So, Who is The Real Hero?

Heboh soal angkat-mengangkat pahlawan baru, saya jadi berpikir, kenapa ya dari dulu mindset kita tentang kriteria seorang pahlawan tidak bisa berubah? Kita cuma bisa mengangkat orang yang punya sejarah bombastis, legenda-legenda yang tidak habis dibahas, juga pertempuran kolosal bak cerita Angling Darma.

Bagi saya: pahlawan, atau bahasa kerennya hero, sejatinya bukanlah orang yang membiarkan dirinya tercatat sejarah. Mereka memulai perjuangannya dari hal-hal kecil. Mengerjakan apa yang tidak terpikirkan oleh orang lain, dan tentunya tidak tersorot kamera. Dan yang satu ini jauh lebih berat daripada apa yang dilakukan hero-hero yang sudah kita kenal. Butuh ketulusan hati, karena tidak ada yang namanya penghargaan ataupun liputan (jangankan TV, radio saja tidak). Karena kalau sudah terliput, maka ada keengganan melakukan hal-hal kecil itu, lebih sibuk mengurus bagaimana penampilan di depan kamera.

Kalau bisa dianalogikan, sebenarnya yang superhero itu bukan Batman yang kalau mau beraksi harus pakai sorotan dengan logo kelelawar dulu, ia sebenarnya adalah Alfred Pennyworth, pelayan setia yang mengurusi seluruh kebutuhan Bruce Wayne, mulai mengurusi pakaian hingga menjahit luka-luka sisa pertempuran.

Ia juga adalah Robert The Bruce, yang bisa kita sebut pengecut karena tidak seberani Sir William Wallace dalam bertempur (namun kemampuannya bernegosiasilah yang membuat Skotlandia bisa setara dengan England, bukan pertempuran-pertempuran ceroboh Wallace).

Ia mungkin juga adalah seorang Hans J Wospakrik, peneliti Fisika yang diakui banyak ilmuwan asing yang tidak pernah menyebut dirinya “pakar”. Ia hidup sederhana. sementara pemerintah tak mau banyak-banyak membantu penelitiannya, jangankan untuk mengangkatnya sebagai fungsionaris partai.

Bagi seorang real hero, medali penghargaan tidaklah berarti apa-apa. Kepingan logam itu bukan tujuan mereka sejak awal. Bukan pula pertempuran-pertempuran besar. Karena mereka tahu ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan. Biarlah para “pahlawan” yang terus disorot media dan catatan sejarah yang mengerjakannya.

Pahlawan yang Mahasiswa

Maka ketertarikan saya mengarah kepada perjuangan mahasiswa. Terutama kepada film Gie. Pada dasarnya Gie adalah hero yang hebat. Ia juga tak pernah membiarkan dirinya banyak-banyak tersorot media. Namun saat kini filmnya sudah ramai ditonton dan buku kumpulan tulisannya sudah dibeli banyak orang, apakah kita berharap semua pahlawan dari kalangan mahasiswa harus seperti Gie?

Mahasiswa yang true hero mungkin tidak lagi dituntut turun ke jalan, karena mereka mengerti sudah banyak mahasiswa lain yang melakukannya. Mahasiswa yang hero sejati mungkin sekarang sedang banyak merenung di pojokan, berpikir kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk mengangkat pengamen jalanan jadi penyanyi profesional, biar anak-anak  kecil di negara ini bisa lebih bebas mengakses informasi dari internet, menciptakan peluang bisnis lebih banyak supaya pengangguran bisa teratasi. Oh,mereka  tidak merenung, mereka terpanggil untuk berbuat sesuatu.

Orang-orang seperti ini mungkin akan terkagum-kagum melihat semangat Gie, tapi tidak hendak mengikuti seluruh langkahnya secara membabi-buta.

Bisa jadi untuk menjadi mahasiswa yang the real hero kita cuma mengembalikan kantong plastik ke tong sampah. Kita jadi the real hero, karena kita tahu rakyat benar-benar sudah menderita akibat banjir gara-gara sampah terus menyumbat saluran air.

Maka saya segera ingat ucapan pacar saya:

Lah… definisi Hero di Indonesia itu aneh banget! Di Amerika, kalau lu patah tulang gara-gara nyelamatin kucing yang ga bisa turun, lu bisa dikeprokin seisi kota. Nah, di Indonesia, biarpun sampai meninggal tertembak gara-gara membela orang yang dirampok pun nama lu cuma masuk koran sehari, itupun cuma di sudut.

Ain’t It Weird? 

Tulisan ini terinspirasi diskusi bertiga antara saya, pacar, dan Pak Zukra tadi sore. Makasih buat pencerahannya,pak!

3 Responses to “So, Who is The Real Hero?”


  1. 1 andrias ekoyuono 13 November, 2007 pukul 10:10 am

    Pahlawan selalu di masa lalu, yang kita cari adalah pahlawan-pahlawan masa sekarang, ayo cari pahlawan anti kemacetan !

  2. 2 hariadhi 13 November, 2007 pukul 10:22 am

    Nah… pahlawan anda orang yang bisa mengatasi kemacetan. Hayo yang lain, kriteria pahlawan anda seperti apa?

  3. 3 alex 13 November, 2007 pukul 12:07 pm

    Jadi ingat lirik dari Homicide lama dulu:

    Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari Kurusetra
    Namun dalam bentuk donasi mie instant di tengah bencana

    Masalah utama itu pada akhirnya berbuat. Apakah akan didefinisikan sebagai pahlawan, seseorang yang oportunis ataukah karena kurang kerjaan, serahkan saja penilaiannya pada masyarakat dan sejarah yang akan mencatat…😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Bumi Magenta!

Arsip

Bebas bertanggung jawab

Tulisan di blog ini ada di bawah lisensi Creative Commons with attribution 2.5. Syarat untuk menyalin blog ini adalah menyertakan url blog ini sebagai sumber.
November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d blogger menyukai ini: