Sejengkal dari Maut

Saya tipe orang yang sering menderita kecemasan tiba-tiba. Dan tidak pandang bulu, kadang dalam keadaan ramai, di tengah tidur, saat di WC. Apa saja bisa membuat saya takut yang bisa bikin berkeringat dingin dan jantung berdebar.

Tapi yang paling menyiksa adalah kecemasan saya soal kematian.

Hari Sabtu, tanggal 1 Desember 2007, kakak saya menikah dengan orang yang dicintainya. saya memutuskan pulang dengan tiket pesawat yang sudah dipesan 2 minggu sebelumnya. Ada perasaan tidak enak waktu berangkat, apalagi petugas memberitakan penerbangan ditunda karena cuaca buruk. Sempat pula pandangan saya tertumbuk lama ke asuransi tambahan yang katanya dengan beberapa puluh ribu bisa memberi perlindungan lebih.

Tapi hari itu saya tetap terbang di dalam pesawat yang sebenarnya terlihat agak tua.

Hingga akhirnya setengah jam sebelum mendarat, gumpalan awan ada di mana-mana. Pesawat turun perlahan, seolah pilotnya ragu, beberapa kali terguncang. Seiring pesawat makin menembus kumpulan awan, pemandangan di sekitar jendela memutih. Seisi pesawat hening, tak satupun yang berani bersuara. Hanya beberapa penumpang yang saya lihat mulutnya sibuk melafazkan zikir tanpa bersuara.

Hati saya pucat, ia sibuk bicara

“Tuhan.. aku sadar hidup ini cuma sebuah titipan. Aku tidak hendak memintamu memanjangkannya. Sejauh hidup yang sudah kau beri aku belum berarti apa-apa, entah untuk diriku sendiri, orang lain, atau pun dirimu. Aku tak hendak minta kembali ke masa lalu untuk mengubahnya, tapi seandainya setelah ini aku masih diberi kesempatan, aku minta izin melakukan hal lebih baik lagi”.

Sabtu, 1 Desember 2007, di atas langit Pekanbaru, dari ketinggian 3000 kaki, pesawat putih itu terguncang, melayang nyaris tanpa kendali….

Di mana saja kamu berada pasti kematian akan mendapatimu walaupun kamu berada dalam tembok yang tinggi lagi kokoh.(QS, An-Nisa: 78.
)

Iklan

6 Responses to “Sejengkal dari Maut”


  1. 1 warnetubuntu 2 Desember, 2007 pukul 10:16 pm

    *merenung..* kematian.. sesuatu yg pasti dan sangat dekat… semoga dengan ingat kematian.. kita bisa memanfaatkan setiap waktu dengan sebaik-baiknya..

  2. 2 hariadhi 3 Desember, 2007 pukul 12:55 am

    iya.. gw juga heran. lepas dari peristiwa kaya begitu seringnya malah kafir lagi. Apa harus diancam maut terus-terusan yah biar bisa beriman? šŸ˜¦

  3. 3 bagsholic 3 Desember, 2007 pukul 1:28 am

    HA HA HA HA HA HA … g ngerti bangeth perasaan mas. Soale setiap bulan tuh g travel minimal 4 kali naek pesawat (2 berangkat, 2 kembali).

    “..aku minta izin melakukan hal lebih baik lagi.”

    Seminggu dari sekarang, pasti dah loepa :p

  4. 4 hariadhi 3 Desember, 2007 pukul 1:25 pm

    yak.. tepat. Kembali ke “hidup” sebenarnya, lupa soal kematian. Hehe. dohhh gw kapan tobatnyaaa. >_<

  5. 5 Sayap KU 3 Desember, 2007 pukul 5:39 pm

    Katanya “kematian pasti datang, hanya masalah waktu” dan Ade percaya itu … makasnya siap-siap aja dulu, takut kalo dia tiba-tiba datang.

    -Ade-

  6. 6 23 3 Desember, 2007 pukul 7:51 pm

    Manusia mati bukan karena pesawatnya jatuh. Bukan karena penyakit. Bukan karena apapun.
    Manusia mati karena kontraknya sudah habis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

%d blogger menyukai ini: