Klien, Duh!

sampulkomik1.jpg

Seperti biasa, kuliah metodologi desain selalu menarik. Asdos kita, Ritchie Ned Hansel ngasih kabar tentang seminar yang baru aja diadakan di kampus DKV IKJ. Salah satu topiknya adalah ngedesain di Indonesia itu rada rese. Dan ke-rese-an itu sering datang dari klien. Beda dengan kerja di luar negeri yang lebih bebas dan mengizinkan desainernya bereksplorasi dengan ide-ide baru.

Benar juga sih, kalau saya pikir rata-rata klien di Indonesia itu:

1. Kere. Mereka ga mau bayar mahal untuk ide brilian. Mendesain itu dianggap seperti tukang bengkel. Dengan upah dan bahan semurah-murahnya, mengharap hasil semaksimal mungkin. Padahal itu teori ekonomi yang sudah usang. Zaman sekarang untuk hasil maksimal kita harus berani mengambil resiko yang sesuai, bukan harga termurah.

2. Narsis. Kira-kira apa jadinya kalau lulusan akuntansi, baru satu kali baca Buku Fisika Tingkat SMP, lalu ikut campur pekerjaan insinyur sipil dalam merancang jembatan? Adanya malah markup, bahan-bahan diganti dengan kualitas kelas dua (karena ngejar untung), dan safety dihilangkan. Ga sampe 3 bulan jembatan udah ambrol, ratusan orang mati! Nah, hal sama akan terjadi pula dalam desain. Tidak akan ada hasil maksimal kalau orang yang ga ahli ikut-ikutan mencampuri pekerjaan orang yang sudah memiliki ilmu, bahkan kalau dia seorang direktur perusahaan sekalipun.

3. Konservatif. Untuk dapat hasil desain maksimal, perlu ruang untuk eksplorasi yang lega. Nah.. kebanyakan klien itu datang ke desainer sudah punya bayangan sendiri tentang desain. Akibatnya proses mendesain jadi kacau balau. Bukannya menciptakan sesuatu yang baru, malah mengulang-ulang stereotipe klasik.

4. Korupsi is No 1. Demi mendapat komisi yang hanya beberapa persen, desainer sering ditekan pemilik proyek untuk mengutak-atik budget yang sebenarnya sudah bagus. Kalau desainernya kekeuh ingin perhitungan yang jujur, malah dipersulit (ide berkali-kali ditolak untuk alasan yang diobuat-buat, etc). Akibatnya desainer sering menghadapi dilema. Padahal untuk membuat desain yang bagus seharusnya desainer tidak perlu lagi repot menghitung persentase uang pelicin untuk tiap cap stempel dan acc.

5. Cuma Ingin Hasil. Beberapa klien alergi sekali dengan namanya “designer fee”. Mereka berharap desainer hanya mengambil untung dari komisi biaya produksi seperti percetakan. Padahal desainer grafis itu berbeda sama sekali dengan teknik grafika. Nilai inovasi tidak bisa dihargai dengan proses eksekusinya saja. Dunia desain sebenarnya lebih tepat disebut pabrik ide, bukan jasa eksekusi grafis.

Ini kaya lingkaran setan yang membuat desain di Indonesia sulit berkembang. Seperti makan buah simalakama, kalau keinginan klien tidak dipenuhi, desainer kehilangan pekerjaan, tidak bisa hidup. Sementara kalau dipenuhi, desainnya jadi berantakan.

Nah.. di sisi lain desainer Indonesia selalu dianggap rendah. Begitu pengen desain bagus malah bule-bule luar yang dipanggil. Diperlakukan bak dewa, apapun ide dan kemauannya dituruti. Dibayar mahal pula.

Sementara kalau desainernya dari dalam negeri selalu dianggap kacangan, kerjanya terus-terusan dicampuri. Dibayar murah pula.
Susah, kan?

Gambar di atas saya buat sendiri. Masuk lisensi creative commons 2.5 with attribution share alike. Silakan disebar ulang atau diedit, tapi harus pakai lisensi yang sama dan membuat pemberitahan kalau gambarnya didapat dari blog ini.

Iklan

3 Responses to “Klien, Duh!”


  1. 1 warnetubuntu 18 Desember, 2007 pukul 10:52 pm

    iya mas.. bener2 susah.. apalagi jualan barang intangible kyk software 😦 , mereka selalu bilang.. lisensi satu saja dicopy biasa khan bisa.. *jedotin pala ketembok*

  2. 2 hariadhi 19 Desember, 2007 pukul 1:29 am

    hahaha…
    Sekalian aja bilangin harga yang 10 lisensi itu jadi harga 1 lisensi, mas. Biar jatuh-jatuhnya bayar sgitu juga, hehe.

  3. 3 a. niappa 29 Desember, 2007 pukul 9:19 am

    Isi posting di atas sebenernya adalah masalah dari waktu ke waktu dunia desain Indonesia, terutama bagi para desainer baik perorangan maupun kelompok bisnis yang baru berskala kecil-menengah (Kalo yg udah punya nama magrong-magrong, jangan ditanya, mereka bisa dapetin klien yg berani bayar gede).

    Mari bersama-sama, diawali dari lingkungan terkecil, diri kita sendiri, untuk memberikan pembelajaran pada masy. Indonesia agar gak cuman melek teknologi, tapi juga melek desain. Bagaimana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: