Nilai Seorang Pendosa

Sebenarnya ini kecelakaan. Waktu beli buku di Bandara Sukarno Hatta, yang menarik perhatian saya sebenarnya “The Alchemist”, tapi entah kenapa, waktu mau membayar, yang terambil malah ciptaan Paulo Cuelho yang lain, Eleven Minutes.

Ini buku soal coitus, (ya coitus, pergumulan di atas ranjang itu). Juga soal pojok kehidupan kita bernama prostitusi, (ya prostitusi, penjualan kebebasan seksual atas nama uang itu). Juga soal gender, (ya gender, pembedaan jenis kelamin itu). Topik-topik ini bisa dibilang sudah usang, berkali-kali dibahas entah oleh penelitian ilmiah, dijual oleh majalah gaya hidup, hingga penulis novel-novel yang pikirannya tak jauh-jauh dari kata mesum.

Tapi ada yang berbeda saat seorang Paulo Cuelho menulis. Ia bisa menjabarkan erotika dengan permasalahan yang jauh lebih mendalam daripada persaingan sesama pelacur. Juga tak banyak menyinggung-nyinggung kehidupan gelamour pejabat kelas atas yang banyak mengunjungi penjual kenikmatan. Tak ada pula menjual keperawanan sekedar untuk beli HP model terbaru.

Paulo Cuelho sedang menceritakan sisi lain sebuah pelacuran. Ia tidak sekumuh yang kita bayangkan. Seorang pelacur bisa saja seorang wanita muda, bernama Maria, dengan cita-cita indah menemukan seorang Pangeran-Tampan-Berkuda-Putih seperti didongengkan oleh keluarga baik-baik dan diimpikan oleh wanita baik-baik pula. Tapi mau apa lagi? Ia tidak menyalahkan nasib jika akhirnya malah berakhir dengan menjual diri hanya untuk segepok uang. Ia terdampar di Swiss, tempat yang ribuan kilometer dari rumahnya, tempat di mana ia tidak bisa lagi mencari ruang untuk hidup secara bersih.

Di sisi lain, ia pun tidak mau terjebak. Baginya melacurkan diri hanya sebuah jalan, usaha untuk mencari sisi religius yang terjebak dalam rutinitasnya sebagai seorang pendosa. Spiritiualitas yang bahkan sering gagal ditemukan oleh orang-orang yang berjalan lurus di garis agama. Nilai kejiwaan yang bisa ia pelajari dari pelanggan kaya yang lari dari keluarganya, mahasiswa yang senang mencoba-coba hal aneh, atau pria yang hanya menyewa mereka sekedar untuk bicara. Semua dimulai dari sebuah ritual singkat, ritual sebelas menit, mulai dari layanan terjadi hingga proses ejakulasi.

Hingga akhirnya dia menemui dua jalan yang harus dipilih, dengan seluruh hasil pencariannya. Apakah ia akan tetap menikmati penderitaan dosa sebagai jalan hidup atau hidup tenang bersama Sang Pangeran, seperti wanita-wanita yang akhirnya dibunuh rutinitas sebagai orang baik-baik?

Membaca buku ini menyadarkan kita bahwa tak selamanya isi di dalam segenangan lumpur itu berbau busuk. Bukan kita yang menentukan. Siapa tahu juga Tuhan sudah menetapkan ada sebutir mutiara di dalamnya? Juga ada renungan menarik di balik setiap hal-hal kotor yang sering kita lihat dalam film biru. Renungan dalam tentang ciuman, klitoris, orgasme, hingga sado-machosist.

hehe sorry udah nyolong bidang lu, Vin. Bukunya terlalu bagus untuk dibiarin membusuk di lemari

Iklan

5 Responses to “Nilai Seorang Pendosa”


  1. 1 kuchikuchi 3 Desember, 2007 pukul 12:27 am

    oh ya ndak papa.. berbagi ilmu itu kan pahala :D.. btw pinjem dong bukunyah..hihi

  2. 2 sigid 3 Desember, 2007 pukul 9:39 am

    tak selamanya isi di dalam segenangan lumpur itu berbau busuk.

    Sebuah pandangan yang menarik mas, berusaha melihat orang lain sebagaimana adanya dengan melepaskan kacamata kebencian, cap, status soial dll.

    Eh, tapi ada hal yang sedikit mengganjal di paragraf lima mas;

    Baginya melacurkan diri hanya sebuah jalan, usaha untuk mencari sisi religius yang terjebak dalam rutinitasnya sebagai seorang pendosa.

    Pikiran saya agak ndak nyambung di sini mas. Menjadi pelacur hanyalah jalan untuk mencari sisi relijius.
    Sepertinya jalan yang janggal 😀

  3. 3 hariadhi 3 Desember, 2007 pukul 1:22 pm

    @kuchikuchi
    Hahahaha..pinjam, minta! Ntar deh, bukunya masih dinikmati dulu 😛

    @sigid
    kalau ngerasa janggal ya bagus. Artinya saya berhasil bikin anda penasaran. Hehehehe. Coba aja beli bukunya. 🙂

  4. 4 Sayap KU 3 Desember, 2007 pukul 5:42 pm

    Lagi baca bukunya juga .. ntar baru diskusi ya mas, Ade kabarin kalo dah kelar.

    -Ade-

  5. 5 warnetubuntu 3 Desember, 2007 pukul 8:22 pm

    kyknya buku yg menarik.. btw,saya jadi ingat.. dulu pernah juga gak sengaja beli buku karangan Anand Khrisna yg berjudul ‘Kundalini’ .. ok, saya akui.. pas beli buku tersebut saya lagi pengen sakti 😀 karena kabarnya ilmu kundalini ini bisa bikin seseorang jadi sakti.. (saat itu blom ada internet), tapi ternyata buku tersebut tidak berisi cara untuk jadi sakti samasekali.. 😛 ternyata kundalini itu adalah ‘jalan’ menuju pencerahan (kundalini adalah ajaran yoga yg dibuat oleh seorang yogi bernama pantanjali) dibuku itu diceritakan perjalanan hidup seorang ‘pelacur’ menjadi seorang saint yg tercerahkan.. buku yg cukup menarik juga.. mungkin idenya mirip buku yg ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: