Hak Milik Publik

publicdomain.jpg

Banyak yang misuh-misuh kalau saya lagi ngejelasin hak cipta. Katanya hak cipta itu produk kapitalis, lah, menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, lah, memperkaya negara adikuasa lah.

Apapun, yang jelas sulit sekali menjelaskan bahwa hak cipta perlu sekali. Bukan hanya masalah komersialnya, tapi hak cipta juga memberi kesempatan kepada penciptanya untuk merawat karyanya (biasanya berlaku untuk seniman), juga memberi keleluasaan kepada pemilik hak cipta untuk menentukan penyebarannya.

Memang dalam lingkungan seniman ada beberapa hal yang biasanya kita tidak ingin tersebar, atau kalaupun menyebar di kalangan tertentu saja. Contohnya kalau saya membuat foto nude dari model untuk belajar fotografi, pasti saya ingin menyimpan foto tersebut untuk koleksi pribadi saja. Kalau sampai tersebar malah saya yang nanti dituntut modelnya (atau lebih parah didemo FPI, hehehehe).

Tapi tentu tetap ada jalur untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat. Jalur itu bernama Public Domain (atau kalau di Indonesia disebut ranah umum). Public domain berarti status kepemilikan pencipta sudah lepas, sehingga siapapun boleh mengedit, mengupload, atau bahkan menyebarkannya tanpa perlu meminta izin.

Tapi tidak semua karya seni bisa jadi public domain. Biasanya untuk bisa jadi ranah publik, ada dua hal penyebab, bisa karena si seniman merelakan (tentu dengan pernyataan tertulis) atau karena karya itu sudah terlalu lama. Secara sederhana perhitungannya menurut hukum di Indonesia adalah sejak karya diciptakan hingga (kematian penciptanya + 50 tahun setelahnya)

Ada pula public domain yang terjadi karena dibuat oleh instansi publik, misalnya layanan kesehatan masyarakat. Jadi gambar-gambar penyuluhan kesehatan seharusnya bisa anda fotocopy dan sebarkan ke orang lain. Atau kalau butuh, foto-foto antariksa dari NASA bisa anda copy paste untuk dimasukkan ke blog atau makalah.

Nah.. kalau kita sudah punya alternatif sumber gambar dari public domain, tentu tidak perlu lagi melanggar karya-karya yang masih berhak cipta, kan?

Iklan

4 Responses to “Hak Milik Publik”


  1. 1 Sayap KU 30 November, 2007 pukul 7:44 am

    Pertamaxxx …

    be the first disini dulu, sekarang baru baca.. comment belakangan, DUH, kenapa Ade jadi ikut2an kaya blogger sih?

    -Ade-

  2. 2 Sayap KU 30 November, 2007 pukul 7:48 am

    Sekarang banyak sekali bermunculan seniman kreative yang lupa mendaftarkan hak ciptanya… rugi sebetulnya tapi mendaftarkan juga bukan perkara murah kan?

    -Ade-

  3. 3 warnetubuntu 30 November, 2007 pukul 6:20 pm

    kadang saya tidak habis pikir.. ‘mereka’ yg sering kita anggap ‘kafir’ malah menjunjung tinggi kejujuran dan penghormatan atas karya orang lain.. sedang kita yg mengaku ‘beriman’.. dengan cueknya ‘mencuri’ tanpa rasa bersalah.. *yg lagi belajar untuk tidak mencuri*

  4. 4 hariadhi 30 November, 2007 pukul 9:09 pm

    @Mba Ade
    Bener, mbak. Bukan masalah lupa saja sih, tapi keruwetan dan kemahalan mengurusnya. Tapi tanpa didaftarkan juga sebenarnya tiap seniman sudah punya hak cipta, walaupun perlindungannya jadi tidak resmi.

    @warnetubuntu
    hehehehe. betul.. betul… kafir juga ga selamanya berarti jahat kan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: