Tuan, Anda Senang Berdebat?

Kapan terakhir anda berdebat? Bagaimana hasilnya? Menang? Kalau ya, anda perlu baca tulisan ini.

Tersebutlah suatu BUMN di bidang teknologi dan industri yang memiliki pasar internasional, hendak bernegosiasi menjual produknya kepada orang yang berkuasa di Malaysia.

Negosiasi itu sudah hampir berhasil, tinggal teken kontrak. Seorang insinyur jenius dikirim untuk menutup transaksi itu. Oleh si pejabat, dia diajak berkeliling ruangan kantor, memamerkan koleksi kursi-kursi impornya. Si pejabat membanggakan bahwa kursi tersebut mahal sekali harganya dan dikerjakan seniman yang sangat ternama.

Si insinyur jenius meneliti kursi tersebut, melihat detail-detailnya, dan berkata

“Wah.. cik gu. Yang seperti ini di Surabaya sih kita punya banyak sekali dan murah-murah harganya!”

Dalam sekejap, transaksi milyaran rupiah itu pun melayang.

Dibajak dengan perubahan, tanpa izin, dari buku “Recode Your Change DNA”, karya Rhenald Kasali, Ph.D.

Masalah paling besar dari orang-orang yang memegang kebenaran adalah rasa euforia. Menjadi benar adalah hal yang menyenangkan, hampir mendekati rasa candu. Ya tentu saja, siapa sih yang mau memainkan peran orang jahat?

Celakanya, saat sudah memegang kebenaran, dunia biasanya sudah jadi hitam putih. Kita bagai hidup di lapangan tenis, mempersilakan orang lain memilih dua sisi lapangan itu: akan ikut bagian kita dan masuk surga, atau lompat ke neraka bersama orang-orang lain yang memiliki pendapat berbeda dengan kita.

Susahnya lagi, ternyata memiliki pengaruh atas orang lain bukan sekedar urusan menjadi benar. Tidak, jauh lebih rumit dari itu. Ia adalah urusan mengembangkan lingkaran pengaruh anda, dengan memenangkan perasaan orang lain, terutama orang-orang yang “berada di pihak seberang”.

Anda senang anak anda suka mencuri mangga? Kalau sudah punya, saya pun tidak. Tapi saat anda menceramahi dia dengan seribu hadis mengenai larangan mencuri, mengancamnya dengan hukuman potong tangan, bahkan memperlihatkan kekuasaan anda sebagai orangtua dengan merebut mangga itu dan mengembalikan kepada pemiliknya sama sekali tidak akan membuat dia tobat.

Yang ada di hatinya malah ingin membuktikan kepada anda bahwa orang mencuri tidak selamanya dipotong tangan, dan bahwa hukuman Tuhan tidak akan pernah ada. Ia akan dengan senang hati mencuri mangga lagi untuk membuktikan anda salah.

Sebaliknya, jika kita mendekati dengan lemah lembut, mengusap kepalanya, dan menanyai kenapa ia mencuri mangga, kemungkinan besar ia akan mengaku kalau ia tidak punya cukup uang untuk membeli ke pasar buah.

Kalau sudah begitu, bukankah sudah waktunya dinasehati?

Tidak, yang harus kita lakukan adalah sebaliknya, belikan ia mangga baru. Tetapkan bahwa itu adalah miliknya yang sah, dan biarkan ia menikmati mangga itu. Maka dengan segera ia akan mengikuti pemahaman anda bahwa ada batas-batas kepemilikan atas mangga yang seharusnya tidak ia langgar.

Selanjutnya ia akan dengan senang hati mengembalikan mangga itu ke pemiliknya.

Kontras bukan? Kebenaran mungkin ada di pihak kita, tapi bukan berarti kita bisa memaksakannya kepada orang lain.

Indonesia dipenuhi orang-orang pintar, pekerja keras. Buktinya pelajar kita hampir selalu langganan Olimpiade Sains. Tenaga kerja kita lebih diminati karena siap bekerja keras banting tulang. Kurang apa?

Lalu mengapa negara kita tidak pernah bisa dihormati? Jawabannya (mungkin) karena kita sejak kecil sudah diprogram untuk menjadi orang pintar, yang tahu pasti mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kita semua lalai memasukkan pengembangan kepribadian ke dalam kurikulum sekolah.

Bukan PPKN itu, bukan. Bukan kewiraan, bukan. Bukan pula pelajaran Agama itu, bukan. Bukan pula Sosiologi itu, bukan. Pada prakteknya keempat mata kuliah/pengajaran itu  tetaplah sebuah ilmu pengetahuan, bukan sebuah pengembangan kepribadian. Isinya hanya teori-teori utopis mengenai bagaimana dunia berjalan sebagaimana mestinya. 

Pengembangan kepribadian adalah masalah pemahaman atas emosi dan ego orang lain. Hal yang bisa kita manfaatkan untuk membuat orang lain mengikuti pemahaman atas apa yang kita anggap sebagai hal yang benar dan hal yang salah.

Nah.. kembali ke masalah si Insinyur jenius. Mungkin komentarnya atas kursi-kursi pejabat itu memang benar. Mungkin benar pejabat itu ditipu oleh pedagang kursi. Tapi ada hal lebih penting daripada sekedar asli-palsunya sebuah kursi. Itu adalah ego, ego yang membuat si pejabat berani menghabiskan ribuan dolar hanya untuk sebuah tumpukan kayu tak berharga.

Dan ego itulah yang gagal dimanfaatkan insinyur jenius kita, sampai-sampai negara rugi milyaran dollar.

2 Responses to “Tuan, Anda Senang Berdebat?”


  1. 1 warnetubuntu 1 Desember, 2007 pukul 8:32 am

    iya.. kadang diperlukan kebijaksanaan untuk melontarkan suatu pendapat.. hal yg benar belum tentu baik dan bijaksana untuk dikatakan.. dan hal yg paling susah adalah.. menghindari omongan yg tidak perlu dan asal.. saya sering mengalami ini.. setelah omongan terlontar.. setelah dipikir2 lagi.. ternyata omongan tersebut menyakiti😦

  2. 2 Shelling Ford 2 Desember, 2007 pukul 9:55 pm

    yeah, saya memang senang. bukan nyari siapa yang menang sih sebenernya. lebih kepada mengasah kemampuan analitik saya, hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: