Harga Diri, di Mana?

Sebagai seniman, desainer, atau pengrajin, kadang penghargaan orang lain terhadap karya kita jauh lebih menyenangkan daripada segepok duit. Kadang orang-orang seperti kita berbuat gila, karya yang harganya milyaran bisa diberikan gratis hanya masalah suka. Atau kalau memang ga ada niat melepas, dikasih jaminan kemakmuran ekonomi tujuh turunan pun ga akan dipindahtangankan.

Nah.. tapi ya harga diri seniman itu kadang berlebihan, cenderung mengada-adakan masalah yang ga ada. Misalnya kalau saya fotografer, foto saya keliatan dari metadatanya dibikin pake kamera mahal, D100, orang malah bilang “Yailahhh… kamera lu mahal kok motretnya cuma segini”, atau “Motretnya di studio, pake 3 lampu. Fotonya cupu. Dasar borju!”

Saya kan jadi mikir, D100 sih D100, tapi ini pan minjam punya kampus. Lah saya mana bisa ngatur mereka supaya beli kamera yang murah-murah aja? Terus 3 biji headlamp yang sudah terpasang di studio kan rugi kalau ga saya manfaatin. Udah mending dipinjemin, mahasiswa melarat mau sok banyak bacot pula, hihihi.

Ya maksudnya bukan pengen nyombong, secara kualitas skill saya memang pas-pasan (apa yang mau disombongin, sih har!). Tapi apa mbok dengan demikian kalau saya pakai (pakai, lho.. bukan punya) kamera mahal terus ekspetasinya jadi tinggi? Setau saya sih dari dulu foto-foto saya emang jelek, mau pake D100 kek, D70 kek, D40kek, mau pake FM10 kek, mau pake kamera poket Olympus kek. Entah nanti tiba-tiba dari langit jatuh kamera large format, kek, tetap saja nilai kuliah fotografi amburadul! (eh kalau kamera jatuh mah udah rusak ya, ga bisa dipake. Heheh).

Ngalor-ngidul, Har.. Bahas apa sih, sebenarnya?

Ya.. maksud saya kenapa yah.. nilai seorang seniman harus dilihat dari peralatan apa yang dia pakai? Lah setahu saya seni apapun itu, mau lukisan, foto, digital art, xerox, grafis, patung itu kan curahan hati dan tangan senimannya. Jadi harusnya ga masalah mau pake kamera poket sekalipun, seperti juga harusnya ga ada masalah kalau besok saya bikin foto pake Nikon D2 yang terkenal mahal itu, tapi fotonya ga “dewa”.

Jadi buat apa kita menyerang atau memuji karya yang dibikin pake equip mahal, sebenarnya?

Iklan

9 Responses to “Harga Diri, di Mana?”


  1. 1 Sayap KU 28 November, 2007 pukul 2:33 pm

    Pertamaxx …. **lega..**

  2. 2 Sayap KU 28 November, 2007 pukul 2:35 pm

    Tapi untuk fotograper katanya memang mahalnya harga camera mempengaruhi hasil tapi tidak mempengaruhi jiwa seninya… dengan camera canggih tapi kalo gak punya jiwa, iya nol hasilnya.

    **Ade sok tahu…**

  3. 3 Sayap KU 28 November, 2007 pukul 2:36 pm

    Hetricxxxx … puas bisa kasih comment 3x berurut !!

    ** balik ke blog sendiri sambil terengah engah… **

    -Ade-

  4. 4 Mihael "D.B." Ellinsworth 28 November, 2007 pukul 4:50 pm

    Misalnya kalau saya fotografer, foto saya keliatan dari metadatanya dibikin pake kamera mahal, D100, orang malah bilang “Yailahhh… kamera lu mahal kok motretnya cuma segini”, atau “Motretnya di studio, pake 3 lampu. Fotonya cupu. Dasar borju!”

    Nah lho, itu yang menyebabkan orang Indonesia lebih betah tinggal di negara luar. Kalau di Amerika, mislanya, karya tersebut amat dihargai. Berbeda dengan Indonesia yang (mungkin) iri dengan karya anda. 😀

    Ngomong – ngomong saya jadi teringat oleh seseorang yang sering membicarakan tentang metadata. 😀

  5. 5 hariadhi 28 November, 2007 pukul 9:57 pm

    Hahaha, mbak Ade lagi kurang kerjaan..! 😀 (Ga pa pa kok).

    Betul, seharusnya yang dinilai dari sebuah seni tentu karyanya, seperti kita menilai permainan gitar bukan dari senar yang dipakai mahal atau ga. Mungkin senar mahal bikin suaranya lebih bagus, tapi bukan senarnya yang dipuji.

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Setuju, Mas Michael. Sebenarnya orang-orang yang butuh kreativitas seniman, seperti pihak advertising, komunikasi, public relation, ga perlu protes kalau seniman kita lebih senang berkiprah di luar.

    Dan ini bukan membual, lho. Kalau buka-buka buku fotografi pasti selalu ada nama-nama fotografer dari Indonesia. Jadi sebenarnya kita tidak kalah skill dan karya, tapi masyarakatnya yang senang menjatuhkan seniman itu sendiri.

  6. 6 kurtubi 29 November, 2007 pukul 1:24 am

    Yaa benar sekali alat itu hanya pendukung tah? yang penting dan diutamakan adalah hasilnya … begitu tidak maksudnya…
    maaf agak gak nyambung .. soale bukan seniman sejati…
    salam

  7. 7 hariadhi 29 November, 2007 pukul 2:21 am

    makasih buat dukungannya, mas. 🙂

  8. 8 T. Hartono 4 Desember, 2007 pukul 1:48 am

    Kalo karya fotografi emang alatnya suka harus dijabarin ya? Kalo karya desain paling softwarenya doang ya.. alatnya mah terserah.. Jadi gak bisa iri-irian soal alat.. Tapi gw sebel juga sama temen2 gw sesama designer freelance yg pake macbook PRO, yg mahal itu, tapi desainnya gak butuh segitunya tuh hardware.. dan padahal banyak alternatif murah yg mendekati macbook dgn harga setengahnya.. gini nih kalo cuma mampu beli notebook lokal.. hehe.. tapi nggak ngiri2 amat jg sih.. masih cukup self-esteem buat ngadepin klien yg nanya “notebook apa ini? koq ga pake mac?”.. langsung hati jerit: hasilnya gak bedaaaa! (bahkan proses pun gak jauh beda..).. dan di akhir kontrak si klien puas.. tuh kan! Pada hemat2 dong temen2.. mending dukung produk cina yg murah dan efektif.. hehe.. waduh.. maaf lho jd begini..

  9. 9 hariadhi 4 Desember, 2007 pukul 7:34 pm

    haha hihi

    iya..status desainer dilihat dari desainnya, bukan notebooknya. Kalau beli MacBook sih semua orang juga bisa, asal punya duit. Tapi itu ga bikin mereka jadi desainer, kan mas? hihihi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: