Apa Kabar, Jakarta!

tandakota.jpg

Dari sekian banyak pembaca blog ini mungkin beberapa ada yang dari Jakarta, atau kota besar lain. Mungkin juga kita telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di kota ini. Tapi berapa dari kita yang benar-benar meresapi kehidupannya?

Anda yakin cukup kenal? Kalau begitu siapa nama penyapu jalan yang kemarin baru lewat di depan rumah anda?

Kota besar tidak hanya bicara gedung menjulang, atau mal-mal penuh keramaian. Tidak pula harus bicara kekumuhan gubuk-gubuk di tepi kali. Banjir besar pun hanya pembicaraan besar tahun lalu. Kebanyakan orang sudah lupa rasanya sengsara mengungsi ke tempat yang lebih kering. Lah yang buang sampah sembarangan udah banyak lagi, kok.

Lalu apa yang ada di setiap sudut kota dan bisa dianggap paling tepat bersuara tentang kota besar? Banyak.

Bagaimana kalau saya sebutkan kata kontrakan? Semua sudah maklum dengan budaya urban yang satu ini. Bicara kota besar, tempat tinggal permanen bukanlah sebuah kebutuhan yang bisa dengan mudah dijangkau. Maka kita tidak perlu lagi malu menyewa kontrakan. Pindah-pindah alamat tiap 3 bulan juga bukan lagi hal aneh. Belum lagi fenomena apartemen dan rumah susun yang menjamur. Lengkap sudah masalah ini mengisi karya video dari Forum Lenteng dengan membawa kalimat “Kontrakan Kita”.

Bagaimana kalau pembantu? Masih dari Forum Lenteng, sesosok bernama Andy menelepon agen pembantu. Lebih tepat disebut iseng, ia berkeliling kota merekam reklame agen pembantu, lalu menanyakan banyak hal tentang kepembantuan dan bagaimana agen-agen itu memenuhi sekian banyak permintaan. Hasilnya bisa dinikmati dalam motion foto-foto dilatari percakapan Andy dan sang agen.

Atau pixelart? Dengan perkembangan dunia digital dan internet, kebutuhan gambar yang dirancang dengan hati-hati pixel per pixel jadi tinggi. Ketekunan seperti itu mungkin hanya milik Narpati Awangga. Ia berhasil menangkap banyak wajah kota Jakarta dengan karya-karyanya.

Tak kurang, ada pula topik mengenai teks dalam kota, ruang otonom sementara, dan ruang makan. Semua memperlihatkan caranya sendiri dalam memperlihatkan wajah sebuah kota besar, mengingatkan kita bahwa kehidupan di kota besar bukan sekedar pergi kerja, makan, dan pulang. Seniman-seniman yang tampil di sini siap membantu anda menjadi lebih sensitif terhadap identitas sebuah kota.

Dalam kalimat singkat, saya terkagum-kagum dengan pameran ini. Tanpa perlu memasukkan tema macet saja, rasanya sudah hiruk-pikuk. Suara rekaman satu dengan yang lain begitu tumpang tindih, tepat sekali membawakan suasana sebuah kota besar. Sensasi sehebat ini mungkin tidak bisa dijelaskan lengkap dalam sebuah blog, maka lebih baik datang saja sendiri ke Festival Tanda Kota di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki, hingga tanggal 30 November nanti.

Nikmati dan tenggelamlah dalam sebuah sisi lain kota besar yang jarang disadari orang lain!

Ngomong-ngomong, kok bisa-bisanya sampul katalog pameran ini mirip sama banner blog saya, ya? Hehehe.

Pameran ini juga dibahas di sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, sini, dan di sini. (lumayan ngetop juga, ya?)

Hak cipta katalog pameran milik DKJ. Saya upload dengan kepentingan fair use, dengan resolusi rendah.

Iklan

3 Responses to “Apa Kabar, Jakarta!”


  1. 1 Anonim 13 Juli, 2009 pukul 9:32 pm

    misz u jakarta

  2. 2 Defi Sofyan 19 Juli, 2010 pukul 2:37 pm

    Memang sih Jakarta di sebut Kota Metropolitan dari Kota kota yg lain di Indonesia yg lebih banyak penduduknya bahkan pendatang2 dari Daerah luar jakarta yaitu dari daerah Jawa maupun dari sebrang pulau Jawa.Mereka datang dan menghuni untuk dapat menjadi penduduk warga jakarta karna jakarta mudah mencari Uang sekaligus bisa mendapatkan pekerjaan apa saja baik Halal maupun yg Haram dan juga tidak luput dari kesengsaraan,Apalagi sekarang2 ini makin banyak kaum Urban,kaum Marzinal dan kaum Rentan yg menjamur mencari Nafkah dg segala cara apapun yg penting bisa dapat makan untuk menyambung hidup. Kalau kita amati dan melihat secara langsung kegiatan yg mereka lakukan di jalanan,Mereka dari kaum Marzinal dan kaum Rentan berupaya mencari uang dg Mengemis,memulung dan mengamen bahkan yg punya Modal kecil menjadi Pedagang Asongan Namun kegiatan mereka selalu di bayang2i dan di Razia,hingga mereka ketakutan dan mencari perlindungan kemana ? Ini adalah Tanggung jawab Pemerintah khususnya Pejabat2 dari DPR agar segera memperhatikan Kesejahteraan dan Sosialisasinya buat mereka.

  3. 3 Andy 3 Februari, 2011 pukul 1:55 am

    Ibu kota memang harus dipindahkan,krn jakarta sudah tdk mampu lg menampung setiap pendatang yg tiap tahun berdatangan.
    Lokasi strategis untuk ibu kota,bandung & surabaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: