Cemara Lambang Iman?

untitled2.png

Hari senin jadwalnya kuliah sosiologi desain oleh Ananda Moersyid. Kita belajar mengenai budaya konsumerisme. Dalam ekonomi modern, pasar tidak lagi dipegang oleh penguasa kapital dan faktor produksi (seperti buruh, lahan, dsb). Yang berkuasa di masa kini adalah pengusaha yang mampu membuat konsumen percaya bahwa produknya benar-benar jadi kebutuhan.

Menarik juga, kita diperlihatkan salah satu artikel di Kompas Senin (judulnya rada lupa) yang membahas bagaimana dalam sekejap Jakarta ditutupi salju dan cemara di Bulan Desember. Aneh? Mungkin bagi banyak orang tidak. Memang pada dasarnya sejak lahir, tiap tahun kita disuguhi salju Desember. TV kita penuh dengan cerita berbagi kado natal. Semua wajar saja, kan?

ghirlandaio.jpg

Padahal jika ditilik natal itu kan memperingati kelahiran Yesus di Betlehem. Kira-kira letaknya di Timur Tengah, dekat Mediterania. Nah, apakah di sana turun salju? Dan kita tahu cemara cuma bisa tumbuh di iklim dingin. (ralat, maksudnya di Timur Tengah jarang ditemui pohon cemara). Juga saat kelahirannya Yesus di kandang domba. Singkatnya natal tuh perayaan sangat serius dan religi banget, lho gitu.

Lah terus apa hubungannya natal sama rusa, kado, salju, dan tawa “ho ho ho”?

Kalau mau jujur, semangat natal yang asli sudah hilang. Berganti pendewaan kepada sosok berbaju dan topi merah. Dan natal pun sudah bukan jadi eksklusif milik umat Kristiani. Di Jepang, misalnya, anda bisa saja memilih jadi atheis namun tetap ikut merayakan natal.

Dan rasanya semangat itu mulai menular ke Indonesia. Beberapa tahun lalu orangtua muslim masih gencar melarang anaknya ikut-ikutan meminta hadiah ke Santa. Tapi sekarang malah mereka sendiri yang sikut-sikutan membeli barang murah di christmast and new year sale.

Hah… kurang ajar lu ngomentari Agama gw, Har! Emangnya lu tahu apa soal Kristus?

Hahaha.. ini cuma menyesuaikan dengan momen saja kok. Pada dasarnya fenomena ini juga terjadi dalam Agama Islam.

Cobalah tanyakan ke diri sendiri, kalau kita cukup kritis: apakah Rasul dulu membudayakan mudik ke Mekkah, tanah tempat dia dibesarkan, setiap Idul Fitri? Apakah ada budaya makan ketupat di Arab? Apakah kita sadar kalau peci itu bukan warisan Islam? Pernahkah kita lihat muslim dari negara di luar Asia Tenggara salat pakai sarung?

Tapi semua itu begitu meriah di Indonesia. Produsen kendaraan bermotor berhasil menanamkan ke kepala kita bahwa tidak afdol kalau tidak mudik. Produsen sarung menanamkan kepada kita, tidak kelihatan muslim kalau salat tidak pakai sarung. Produsen peci bilang kalau mukanya kurang kelihatan beriman kalau tidak pakai peci.

Dan sejujurnya, lebaran pun mulai tidak lagi dimonopoli umat Islam. Katakanlah tahun ini saya dapat puluhan sms selamat dan minta maaf lahir batin dari teman-teman non muslim. Angka yang jauh mengalahkan teman muslim saya yang lebih cuek, merasa ga punya dosa apa-apa. Jadi siapa yang sebenarnya lebih care sama silaturahmi lebaran?

Seperti itulah sebenarnya konsumerisme bekerja. Produsen tahu bahwa kalau suatu perayaan dibiarkan dalam nuansa agama yang kental, peminatnya akan sedikit. Karena itu kekentalan itu dicairkan dengan trik-trik marketing. Budaya luar yang sebenarnya tidak nyambung diaduk dengan ritual agama yang asli, menghasilkan ribuan jualan yang menarik. Saking ga nyambungnya, yang beda agama pun jadi ikut-ikutan ngiler untuk mencicipi. Kita ditipu! Ditipu massal!

Anehnya, kita begitu gembira dengan “penipuan” seperti itu.

Lah…. kalau begitu konsumerisme itu jelek dong, Har?

Tidak seratus persen. Seperti biasa, tidak ada yang benar-benar bagus atau benar-benar jelek di muka bumi. Itu semua tergantung sudut pandang dan bagaimana kita memanfaatkannya.

Walaupun konsumerisme menyebabkan orang menghamburkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya dia tidak butuh, fenomena ini juga menyebabkan produsen berpikir keras agar produksinya bisa memuaskan konsumen. Konsumen ditempatkan di posisi yang benar-benar ideal: seorang raja.

Di sana juga ada perputaran uang, yang bisa kita manfaatkan untuk menyejahterakan ummat. Dengan ilmu pemanfaatan konsumerisme, kita jadi tahu bagaimana sebenarnya negara adikuasa bisa mengontrol perekonomian negara miskin seperti kita. Kita tahu kenapa ada orang yang ga pakai sembur-semburan dukun tapi usahanya tetap lancar. Bahkan kalau pintar, konsumerisme pun bisa kita olah untuk membuat orang selalu ingat Tuhan.

Semuanya balik ke diri kita sendiri. Mau sukses tidak? Kalau mau, puaskan konsumen terlebih dahulu. Margin keuntungan akan mengikuti dengan sendirinya.

HAPPY CHRISTMAST AND MERRY NEW YEAR!

(PS: Kalau teliti, anda pasti menemukan banyak hal aneh dengan gambar pohon cemara di atas)

Outlink

Artikel Budaya Natal

Cemara

Pohon Natal

Gambar di atas dilisensi di bawah public domain. Silakan didownload, diedit, dan disebar ulang sesuka anda.

Iklan

5 Responses to “Cemara Lambang Iman?”


  1. 1 warnetubuntu 19 Desember, 2007 pukul 5:47 am

    Di Jepang, misalnya, anda bisa saja memilih jadi atheis namun tetap ikut merayakan natal.

    konon di Amrik juga gitu.. Agama hanya untuk merayakan kawin, mati, natal dan thanksgiving πŸ˜€

    … cemara cuma bisa tumbuh di iklim dingin.

    disebelah rumah saya ada pohon cemara tuh, hidup dengan tentram dan damai di iklim tropis.. πŸ™‚

    Walaupun konsumerisme menyebabkan orang menghamburkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya dia tidak butuh..

    setuju… bahkan saya pernah baca suatu artikel ilmiah, bahwa ada satu sirkuit otak yang sebenarnya sedang membajak pikiran logis kita untuk membeli barang yg tidak kita butuhkan.. bahkan kadang kita sangat menyesal telah membeli sesuatu padahal saat beli kita tidak menyadarinya…

    btw, happy x-mas and happy new year juga πŸ™‚

  2. 2 hariadhi 19 Desember, 2007 pukul 6:00 am

    hayah.. maap2. Iya gw baru ingat kalau di rumah gw juga ada cemara. *mikirnya pohon berdaun jarum sih.

  3. 3 Mihael "D.B." Ellinsworth 19 Desember, 2007 pukul 2:15 pm

    Tentu saja gambar cemaranya…aneh. :mrgreen:

    Selamat merayakan hari raya. πŸ˜€

  4. 4 Amed 21 Desember, 2007 pukul 8:58 am

    Mas, sudah pernah baca post ini belum? Seru juga tuh, hehe..

  5. 5 hariadhi 21 Desember, 2007 pukul 4:52 pm

    Hahahah.. hebat tuh postnya. Bikin gw ketawa sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: