Desain Versus Sains, Menang Siapa?

Ini lagu lama, tapi kayanya dari dulu sampai sekarang orang masih juga menganggap salah satunya ga penting. Supaya jelas, saya kasih contoh:

Kita tahu dulu NASA berhasil mendaratkan manusia di bulan karena kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan pengetahuan, rintangan jarak antara bumi-bulan bisa ditaklukkan.

landing.jpg

Tapi terpikir ga kalau seandainya pendaratan Apollo 11 sepi publikasi? Bagaimana kalau seandainya gambar-gambar tidak terabadikan kamera? Bagaimana kalau semua stasiun TV mogok memberitakan Neil Amstrong? Bagaimana kalau majalah-majalah sepakat memboikot NASA? Tentu tidak akan ada yang terkagum-kagum karena sensasinya tidak akan berasa. Basbang, kalau blogger bilang.

Misi Apollo berhubungan dengan pendanaan NASA oleh pemerintah Amerika Serikat. Tidak seperti di sini, setiap pengeluaran dikelola secara berhati-hati sebab setiap sennya dianggap keringat rakyat yang dipajaki pemerintah. Proyek yang tidak menghasilkan manfaat banyak tentu akan dipotong. Karena itu NASA merasa perlu membuktikan sesuatu, hasil dari risetnya yang makan biaya gila-gilaan.

Dengan memanfaatkan sentimen keberhasilan Uni Soviet menerbangkan manusia ke angkasa dan mendaratkan pesawatnya ke bulan terlebih dahulu, NASA berusaha memancing semangat nasionalisme rakyat Amerika Serikat. Berbeda dengan robot atau mesin, manusia memiliki efek heroisme lebih tinggi. Robot dianggap tidak punya nyawa dan tidak mewakili bangsa tertentu, sementara manusia punya kebangsaan dan kebanggaan. Keberhasilan mendaratkan manusia adalah sebuah kemenangan telak ego masyarakat Amerika Serikat terhadap Uni Soviet.

Nah di sinilah perlunya bagian publikasi bekerja (tentunya dengan banyak melibatkan pekerja kreatif). Manusia di seluruh Amerika, bahkan seluruh dunia, perlu diyakinkan bahwa misi ini adalah sebuah misi akbar. Maka stasiun-stasiun TV, radio, majalah dan surat kabar dirangsang untuk memberitakannya. Mereka membantu NASA menanamkan kepada semua orang bahwa Apollo 11 sangat penting, bila perlu dibuat jauh lebih penting dari penandatanganan Deklarasi Hak Asasi Manusia. Poster-poster dan karya seni tentang pendaratan manusia di bulan pun bertebaran ke mana-mana.

Dan nyatanya sukses. NASA mendapat banyak simpati dan dukungan. Proyek ini dianggap bisa menaikkan gengsi Amerika Serikat di dunia internasional. Karena itu pemerintah lalu melancarkan pengeluaran di bidang riset. Masyarakat terhibur, karena itu mereka tidak lagi menganggap riset NASA sebagai pemborosan. Semua orang senang (sssttt.. kecuali Uni Soviet, tentu).
Dengan lancarnya dana, NASA bisa leluasa mengembangkan riset-risetnya yang lain. Tapiii.. lagi-lagi riset ini tentu tidak akan didukung kalau akhirnya hanya jadi sekedar riset, tak ada gunanya bagi kehidupan manusia.

Karena itu diperlukan lagi rekayasa terhadap penemuan ini. Sekali lagi desainer berperan, (selain insinyur, tentu) sebab teknologi yang canggih saja tidak akan membuat orang tertarik membeli dan memakai. Desainer memanipulasi rancangan ini sehingga lebih manusiawi dan di sisi lain meningkatkan kebutuhan akan teknologi tersebut (walaupun secara teori sebenarnya masyarakat tak butuh-butuh sangat).

zero.jpg

Contohnya penelitian gerak benda dalam daerah gravitasi mikro. Mungkin bagi orang banyak tidak menghasilkan apa-apa. Namun marketing berusaha meyakinkan bahwa kondisi seperti ini bisa menghasilkan turisme, selain juga riset. Akhirnya diciptakanlah Perusahaan Zero Gravity Corp. Nah.. karya-karya desainer meyakinkan kepada orang-orang berduit tebal bahwa terbang dengan keadaan nyaris tanpa gravitasi adalah hal bergengsi dan menyenangkan.

Begitulah seterusnya, sains dan desain tanpa henti saling mengimbangi dan bekerjasama agar keduanya tetap eksis. Tanpa sains (dan teknologi), desain tidak akan mengalami perkembangan karena tidak ada tantangan baru. Sementara tanpa desain, sains hanya akan jadi sarapan dingin dari luar angkasa yang tidak pernah bisa dinikmati dan dibeli orang banyak.

Jadi ini jawaban debat kita semalam, Vin. Soal anak desain ngebodoh-bodohin anak MIPA itu cuma becandaan kok, hehehe.

Foto pendaratan di bulan dimiliki NASA, jadi foto ini bisa dimasukkan wilayah public domain

Foto zero gravity diupload ke flickr oleh jurvetson dengan lisensi Creative Commons 2.0 with attribution. Beri kredit kepada fotografer jika hendak mempublikasi foto ini ke tempat lain.

Iklan

7 Responses to “Desain Versus Sains, Menang Siapa?”


  1. 1 kuchikuchi 6 Desember, 2007 pukul 10:41 pm

    tapi nih ya (tetep ngeyel tanpa henti).. desain VS sains.. emang bisa tercipta kamera2 digital utk menangkap setiap momen berharga yang berguna bagi perkembangan desain, kalau tidak lebih dulu ditemukan (bhs inggrisnya sih invented) oleh..para ahli pembuat kamera yang tentunya menggunakan prinsip2 sains? (jangan tanya gw apaan prinsip2nya, ga ngerti =_= kan elo yg lebih jago teknik2an)

  2. 2 kuchikuchi 6 Desember, 2007 pukul 10:44 pm

    ohiya, tapi ada 1 kesamaan desain & sains yg mungkin dapat dijadikan pemersatu org2 keras kepala spt saya & anda: sama2 disadur dari bahasa inggris “design” & “science” yang (kynya sih) belom ada bahasa baku indonesianya! 😀 peace is damai..

  3. 3 hariadhi 7 Desember, 2007 pukul 6:48 pm

    hahahah.. iye, damai damai…

    Emang buat itu tulisannya dibuat, Neng. Biar kita damai, hehe

  4. 4 Nane 7 Desember, 2007 pukul 6:55 pm

    pada dasarnya saya setuju…
    gw rasa bukan desain ama sains aja koook… tapi segala bidang!!
    gimana yaah… gw sebel banget kalo orang ngeliat anak sains macam gw dan udah sok tau duluan jurusan gw ga ada apa2nya… maksut gw.. oke kita punya bidang kita masing2.. pingin teriak keras2:

    “i don’t know what u’re going through, and u don’t know what i’m going through… so… shut just ur mouth!!” >__<

    lagipula, kita kan memiliki bidang masing2 agar bisa diintegrasikan… bukan untuk merasa lebih superior daripada yang lain (lah.. mirip kata2 di blog gw niih..)
    hehe…

    btw, gw dulu pingin jadi seniman looh… lalu berhubung ga pernah ada yang ngerestuin jadi gw kejeblos milih pilihan pertama spmb FK…lalu berhubung gw ga keterima, gw keterima di Sains deeh…. but no regrets!! 😀 everything happens for a reason..

  5. 5 Nane 7 Desember, 2007 pukul 6:57 pm

    eh kok bego siih gw.. maksud gw pada kutipan diatas… “just shut ur mouth!!” hahaha…

  6. 6 warnetubuntu 8 Desember, 2007 pukul 6:59 pm

    desain tanpa sains.. mirip cewek super cakep tapi bodoh..
    sains tanpa desain.. mirip cewek jelek tapi super pandai..
    *tinggal milih yg mana* :mrgreen:

  7. 7 warnetubuntu 8 Desember, 2007 pukul 7:02 pm

    jadi inget suatu quote.. yg sayangnya saya lupa siapa yg bilang..
    tentang mana yg lebih penting content web atau desain web
    “Content is a King.. but content without design is like a naked king”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: