksi.” Kali ini kepala Miss S udah dipasang lagi, jadi bisa manggut dengan sempurna.

 

jodoh7.png

“Terakhir, kita ikutin kriteria cowo di biro jodoh yang lu pasang. Harus pintar, baik, pendiam, sesuku, kulit putih, apa adanya, tidak pencemburu, memperlakukan wanita dengan lembut. Artinya sisanya cuma 1,5 orang, ya pan?”. Miss S pengen manggut lagi, tapi tiba-tiba dia ngomong sesuatu “Lah.. itu berarti walaupun susah berarti masih ada satu cowo terpilih di dunia ini yang akan beruntung sekali cocok dengan gw. Gitu kan moral of the storynya?”

“Iya.. tapi itu kalau di luar syarat pamungkasnya, syarat yang bener-bener harus dipenuhi masih ada kalau lu bener mau ngejalin komitmen dengan si cowo ini”. Miss S penasaran, “Apaan tuh, syaratnya? Mandi kembang tujuh malam?”

“Bukaaann… syaratnya ya dia harus cinta lu juga! Which is mengurangi kesempatan lu menemukan cowo ini hingga ke angka 0,75.”

“Nah.. sekarang lu pikir. Mana ada cowo yang bisa dihitung 0,75?! Makanya lu gw bikinin Gingerbread. Cowo imut-imut ini sesuai banget sama lu. Ganteng, ga banyak tingkah, terus badannya bisa dikerat sesuai angka yang kita temukan. Walaupun ga bisa diajak mesum-mesuman, seenggaknya dia cowo tulen, gitu kan?”

“bah.. sialan lo!” Miss S meninggalkan saya di kedai kopi itu tanpa basa-basi.

Saya menghabiskan isi cangkir yang mulai dingin. Kopi hitam yang saya seruput sekarang berasa pahit. Tapi saya sudah belajar menikmati kopi. Kalau kita bisa melupakan rasa pahit itu dan terus menelan hingga masuk ke kerongkongan, akan ada lanjutan rasa manis tak terkira yang muncul entah dari mana. Itulah seninya mencari cinta, eh, minum kopi.

~Hariadhi

*disclaimer:

Cerita ini dari kehidupan nyata, walaupun banyak ditambahin distorsi sana-sini. Kalau ada yang dari dunia maya merasa tersinggung, maaf ya. Kemiripan nama dan peristiwa pasti cuma kebetulan.

Tulisan ini berhak cipta, anda boleh membaca tapi dimohon untuk tidak menyimpan, mengubah, ataupun menyiarkan ulang ke tempat lain. Kalaupun terpaksa, tolong note nama saya sebagai pengarangnya.

Semua gambar ada di wilayah public domain

Iklan

8 Responses to “Jararodoh, Neng? (2)”


  1. 1 kuchikuchi 20 Desember, 2007 pukul 2:20 am

    hwahahahahahhaha..hebat! berapa tahun penelitian nih ampe dapet data begini? :mrgreen:

  2. 2 warnetubuntu 20 Desember, 2007 pukul 3:21 pm

    mungkin itu alasan Tuhan memberikan sesuatu yg namanya CINTA 🙂 , seperti kata mendiang gombloh “kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat” 😀

    btw, thanks atas cerita yg mencerahkan 🙂

  3. 3 warnetubuntu 20 Desember, 2007 pukul 3:23 pm

    oiya.. sory sedikit oot.. kenapa bagian disclaimernya gak dijadikan satu aja mas? di bagian page disclaimer misalkan.. jadi misalkan ada kasus ‘khusus’ baru disebutkan 🙂

  4. 4 venus 20 Desember, 2007 pukul 9:19 pm

    hyah, itung2annya serius bener, pak? tapi hasilnya bikin temen lo sakit hati..hahahah…

    btw, kopi memang paling oke kalo pahit ga pake gula apalagi krim. jangan rusak keindahan dan romantisme (lhah kok romantisme?) secangkir kopi dengan tambahan rasa manis (dari gula) dan rasa geuleuh (dari krimnya).

    seperti kopi tanpa gula, hidup memang serangkaian komedi pahit. katanya sih gitu. ahak!! 😀

  5. 5 alief 21 Desember, 2007 pukul 1:52 am

    bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/ 🙂

  6. 6 tikabanget™ 21 Desember, 2007 pukul 6:18 pm

    bwakakakak…
    doh..
    cari pacar ya..
    hmm…
    **inget ibu yang barusan rebutan air siraman bekas calon penganten**

  7. 7 Harsa 9 April, 2009 pukul 6:00 pm

    haih….kalo sampe ikut biro jodoh masih ga ketulungan juga…berarti persyaratannya ketinggian tuh….


  1. 1 Jararodoh, Neng? (1) « Hariadhi Lacak balik pada 19 Desember, 2007 pukul 8:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: